oleh

Lahan Reklamasi Tembok Berlin Siap Dibangun

SORONG – Kepala Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Sorong, Julian Kelly Kambu,ST,MSi mengatakan, salah satu pemikiran visoner Bapak Wali Kota Sorong Drs.Ec Lambert Jitmau,MM sebagai pemimpin visioner yakni melihat bagaimana membangun Kota Sorong yang tidak punya SDA, dengan menyakinkan para pelaku usaha, investor untuk menanamkan modalnya di Kota Sorong. “Salah satunya investor yang menanamkan modalnya untuk reklamasi pantai Tembok Berlin. Perjuangan ini sudah dimulai di 2014, dan ini terus didorong dan telah terjadi perubahan bentang alam dari laut menjadi darat,” kata Kelly Kambu kepada Radar Sorong, kemarin. 

Dikatakannya, setelah laut menjadi darat, maka selanjutnya akan dilakukan pembangunan di atas lahan hasil reklamasi. Sesuai perencanaan, ada perkantoran, hotel berbintang 4, sarana prasana yang dapat menunjang kebutuhan pembangunan di wilayah Papua Barat, dan sebagainya. “Nantinya lahan reklamasi ini menjadi suatu kawasan strategis Kota Sorong dan sekaligus menjawab kebutuhan pemerintah pusat yang telah menjadikan Kota Sorong sebagai pusat kegiatan nasional di wilayah Papua Barat, sekaligus basis pertumbuhan ekonomi menuju kawasan Pasifik. Sangat luar biasa kehadiran kawasan ini untuk menopang pertumbuhan dan pembangunan di kawasan timur Indonesia, ibarat kereta, lokomotifnya ada di Kota Sorong, dan kawasan ini akan memainkan peran itu,” tuturnya.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Menurut Kelly, sebelum investor melakukan pembangunan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan mereka wajib memiliki ijin yang harus dilengkapi yakni Ijin Lokasi, Ijin Lingkungan dan Ijin Mendirikan Bangunan. “Proses ijin ini, investor sudah mengurus ijin lokasi, sekarang sudah masuk tahap Ijin Lingkungan. Untuk Ijin Lingkungan, mereka harus melengkapi dengan dokumen lingkungan dalam hal ini Amdal. Sebelum dokumen amdal diterbitkam, wajib melakukan kajian analisis mengenai dampak lingkungan, dampak sosial, dampak ekonomi, dampak lalulintas atas pembangunan di kawasan tersebut,” jelasnya. 

Kajian amdal lanjut Kelly, dimulai dengan tahapan konsultasi public, dan sebelum masuk konsultasi public harus dilakukan pengumuman untuk diketahui publik. “Sebagai Ketua Komisi Amdal Kota Sorong, kami berharap dengan dikeluarkannya pengumuman oleh para pihak yang ingin membangun ini, kami berharap saran masukan sebanyak mungkin terkait dengan rencana pembangunan di atas tanah reklamasi seluas 197.817 meter persegi,” ucapnya.

Saran masukan ini diharapkan dari warga masyarakat sebagai bagian dari keterlibatan public untuk ikut berpartisipasi, bisa yang bersifat negative, bisa juga yang positif, asal jangan mengandung unsure sara. “Saran masukan dari masyarakat sangat penting, nantinya kita inventarisir dan kami berikan kepada konsultan lingkungan untuk melakukan kajian, sehingga diperoleh resolusi atau saran tindak lanjut terkait dengan dampak sosial, lingkungan maupun dampak lalulintas atas pembangunan di lokasi tersebut. Semakin banyak saran masukan dari masyarakat, semakin baik, untuk membantu tim kajian/analisis dampak lingkungan, untuk membedah permasalahan-permasalahan yang mungkin muncul dari pembangunan di kawasan tersebut, untuk mendapatkan resolusi,” tandasnya.

Selaku Ketua Komisi Amdal, Kelly menyatakan pihaknya akan mengawal proses kajian, mulai dari tahap pengumuman, konsultasi publik nanti tanggal 10 February, dilanjutkan dengan pembahasan kerangka acuan, sidang Komisi Amdal pembahasan hasil kajian baik dampak sosial, ekonomi, lingkungan maupun dampak lalulintas dari rencana pembangunan tersebut. Hasil kajiannya akan dimasukkan dalam dokumen RKL/RPL, rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan sebagai syarat untuk diterbitkannya Ijin Lingkungan. Setelah ijin lingkungan ada, pelaku usaha wajib melengkapi perijinan lainnya yakni Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), untuk dapat memulai tahapan pembangunan. “Kami sebagai Ketua Komisi Amdal, akan mengawal proses dan tahapan kajian ini. Kami berharap saran masukan sebanyak-banyaknya dari warga Kota Sorong, agar dapat mendukung dan menopang proses yang sedang berlangsung,” pungkas Kelly. (ian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed