Mengantisipasi Langkah Remaja Terhadap Kasus Klitih di Yogyakarta

radarsorongnews.com – Berbagai jenis kenakalan yang berujung menjadi kasus kriminal memang sering terjadi di Indonesia. Salah satu kasus yang dimaksud, adalah klitih. Klitih, merupakan kasus kenakalan remaja yang disebabkan oleh banyak faktor dan sedang menjadi fenomena mengerikan di Yogyakarta. Mengantisipasi kasus klitih remaja senantiasa menjadi sorotan banyak orang. Pasalnya, para pelaku klitih bukan hanya kalangan dewasa saja, melainkan diikuti oleh remaja yang masih dalam masa pertumbuhan. 

Para remaja pelaku klitih di Yogyakarta (ilustrasi) (Sumber Foto : republika.co.id)

Bisa dikatakan pula bahwa klitih adalah tindakan pencegahan, perampasan, penganiayaan, hingga penjambretan yang dilakukan oleh sekelompok pelajar. Hal ini dengan sengaja dilakukan oleh para pelaku dengan tujuan mendapatkan pengakuan. Klitih bukan hanya memangsa kalangan pelajar lain saja, melainkan juga telah menyasar ke kalangan orang umum. Kini, sudah banyak sekali korban klitih yang mengaku menjadi sasaran empuk ketika melakukan sedikit kesalahan. 

Contohnya, adalah tidak sengaja menyenggol motor salah satu anggota pelaku. Sebagai informasi sekedar, pada beberapa waktu lalu, terdapat salah satu korban yang mengaku bahwa dirinya menjadi korban atas kasus klitih tersebut. Kronologi pun diungkapkan bahwa dirinya dikejar oleh rombongan pelaku hingga ke jalan daerah terpencil, kemudian dianiaya. Penyebabnya, adalah tidak sengaja menyenggol motor salah satu anggotanya yang sedang konvoi beramai-ramai di jalan besar. 

Seiring berjalannya waktu, tindak kriminal yang dilakukan oleh kalangan remaja itu bukan hanya ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta saja, melainkan telah tersebar di sekitarnya. Tentunya fenomena mengerikan yang satu ini sangat meresahkan. Karena, para warga yang berlalu-lalang pun menjadi takut dan tidak bisa mengendarai dengan tenang. Untuk mencegah kalangan remaja terjerumus dan menjadi anggota pelaku klitih, seorang ahli kriminolog Indonesia, yakni Haniva Hasna M, turut memberikan solusi serta saran. 

Menurutnya, harus ada kerja sama yang dilakukan oleh pihak keluarga, Lembaga Pendidikan, sekolah, masyarakat, pihak kepolisian, dan juga komunitas keagamaan. Kerja sama ini dianggap sangat efektif untuk menghentikan dan mengantisipasi kasus klitih remaja yang semakin mengkhawatirkan. 

“Upaya yang bisa dilakukan atas fenomena tindak kejahatan oleh rombongan pelaku klitih, adalah pengawasan orang tua. Orang tua harus selalu mengawasi anak mereka untuk tidak terjerumus sebagai pelakunya. Mengapa? Karena, orang tua adalah orang terdekat yang bisa memberikan bimbingan terbaik kepada anak. Sehingga, anak pun mendapatkan arahan sesuai dengan tata krama maupun sopan-santun sesuai kalangannya,” ujar Iva, begitulah nama panggilannya, yang kami lansir dari sumber Health Liputan6.com, pada beberapa waktu lalu. 

Tidak berhenti disitu saja, Iva turut menambahkan, bahwa seharusnya keluarga memberikan pengetahuan tentang pembentukan nilai dan norma-norma remaja di ruang publik. Menurutnya, keluarga juga harus dilibatkan karena dianggap sebagai komunitas terkecil di lingkungan masyarakat. Pembatasan aktivitas di malam hari juga harus selalu diketatkan oleh para orang tua, sehingga anak tidak menjadi pelaku klitih di malam hari. 

“Apabila orang tua bisa memberikan pengawasan yang ketat, maka kejahatan dan tindakan klitih di malam hari bisa diantisipasi dengan mudah,” ujarnya. Adapun ketahanan keluarga yang harus selalu dilakukan demi menangani kasus klitih, adalah sebagai berikut:

 

        Berikan rasa saling mencintai kepada anak.

        Berikan pengetahuan tentang saling menghormati.

        Harus menjaga komitmen ketika keluar rumah.

        Selalu berikan rasa tanggung jawab.

 

“Apabila kondisi-kondisi tersebut bisa dilakukan dengan maksimal oleh sebagian besar keluarga di Yogyakarta, maka kemungkinan besar ketahanan keluarga akan menjadi obat paling mujarab menangani fenomena kriminal ini,” ujar Iva. Menurutnya, ketahanan keluarga yang kuat sangat diperlukan oleh kalangan remaja. Mengapa demikian? Karena, kalangan remaja memiliki kestabilan yang kurang. Kontrol diri tidak akan lemah ketika dirinya mendapatkan dukungan dari keluarga. 

Dalam fase ini, bisa dikatakan pula bahwa anak membutuhkan pengakuan serta eksistensinya. Secara psikologis, anak remaja masih memiliki kontrol diri lemah. Bisa saja kalangan remaja melakukan perilaku sangat baik terhadap orang disekitarnya. Namun, mereka juga bisa melakukan tindakan buruk agar mendapatkan pengakuan dari lingkungan disekitarnya. Inilah yang harus dijadikan patokan oleh keluarga, sehingga proses mengantisipasi kasus klitih remaja bisa benar-benar berguna. Dengan begitu, kasus klitih tidak lagi mengancam nyawa banyak orang hanya karena kenakalan remaja yang ingin mendapatkan pengakuan. 

Previous post Kaya Akan Nutrisi, Manfaat Telur Ayam Kampung Sangat Melimpah!
Next post Harga Minyak Goreng Sempat Meroket Tajam, Makassar Kesulitan