oleh

Lakukan Rapid Test, Apotek Wajib Miliki Analis

-Metro-25 views

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Sorong, Sulce Siwabessy menjelaskan Dinas Kesehatan mengeluarkan pelarangan rapid test pada tiga apotek di Kota Sorong (Klinik (Apotek) Zhifa, Apotek Tiara Nusantara dan Apotek Prima Medical Center) karena pada tempat tersebut tidak memiliki analis kesehatan yang dapat bertanggung jawab dalam pemeriksaan Rapid Tes. Karena, yang memiliki tupoksi melakukan rapid test adalah analis kesehatan bukan seorang perawat.

“Kami hanya menutup uji  rapid test saja dan itu hanya sementara hingga ketiga apotek tersebut menyiapkan analisnya,”jelas Kabid Kesmas Dinkes Kota Sorong.

Dikatakan Sulce, pihaknya baru menutup tiga apotek tersebut kendati sudah menerbitkan ratusan hasil rapid test,  karena pihaknya baru mengetahui bahwa di tiga apotek tersebut tidak memiliki analis setelah Dinas Kesehatan mengadakan kontrol atau pemantauan pada tanggal 09 Oktober 2020.

“Selama ini, mereka mengatakan bahwa mereka memiliki analis.Tapi ketika kami turun lapangan, ternyata tidak ada. Sehingga kami menutup agar mereka dapat menyiapkan persyaratan yang sesuai aturan,”ungkapnya.

Diakui Sulce sekitar 7 apotek di Kota Sorong yang melaksanakan rapid test dan saat ini sedang dalam pemantauan Dinas Kesehatan Kota Sorong khusus yang tidak ada izin melakukan rapid test. Namun karena sudah tiga apotek yang ditutup, maka Dinas Kesehatan rekomendasikan empat apatek atau klinik yakni  Prodia, Sinifagu, RS AL dan Bintang Timur.

Persyaratan bagi klinik atau apotek yang melaksanakan rapid test, tambah Sulce yakni memiliki izin, mempunyai Analys Kesehatan dan memberikan surat masuk terkait patokan harga dalam melaksanakan rapid test kepada Dinas Kesehatan dan apabila Dinas Kesehatan setujui, maka boleh dilakukan.

“Untuk harga rapid Tes yang paling mahal adalah Rp 225.000 itu di Klinik Sinifagu. Karena masing-masing klinik bertanggung jawab sendiri atas kliniknya,”ungkapnya

Sementara rumah sakit yang mengadakan rapid test, tambah Sulce, yaitu jika ada pasien yang masuk melalui IGD, sebab saat ini berdasarkan SOP masing-masing RS setiap pasien yang masuk ke rumah sakit wajib untuk dilakukan rapid test.

“Karena RS takut kecolongan, bila sudah dilakukan perawatan ternyata pasien tersebut terpapar Covid-19. Sehingga dapat menularkan kepada petugas maupun pasien lainnya,”terangnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed