oleh

Lindungi KI, Unimuda Gandeng Kemenkumham

**Melalui PKS Kemenkumham Kerja Sama dengan Kampus

AIMAS – Kampus Universitas pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong menjalin kerja sama dengan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk memberikan paten terhadap Kekayaan Intelektual (KI) yang ada di Sorong. Diketahui bersama, bahwa Unimuda adalah satu-satunya kampus swasta terbaik yang ada di Tanah Papua, dengan beragam prodi yang ditawarkan bagi mahasiswanya.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Rektor Unimuda Sorong, Dr. Rustamadji mengatakan, dari prodi tersebutlah kemudian banyak karya yang ditemukan oleh mahasiswa-mahasiswinya. Selanjutnya, untuk menjaga karya tersebut agar tidak diklaim oleh pihak lain, maka dibutuhkanlah paten untuk melindungi karya tersebut.

“Banyak prodi, banya karya yang dihasilkan, banyak temuan yang didapatkan. Baik berupa karya ilmiah, atau produk yang dihasilkan, itu semua perlu dilindungi. Jangan sampai nantinya ada pihak lain yang mengklain karya-karya tersebut. Oleh karena itulah, mengapa kami merasa perlu mendorong program ini,” ujar Rektor.

Diketahui, sejak 3 tahun belakangan sendiri, Kemenkumham memiliki fokus tersendiri untuk menggarap terkait kekayaan intelektual. Baik kekayaan intelektual terhadat kebudayaan maupun kekayaan intelektual terhadap personal. Untuk mencapai akselerasi program tersebut, Kemenkumham bekerja sama dengan sejumlah kampus melalui PKS.

Direktur Paten Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang, Kementerian Hukum dan HAM, Dra. Dede Mia Yusanti, M.L.S., mengatakan, mengapa pihaknya memilih Unimuda Sorong, selain daripada eksistensi dan prestasi kampus tersebut ia juga menilai bahwa Papua adalah tanah kaya. Menurutnya, keragam kekayaan alam yang ada di Papua memiliki potensi untuk dikembangkan. Oleh karenanya, selain memberikan paten Kemenkumham juga akan berupaya untuk membantu memberikan nilai tambah terhadap KI yang telah mendapatkan paten tersebut.

“Semakin kesini, banyak PT yang berlomba untuk mendapatkan hak paten KI. Namun kita juga harus pandai membaca peluang pasar, agar kalau bisa apapun yang sudah mendapatkan paten KI bisa mendatangkan nilai ekonomis. Contoh kecil, buah merah yang banyak di Papua sangat banyak dicari di Jakarta. Ini tentu mendatangkan nilai ekonomis, untuk itu rasanya perlu produk ini dipatenkan,” bebernya.

Inovasi itulah yang sangat ingin didorong Kemenkumham terhadap perguruan tinggi di daerah, khususnya untuk memanfaatkan dan menambah nilai dari sumber daya alam itu sendiri. Apalagi selama ini, masih menjadi masalah utama terhadap produk yang telah dipatenkan namun hanya menjadi koleksi semata karena tidak dikomersilkan. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed