oleh

Mahasiswa Tolak Rencana Pembangunan Makodim Tambrauw

-Tambrauw-920 views

SAUSAPOR – Persatuan Mahasiswa Tambrauw (Permata) yang mengenyam pendidikan di Manado Sulawesi Utara, menolak pembangunan Kodim di Kabupaten Tambrauw. hal tersebut di katakan Ketua Mahasiswa Tambrauw Sulawesi Utara, Yustus Yekwam dalam realesnya kepada Radar Sorong kemarin (21/10).

Menurut Yustus, pemekaran Kabupaten Tambrauw adalah hasil perjuangan murni oleh lembaga masyarakat adat, sehingga hadirnya Tambrauw, merupakan sebuah doa sulung pada Tuhan. Terbukti hal ini sebagai sebuah prestasi murni oleh masyrakat sekaligus warning agar Pemerintah Tambrauw, terutama pemangku kepentingan elit jeli dalam Pembangunan untuk memperhatikan hak-hak dasar Masyarakat Tambrauw serta meningkatkan kesejahteraan.

“Teringat latar belakang tersebutlah sehingga kami mahasiswa/i, Tambrauw di Manado dan Mahasiswa Peduli Tambrauw menyikapi, program kerja kunjungan KASDIM 1802 Sorong bersama rombongannya ke Sausapor Kabupaten Tambrauw, pada akhir September 2019, telah mengejutkan bahwa  kenapa ada Pembangunan Kodim (Komando Distrik Militer) di Kabupaten Tambrauw Papua Barat,” ungkapnya.

Kata Yustuw, paradigma Pembangunan Kodim di Tambrauw yang kedepannya sebagai Makodim (Markas Komando Militer) akan memiliki konsep/strategi pengamanan pada wilayah di Kabupaten Tambrauw, lebih ekstrimnya berpihak pada pemangku kepentingan Pejabat yang nantinya menimbulkan Konflik horizontal dan vertikal tentunya akan terjadi di Masyarakat, terutama marga Orang Abun yang mempunyai tanah Ulayat seperti, marga Yenyau,Yeblo, Yesnath, Yembra dan Yessa, oleh karena itu para mahasiswa tegas menyampaikan kepada masyarakat Tambrauw khususnya orang Abun jangan sekali-kali menjual tanah tanpa persetujuan semua pihak yang mendiami tanah adat Tambrauw.

Ditambahkan mahasiswa lainnya, Nus Susim, menilai pembangunan Kodim di Tambrauw tidak tepat pada kebutuhan, jika pembangunan tetap dilakukan nantinya, maka akan menjadi tekanan psikologi bagi masyarakat sekitarnya yang berkebun ataupun nelayan menjadi tidak bebas karena ini menjadi ingatan kolektif masyarakat pada umumnya. Hal ini juga dilatarbelakangi daerah Tambrauw menjadi tempat yang bersejarah yaitu pada perang Dunia II Amerika Serikat dan Jepang pada tahun 1939-1945.

Menurutnya, pembangunan ini tidak  ada kejelasan atau keterbukaan pada empat suku besar yang mendiami Kabupaten Tambrauw yakni, Abun, Meyah, Ireres, dan Empur, Masyarakat Tambrauw membutuhkan pendidikan, bukan Pembangunan Kodim. (raf).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed