oleh

Maria, Putri Tambrauw Penulis Cerita Anak Berkonteks Papua

“Buah Matoa dari Papua” Karya Terbaiknya

Kurangnya buku bacaan berkonteks Papua bagi anak-anak, menjadi salah satu alasan Maria Baru menjadi penulis buku cerita anak. Naskah terbaik miliknya “Buah Matoa dari Papua” menjadi langkah awal bagi Maria untuk mewujudkan keinginannya. 

Namirah Hasmir, Sorong

PERKEMBANGAN literasi di wilayah Sorong Raya beberapa tahun terakhir semakin terlihat. Terbukti, cukup banyak putra putri Papua yang berhasil meraih prestasi di dunia literasi. Salah satunya, Maria Baru (29), putri Papua asal Tambrauw Provinsi Papua Barat.  Bulan Juli lalu, tepatnya Senin (22/7), Maria berhasil meraih penghargaan atas naskah terbaik pada sayembara penyusunan bahan bacaan literasi jenjang pramembaca tahun 2019 yang diadakan Balai Bahasa Papua. Maria terpilih menjadi salah satu dari 5 penulis naskah terbaik bersama Dzikri J.R, Zahraa Syahidah, Yeni Yulia Andriani dan Zakkiyah. 

Buah Matoa dari Papua merupakan naskah terbaik yang ditulis oleh Maria. Alasan Maria mengangkat buah matoa dalam naskahnya, untuk memperkenalkan asal usul buah matoa yang merupakan buah asli dari Papua.  “Dalam ceritanya, seorang anak Papua menjelaskan asal buah matoa dari Papua kepada anak kecil dari luar Papua,” kata Maria yang ditemui di SD Inpres 63 Kabupaten Sorong, Minggu (8/8). 

Untuk menyelesaikan naskah tersebut, ia membutuhkan waktu kurang lebih 2 minggu. Meski mempunyai Hobby menulis, Maria tetap mengalami kendala saat menulis naskah atau cerita anak, khususnya yang berkonteks Papua. 

Menurut Maria, penulisan cerita anak dengan cerita pendek ataupun essay sangat berbeda. Penggunaan kata dalam cerita anak menjadi tantangan, dimana kata yang digunakan harus dapat dipahami oleh anak-anak.  “Tantangannya, kita harus bisa menggunakan kata-kata yang dipahami oleh anak-anak, sehingga tulisan yang kita tujukan ke anak-anak disukai dan menambah semangat mereka untuk membaca,” jelasnya.

Selain itu, illustrator juga menjadi kendala bagi Maria dalam pembuatan ilustrasi pada cerita anak. Sulitnya mencari illustrator di Kota Sorong, ia berharap agar kedepannya dilakukan pelatihan untuk membuat ilustrasi sehingga illustrator di Sorong tidak sulit lagi ditemukan. 

Meski banyak kendala yang dialami, Maria terus mendapatkan motivasi dari salah seorang pegiat literasi, Dayu Rifanto yang ia kenal sejak November 2018 lalu. Kurang lebih 8 bulan, Maria mengenal Dayu, cukup banyak ilmu yang ia peroleh tentang literasi.  “Kak Dayu yang memotivasi saya, sampai akhirnya saya berhasil menuliskan 1 naskah yang menjadi naskah terbaik,” jelas Maria, anak ke 2 dari 4 bersaudara.

Untuk itu, ia bertekad untuk membuat cerita anak sendiri, agar anak-anak di Papua memiliki banyak buku lokal Papua, baik itu kebudayaan ataupun cerita rakyat. Tidak ingin sendiri, Maria juga ingin mengajak mahasiswa Papua untuk lebih dekat dengan dunia literasi. “Dari literasi, hal kecil bisa membawa kita ke perubahan yang lebih besar,” imbuhnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed