oleh

Kopasus Gadungan Dijerat Pasal Penipuan

SORONG – Kebohongan DR, pria berusia 27 tahun yang menyamar sebagai anggota TNI-AD berpangkat Brigjen dan bertugas di Grup 3 Komando Pasukan Khusus (Kopasus) terbayar sudah dengan duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Sorong, Kamis (15/4) guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Alwi Michel Rambi,SH dalam persidangan yang dipimpin Rivai Rasyid Tukuboya selaku ketua mejelis hakim, mendakwa DR melanggar pasal 378 KUHP, barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menggunakan nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya member utang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 tahun.

Dalam surat dakwaannya, JPU Alwi Mychel Rambi,SH menjelaskan kronologi kejadian pidana yang dilakukan terdakwa DR, dimana awal mula perkenalan antara DR dan korbannya melalui media sosial sejak bulan Maret 2018. Setelah berkenalan, beberapa bulan kemudian, DR dan korban bertemu. Singkat cerita DR dan korban menjalin kasih (berpacaran). Selama berpacaran, DR mengaku anggota TNI AD dari Satuan Kopassus di Cijantung yang sedang bertugas di Sorong. 

“Selama menjalin kasih dengan DR, korban sangat yakin bahwa DR merupakan anggota Kopasus, sebab DR sering mengunakan atribut TNI. Dan, korban mengetahui DR sedang dalam penyamaran sebagai karyawan PT Pertamina untuk mengawal petinggi Pertamina. DR juga menyampaikan kepada korban bahwa ia sering bertugas ke tempat terjadinya tindakan kriminal atau kerusuhan,” jelas JPU dalam dakwaannya.

Korban bertambah yakin lantaran DR menjanjikan akan menikahi korban saat menghubungi orang tua korban, bahkan DR pernah mengurus surat pindah korban  dari Kota Sorong ke Cijantung untuk salah satu syarat pernikahan. Selama menjalin kasih, DR meminta korban membiayai kebutuhan hidupnya Rp 1 juta perbulan. Tidak hanya itu, DR meminjam uang ke orang lain dengan menggadaikan BPKB motor korban, sehingga korbanlah yang menebus utang tersebut.

Tingkah DR semakin menjadi-jadi dengan sering mengambil uang melalui ATM milik korban dan motor korban pun sering dipakai DR. Korban tetap percaya dengan DR, lantaran DR mengatakan bahwa ia memiliki 2 unit motor di Jakarta namun selama bertugas di Sorong DR tidak memiliki kendaraan. 

Kebohongan DR akhirnya terungkap pada 9 Januari 2021, Saat itu, DR bersama korban berada di rumah kontrakan, DR mulai berakting sedang berbicara dengan Panglima TNI melalui sambungan telephone. Saat memutuskan sambungan telephonenya, korban lalu meminta DR menunjukkan isi panggilan masuk di handphone DR, tetapi DR bersikeras tidak ingin memperlihatkan isi panggilan handphonenya.

DR justru mengatakan sebenarnya semenjak bulan Oktober 2020 ia sudah mengajukan pengunduran diri di satuannya dan SK pengunduran diri keluar pada bulan Januari 2021. Korban mulai curiga dan meminta ganti rugi pengeluaran uang yang telah korban berikan selama berpacaran.  Korban kemudian meminta DR mempertemukan dirinya dengan orangtua DR. Sesampainya di rumah orang tua DR di SP 2 Kabupaten Sorong, orang tua DR mengaku kalau DR bukanlah anggota TNI-AD. Orangtua DR meminta waktu satu minggu kepada korban agar bersabar dan akan mencari uang untuk menganti kerugian yang telah dialami korban senilai Rp 50 juta. 

Namun dalam kurun waktu tersebut, DR dan orangtuanya tidak bisa memenuhi janji yang diucapkan, akhirnya korban melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.  Pada 20 Januari 2021, anggota ­Pomad XVIII/1 Sorong menangkap korban di rumah orangtuanya di SP 2 Kabupaten Sorong. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed