oleh

LP3BH Dampingi Tersangka Penyerangan Posramil Kisor

Warinussy : Kami Terima Laporan, Warga di 24 Kampung Mengungsi

MANOKWARI – Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari memastikan akan memberi bantuan hukum kepada MY yang saat ini diduga telah ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Polres Sorong Selatan. Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy,SH mengemukakan, MY telah ditetapkan sebagai tersangka  atas tuduhan terlibat ”penyerangan” berakibat terbunuhnya 4 prajurit TNI AD di Posramil Kisor Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Kamis (2/9) lalu. 

PMB OPBJJ-UT Sorong

Warinussy mengatakan, berdasarkan amanat Pasal 54, Pasal 55 dan Pasal 56 UU No 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan UU No 18 Tahun 2003 tentang Advokat, LP3BH akan memberi bantuan hukum bagi MY. LP3BH sekaligus meminta kepada Kapolres Sorong Selatan selaku penyidik memberi akses bagi kehadiran tim pengacara yang akan memberi bantuan hukum kepada saudara MY selaku tersangka.

“LP3BH Manokwari sedang mempersiapkan tim bersama untuk memberi bantuan hukum bagi segenap terduga yang dituduh terlibat dalam peristiwa Kisor tersebut demi tegaknya hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta posisi Indonesia sebagai Negara Hukum,” kata Warinussy kepada wartawan, Senin (6/9).

Selain itu, Warinussy juga meminta dengan hormat kepada Panglima Kodam XVIII/Kasuari dan Kapolda Papua Barat agar dalam melaksanakan operasi pengejaran terhadap para terduga pelaku penyerangan Posramil Kisor, kiranya memprioritaskan keselamatan, keamanan dan kenyamanan dari warga asli Papua asal kampung di sekitar Kisor,  Distrik Aifat Selatan maupun Distrik Aifat Timur dan Distrik Aifat Timur Tengah.

Warinussy mengatakan pihaknya telah menerima informasi dari sumber di ketiga distrik tersebut bahwa diperkirakan sekitar 500-700 warga penduduk asli mengungsi ke luar dari kampung halamannya. “Alasan pengungsian karena mereka takut adanya operasi penyisiran yang dikhawatirkan menyasar warga sipil,” ujar Warinussy. 

Dikatakan, sekitar 18 kampung di Distrik Aifat Selatan yaitu Kampung Kisor, Krus, Imson, Buohsa, Asiaf Saman, Fuog, Fuog Selatan, Sorry, Awet Maim, Roma, Tolak, Kaitana, Yeek, Same Rakator, Sanem, Tahsimara, Hira Iek dan Tahmara, penduduk pada kampung-kampung tersebut telah mengungsi. 

Pihaknya lanjut Warinussy, juga menerima informasi bahwa ada sekitar 6 kampung di Distrik Aifat Timur yang warganya telah mengungsi yaitu Kampung Aisa, Aikrer, Sawin, Wakom, Sahbuku dan Aitrem. “Dengan demikian, kami meminta dengan hormat agar operasi penyisiran yang sedang dilakukan oleh pasukan TNI dan Polri tidak menyasar gedung sekolah, puskesmas atau pustu atau balai kampung untuk digunakan sebagai pos militer atau pos jaga. Ini penting demi pemulihan situasi kampung-kampung tersebut pasca operasi tersebut,” tandasnya.

Dia menyarakan, perlu ada upaya menggalang kerjasama di antara TNI dan Polri dengan Gereja Katolik maupun Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua guna menyelamatkan warga sipil dari sekitar 24 kampung yang mengungsi di Distrik Aifat Selatan dan Distrik Aifat Timur tersebut. “LP3BH Manokwari memohon adanya perhatian Gubernur Papua Barat dan Bupati Maybrat terhadap keselamatan para warga  masyarakat sipil yang tidak berdosa dari ancaman kekerasan dengan tetap mengedepankan langkah penegakan hukum bagi para pelaku penyerangan Posramil Kisor tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu, satu orang yang diduga pelaku penyerangan Posramil Kisor, Distrik Aifat Selatan, Maybrat, Papua Barat, yang menyebabkan empat anggota TNI gugur, kembali diamankan. Pelaku disebut mengakui perbuatannya. ”Sekarang ini kami sudah menangkap tiga orang,” kata Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVIII/Kasuari, Kolonel Art Hendra Pasilerron seperti dilansir detikcom, Senin (6/9).

Hendra mengatakan pihaknya sudah mengantongi nama-nama terduga pelaku yang berjumlah puluhan orang tersebut. TNI-Polri terus memburu para pelaku. ”Kami sudah mengantongi nama-nama mereka yang puluhan itu. Kita gerak cepat,” ucapnya. Hendra mengatakan terduga pelaku ketiga ditangkap, Minggu (5/9). Namun, Hendra belum membeberkan dengan rinci di mana dan bagaimana pelaku diringkus. ”Kemarin ya (penangkapannya),” sebut Hendra.

Dia menyebut ketiga pelaku telah membenarkan keterlibatannya dalam penyerangan Posramil Kisor. TNI menduga jumlah pelaku berkisar antara 20 hingga 30 orang. ”Yang jelas dia mengakui perannya di situ. Mereka bertiga sudah mengakui terlibat atas penyerangan dini hari kemarin,” tutur Hendra. ”Untuk jumlah penyerang terbaru, kita nggak bisa juga 100 persen percaya dengan omongan mereka. Jadi sampai saat ini jumlah pelaku yang kami perkirakan masih 20-30 orang. Ini kan masih pendalaman,” sambung Hendra.

Tiga dari puluhan terduga pelaku penyerangan Posramil Kisor yang menyebabkan empat anggota TNI gugur, yang telah diamankan, masih menjalani pemeriksaan intensif. Saat diperiksa, mereka mengungkapkan pemicu penyerangan. ”Karena mereka berseberangan dengan NKRI. Mereka merasa berseberangan. Kami kan mengajak masyarakat yang baik, ayo membangun kampung, ayo belajar bersama-sama, ayo kita produktif, ayo kita ibadah bersama-sama,” kata Kolonel Hendra Pasilerron.

”Bahwa masyarakat Papua sudah cerdas dan malah sudah muak dengan ajakan-ajakan, teriakan-teriakan ’Papua Merdeka’. Mereka ingin hidup tenang dan damai untuk masa depan anak-anak dan generasi muda ke depan membangun Papua di bawah NKRI,” lanjut Hendra. Hendra mencontohkan saat momen Kemerdekaan RI ke-76. Menurut dia, warga setempat terlihat antusias. ”17 Agustus kemarin ramai di sini. Masyarakat antusias sekali memperingatinya,” ujar Hendra.

Hendra menyimpulkan, dari hasil pemeriksaan, kelompok penyerang Posramil Kisor, iri dengan pengaruhnya di masyarakat yang terkikis.  ”Dari hasil interogasi kita kepada yang sudah ditangkap, bisa diambil kesimpulan awal mereka gerah. Mereka merasa apa yang mereka yakini, ideologi mereka kalah dengan Pancasila,” ungkap Hendra.

Hendra menyebut memang masyarakat Maybrat sudah menyadari pengaruh negatif kelompok berseberangan dengan NKRI dalam keseharian mereka. Masyarakat di Papua Barat, sebut Hendra, menyibukkan diri dengan hal-hal yang dianggap positif. ”Masyarakat sendiri kan seiring waktu yang merasakan sendiri, kok ajaran mereka tidak benar. Lebih banyak manfaatnya menggali potensi diri dan memajukan kampung kita, tanah kita, masyarakat kita dengan rajin belajar, beribadah, bersaudara, terus bekerja,” tutur Hendra. ”Itu mereka merasa pengaruh mereka kalah. masyarakat tidak bisa dipengaruhi untuk melakukan kekerasan dan teror-teror seperti yang mereka ajarkan,” imbuh dia.

Hendra juga menyebut peristiwa penyerangan Posramil Kisor mencengangkan banyak pihak di Papua Barat. Dia pun menegaskan kelompok itu bukan cerminan karakter warga Papua. ”Semua tercengang. Tetapi saya katakan, orang yang sudah berbuat keji dan sadis seperti itu bukan orang Papua. Saya yakin bahwa tanah Papua adalah tanah yang diberkati, tanah Injil. Makanya di sini itu setahu kami orang Papua berhati lembut, cinta kasih,” ucap Hendra. ”Kalau kita di Jawa, kita ke pasar, belanja pakai bahasa Jawa nawarnya. Kalau di Papua ini Indonesia banget, semua suku ada di sini, pakai Bahasa Indonesia. Masyarakat setempat ini orang yang terbuka, mereka penuh kasih, penuh persaudaraan,” sambung Hendra.  (lm/**/aud/detikcom)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed