oleh

Literasi Gerakan Strategis di Tanah Papua

-Metro-318 views

SORONG-Generasi Papua disebut-sebut menjadi ‘generasi emas’ di atas tanahnya sendiri, namun hingga kini masih banyak anak-anak Papua yang mulai asik dengan dunianya tanpa memperhatikan pendidikan yang merupakan jalan menuju ‘generasi emas’.

Melihat hal tersebut, pengiat literasi Frengki Gifelem mengungkapkan untuk menyelamatkan generasi Papua dari keburukan. Satu-satunya melalui gerakan Literasi dengan menciptakan minat baca yang harus menjadi agenda strategis.  Sebab, sambung lelaki 25 tahun tersebut, minat baca menjadi tantangan serius dalam memajukan dunia pendidikan.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Membaca sesuatu dengan baik merupakan sumber pengetahuan yang mulia dan harus dilakukan secara terus menerus oleh generasi muda untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Namun, rendahnya minat baca pada generasi muda akan menyebabkan kualitas dan mutu pendidikan di daerah juga hanya berjalan di tempat atau bahkan mundur.

 “Membaca merupakan salah satu faktor utama dalam menuju kecerdasan. Turunnya minat baca dan terabaikan upaya-upaya membangun budaya membaca diyakini akan memperburuk kualitas generasi Papua,”jelasnya kepada Radar Sorong.

Oleh karena itu, sudah semestinya pemerintah dan permerhati literasi mendorong dan lebih memaksimalkan lagi dalam menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca pada generasi muda dengan memperbanyak kegiatan membaca, baik di sekolah maupun di rumah hingga pengadaan sarana dan prasarana seperti penyediaan buku bacaan dan pelajaran baik perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah maupun taman-taman bacaan.

“Pemerintah dan pemerhati literasi harus proaktif mengajak masyarakat untuk gemar membaca. Banyak upaya yang bisa dilakukan, di antaranya, memotivasi setiap anggota keluarga untuk gemar membaca, mendorong para guru di sekolah untuk menekankan pentingnya membaca buku setiap bulan, minimal satu buku per bulan,”ungkapnya.

Diakui Frengki gerakan literasi ini berawal dari keluhan dari para orang tua, guru, dan kalagan lainnya. Karena belum ada langkah strategis yang membuat anak-anak Papua beralih pada hal-hal yang lebih positif. Tapi jika membiarkan mereka semakin asyik dan terasing dengan dunia maya, miras, menghirup bensin, menghirup lem pipa, dan lainnya, tentu menjadi persoalan yang berbahaya. 

“Oleh karena itu konsep pendidikan yang kami pake saat ini adalah jalan tengah untuk menemukan jalan baru bagi perbaikan sistem di tanah Papua. Gerakan ini bukan karena ada kepentingan terselubung, tapi ini murni gerakan untuk kemanusiaan. Untuk mempersiapkan dan mencerdaskan anak-anak Papua,”pungkasnya.(juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed