oleh

Menakar Kualitas Ibadah Puasa

Oleh : Agung Sibela, S.Ag.*

Puasa adalah amalan rahasia dan tiada didalamnya amalan yang diperlihatkan, ­berbeda dengan ibadah-ibadah yang lainnya, juga ­karena puasa itu adalah rahasia yang tidak ­diketahui oleh seorang pun kecuali Allah SWT, maka dia menjamin ­balasannya. 

Puasa adalah ibadah yang tidak dapat dijangkau indra manusia pada umumnya, karena manusia tidak akan mengetahuinya kecuali Allah SWT dan orang yang berpuasa itu sendiri, maka jadilah ibadah puasa merupakan ibadah antara Allah SWT dan hamba itu, karena puasa itu ibadah dan bentuk ketaatan yang hanya diketahui Allah SWT, maka dia menghubungkan puasa itu pada Dzat-Nya. Allah berfirman yang artinya:”Puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”.

Puasa itu sendiri ada yang disebut sebagai puasa orang-orang awam (umum) yaitu puasanya orang-orang awam yang hanya mengekang, menahan perut dan keinginan syahwatnya. Ada juga yang disebut puasa orang-orang khusus, maksudnya adalah puasa orang-orang yang sholeh mengekang semua anggota tubuh untuk tidak berbuat dosa, yang tidak akan sempurna kecuali dengan menekuni beberapa hal diantaranya ;  Menahan mata dari leluasanya pandangan kepada sesuatu yang tercela dan apa yang di benci Allah SWT,   Menjaga lidah dari senda gurau yang tidak berguna terlebi-lebih dari ghibah (membicarakan aib orang lain), bohong, namimah (adu domba), serta sumpah palsu. 

Menjaga pendengaran untuk tidak mendengar apa-apa yang dibenci Allah SWT. Mengekang semua anggota tubuh dari hal-hal yag dibenci Allah SWT, mengekang perut dari perkara-perkara syubhat (tidak jelas halal dan haramnya) ketika berbuka puasa, karena tidak ada artinya berpuasa dari makana halal kemudian berbuka dengan makanan haram, perumpamaannya adalah seperti membangun sebuah gedung tetapi menghancurkan kota yang telah ada. Tidak memperbanyak makan makanan halal ketika berbuka puasa sehingga penuh perutnya dan leluasa syahwat berkembang, sehingga tujuan puas yang sebenarnya yaitu mengekang nafsu syahwat tidak tercapai sama sekali.

Yang terakhir apa yang disebut dengan Puasa orang yang lebih khusus, adalah puasa hati dari tujuan-tujuan rendah dan pemikiran tentang duniawi serta menahannya dari segala hal selain Allah SWT sama sekali. Jadi seandainya orang yang berpuasa itu berpikir tentang sesuatu selain Allah SWT maka batallah puasanya. Puasa seperti ini adalah puasanya para Nabi, Shiddiqiin (benar alam imannya), pada hakikatnya puasa seperti ini adalah menghadap Allah SWT sepenuhnya tanpa berpaling dari selainNYA sedikitpun.

Tetapi ada yang mengatakan bahwa dihubungkannya puasa dengan Dzat-Nya adalah karena puasa adalah ibadah yang tidak pernah digunakan seorangpun untuk menyekutukan Allah SWT, karena ada yang menyembah berhala dan sujud kepadanya, bersembahyang kepada matahari dan bulan, bersedekah untuk berhala, sholat tetapi ingin dilihat dan dipuji manusia, tetapi tidak ada dari kalangan orang-orang jenis ini yang berpuasa untuk berhala, untuk matahari, bulan, melainkan hanya beribadah murni kepada Allah SWT, karena kemurnian itulah Allah SWT menghubungkan puasa denga Dzat-Nya.

Allah Ta’ala telah mengaruniakan kenikmatan yang luar biasa besar kepada seluruh hamba-Nya yaitu dengan memberikan suatu amalan yang dapat digunakan untuk menolak tipu daya iblis, untuk mematahkan  segala usaha busuknya, mengecewakan angan-angannya, itulah puasa, itulah benteng, itulah perisai yang kokoh bagi kekasih-kekasih Allah SWT, hadits : ”Asshaumu junnah” yang artinya: puasa itu perisai.

Allah SWT berfirman yang artinya: ”Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar itulah yang dipenuhi pahalanya tanpa ada hitungannya” (QS. Azzumar:10), Nabi SAW bersabda: ”Puasa adalah separuh kesabaran” (HR.Tirmidzi&Ibnu Majah) Jelaslah dalam ayat diatas bahwa puasa itu telah melampaui batas perkiraan dan perhitungan, rasanya untuk mengokohkan itu cukuplah kalau kita mengetahui betapa besar keutamaan puasa itu. 

Puasa adalah rahasia antara Allah SWT dan hambanya. Di surga kelak terdapat satu pintu gerbang surga yang bernama Arrayyan, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa, jika telah dilewati gerbang tersebut oleh orang yang berpuasa maka secara otomatis tertutup dengan sendirinya sehingga tidak dapat dimasuki orang-orang lain kecuali orang yang berpuasa.

Disebutkan dalam kitab Taurat, ”Berbahagialah orang yang melaparkan dirinya pada hari pesta makan besar, berbahagialah bagi orang yang menghauskan dirinya pada hari pesta minum besar, berbahagialah bagi orang yang meninggalkan keinginan syahwat yang datang, untuk menyongsong hari yang dijanjikan yang tidak ditentukan kapan harinya, yang tidak ia ketahui, dan berbahagialah orang yang meninggalkan hidangan makanan pada kehidupan ini untuk kehidupan yang  buahnya tidak henti-henti begitu juga naungannya”.

Sayyidina Ali bin Thalib r.a. beserta istri Sayyidatunaa Faathimah Azzahra r.a, anak-anaknya Al-hasan r.a dan Alhusein r.a, berpuasa hingga tiga hari berturut-turut tanpa berbuka, karena setiap hendak berbuka datang seseorang yang meminta sedekah makanan dari mereka sehingga mereka serahkan makanan untuk berbuka itu kepada orang-orang tersebut, mereka lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada mereka sendiri. Lalu Allah SWT memerintahkan kepada Malaikat Jibril a.s untuk mengabarkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah SAW, Rasulullah pun mendatangi kediaman mereka dan memeluk mereka sambil bercucuran air mata terharu dengan perjuangan dan keikhlasan mereka, inilah nilai besar dari sebuah ritual ibadah puasa  yang dilaksnakan ­dengan penuh kesungguhan. Wallahu’alam bishawab. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed