oleh

Listrik Pedesaan Menerangi Gelap Malam di Pedalaman Papua

SUDAH 98 persen desa di pedalaman Papua dan Papua Barat  diterangi listrik di malam hari. Total daya yang ada bisa menjamin kebutuhan listrik di berbagai kota-kota Papua dan Papua Barat.  Di tengah percikan badai Covid-19 yang merayap sampai ke pedalaman Kabupaten Jayapura, petugas PLN terus bergerak di lapangan. Hasilnya, jaringan tegangan menengah (JTM) listrik Papua menembus medan berbukit -bukit yang satu ruas di antanya, sepanjang  8 km, melewati Distrik Kereuh. Maka, sejak awal  Juni 2000 lalu ada tambahan daya  tenaga listrik mengalir deras di wilayah Distrik Kereuh yang berjarak 110 Km dari Jayapura.  “Akhirnya kami bisa menikmati listrik siang dan malam,” ujar Okto Lamba, Kepala Kampung Lapua Distrik Kereuh. 

Menurut  Okto Lamba, kehadiran listrik 24 jam sudah bertahun-tahun didambakan warganya.  Selama ini, mereka hanya dapat menikmati listrik pada  malam hari saja, seringkali tak sepenuhnya sepanjang malam. Posokan listrik hanya dari sebuah mesin generator (diesel)  di Desa Lereh yang berkeuatan 40 KW, terlalu kecil dan tak terkoneksi dengan jaringan listrik Papua.

Janji perubahan itu muncul ketika Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Orya Genyem beroperasi 2016. Kapasitasnya 2 x 10 MW, atau 500 kali dari  mesin diesel di Lereh. Kini jaringan listrik pun terjalin sampai  ke Kampung Lapua. Ketergantungan pada generator berganti ke jaringan listrik yang lebih andal. “Atas nama Kampung Lapua, kami berterima kasih pada pemerintah,” kata Okto.

Hampir semua warga Kampung Lapua adalah pelanggan listrik. Kini, dengan  adanya  sumber jaringan listrik yang lebih besar, warga menjadi pelanggan 450 watt atau 900 watt. Banyak warga yang memiliki pesawat  televisi dan perkakas elektronik lainnya, lebih banyak lagi warga yang memiliki ponsel. 

Pembangkit listrik di Papua, juga Papua Barat,  terus meningkat  dayanya. Jumlah pelanggan pun terus  bertambah. PLN Unit Induk Papua dan Papua Barat  mencatat  655 ribu lebih pelanggan pada 2019. Menurut rilis yang dikeluarkan PLN Wilayah Papua, data tersebut menunjukkan adanya kenaikan pelanggan 6,78 persen dalam setahun terakhir.  Seiring dengan itu ada pula kenaikan konsumsi listrik 5,6 persen. 

Pada awal 2020 diperkirakan sekitar 70 persen rumah tangga di Papua dan Papua Barat sudah menjadi pelanggan PLN. Sebagian lain yang bermukim di daerah pegunungan pedalaman menerima aliran listrik EBT (Energi Baru dan Terbarukan) dengan iuran yang ringan atau bahkan gratis.  Sumber pasokan listrik  umumnya  dari panel-panel solar sel (listrik energi surya) yang disediakan oleh pemerintah melalui PLN atau pemerintah daerah. Hanya sebagian kecil belum tersentuh listrik sama sekali.

Jajaran PLN di wilayah Papua dan Papua Barat  terus menjelajahi area pedalaman untuk menghadirkan listrik bagi masyarakat yang tinggal di daerah terisolir itu. Hingga akhir 2018, tingkat elektrifikasi di dua  provinsi ini sekitar 96 persen. Sebagian besar desa dan dusun sudah teraliri listrik, tapi masih ada 1.724 desa (dari 7.358 desa pedalaman) yang  belum berlistrik. Dari jumlah  itu, dalam keterangan  resmi PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, 320 desa  “menyala” di tahun 2019. Tersida 1.402 desa.

Tak seluruh program listrik masuk desa dilakukan oleh PLN. Namun, kontribusi PLN sekitar 50 persen, Selebihnyadarisumbangan Kementerian ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral), pemerintah daerah, dan ada dari organisasi nirlaba atau swasta. 

Untuk mengejar ketertinggalan ini dilakukan percepatan. Kementerian ESDM pun meluncurkan program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi). Panel surya ukuran kecil dipasang. Setiap panel menyalakan satu lampu. Setiap dusun dipasangi beberapa unit LTSHE. Tidak besar dayanya, namun lampu-lampu ini bisa membuat  desa-desa di pedalaman menjadi lebih hidup di malam hari. Warga desa bisa melakukan kegiatan produktif di malam hari. 

Dengan program LTSHE ini, anteran panjang desa yang tidak berlistrik dapat dipangkas menjadi 414 saja di seluruh Papua dan Papua Barat. Ratio desa berlistrik sudah mencapai  level 98%. Pada saatnya nanti , sarana LTSHE itu akan berubah menjadi sumber listrik yang lebih besar yang bisa dimanaatkan  semua rumah tangga. Tapi, dengan LTSHE  itu puluhan ribu rumah tangga yang lima tahun lalu tidak mengenal listrik, kini menjadi akrab dengan enerji listrik.

Sedianya, pada tahun  2020 ini , seluruh desa yang masih gelap, umumnya di pegunungan, akan teraliri listrik. Namun, badai virus Corona tampaknya membuat banyak rencana yang tertunda. Rantai pasokan piranti EBT, yang sebagian masih bergantung pada impor, terganggu.

Dalam program elektrifikasi di desa-desa pedalaman Papua dan Papua Barat, Pemerintah menjatuhkan pilihan pada teknologi EBT (Energi Baru dan Terbarukan), dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan setempat. Belajar dari pengalaman sebelumnya, generator listrik  berbahan bakar minyak solar (diesel), bukan saja mahal, namun juga tidak selalu mudah menyediakan bahan bakarnya. Konsep EBT cocok untuk Papua yang tidak boros dalam penggunaan energi.

Pilihan EBT ini ada empat macam. Yang paling umum ialah panel surya, dan generator listrik  tenaga air (minihidro). Di beberapa tempat di kaki-kaki pegunungan, banyak ditemukan sumber air mengalir yang bisa digunakan untuk memutar turbin kecil dan selanjutnya menggerakkan generator. 

Yang sedan dan akan terus dikembangkan  adalah listrik biomassa dengan memandfaatkan biomassa yang melimpah di Papua untuk dibakar guna memanaskan boiler mini untuk memutar  turbin. Pilihan lainnya adalah tabung listrik (Talis), semacam power bank namun dalam dalam ukuran aki mobil. Talis  ini  dirancang oleh Tim dari Universitas  Indonesia dan diproduksi dalam negeri. Talis mudah di-charge  ke  sumber listrik lain yang ada di lokasi terdekat : di pembangkit minihidro, batere solar sel, generator diesel, dan bisa dijinjing untuk bisa digunakan pada skala rumah tangga.

Atas pertimbangan itu PLN pun menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Enem, di Kabupaten Mappi, Papua, tahun lalu.  Lokasinya lebih dari 1.000 km arah Selatan Jayapura. Kabupaten Mappi ini ada di wilayah Papua Selatan, di  sebelah Barat Kabupaten Merauke. Di situ, PLN memasang  satu set panel surya (foto-voltaik) yang  bisa mengubah sinar matahari menjadi energi listrik yang bisa disimpan dalam batere. Malam hari batere dipakai, esoknya diisi (di-charge). Begitu seterusnya.

Dengan kapasitas 100 KWp , solar sel ini mampu melistriki rumah 41 pelanggan  di Desa Enem,  Distrik Obaa. Mesti   masing-masing rumah tangga hanya bisa menikmati beberapa lampu pijar di rumah, toh itu cukup membuat perubahan. Anak-anak sekolah bisa belajar dan mengerjakan PRnya di malam hari. Beberapa rumah memasang  antena televisi. Rumah lainnya menyalakan radio di gelombang AM.

Tentu tak mudah menjamin kecukupan listrik  bagi seluruh warga Papua dan Papua Barat yang tersebar di wilayah seluas 546.633 km2 (4,25 kali Pula Jawa), mencakup 3.749 pulau. Dari ribuan pulau itu, hanya 140 pulau yang berpenghuni dan PLN sudah melistriki 128 di antaranya dengan pembangunan transmisi sepanjang 218 km yang dilayani gardu.

Sebanyak 128 pulau itu dilayani 108 sistem kelistrikan, 18 di antaranya termasuk istem kelistrikan besar dan 90 lainnya yang  tergolong sistem kelistrikan kecil. Total daya mampu dari 108 sistem kelistrikan itu mencapai 359 MW, dengan beban puncak 285.45 MW. Sebagian kota-kota di Papua sudah memperoleh layanan listrik sebaik di Jawa.

Pemerintah tentu akan terus bergerak. Belakangan penyediaan intrastruktur dasar di Papua dan Papua Barat terus mengalami percepatan. Jalan TransPapua terus dibangun, begitu halnya pelabuhan, bandar udara, pusat layanan masyaratak, sarana tele-komunikasi dan listrik, energi yang menggerakkan segala macam infrastruktur itu. Ada progress yang kasat mata. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed