oleh

Kondisi Pustu Ipaya Masih Memprihatinkan

TIMIKA – Layanan kesehatan di wilayah pesisir pantai Mimika nampaknya harus mendapat perhatian lebih. Salah satunya Puskesmas Pembantu (Pustu) di Ipaya yang kondisinya masih sangat memprihatinkan. 

Pustu Ipaya yang melayani tiga kampung yakni Ipiri, Paripi dan Yaraya belum memiliki gedung sendiri. Masih numpang di rumah warga yang kondisinya pun terbilang darurat. Bangunannya sudah tua dan lapuk. 

Ruang pelayanan menyatu dengan tempat penyimpanan barang termasuk obat. Tak jauh dari meja pelayanan langsung dapur. Kemudian kamar mandi yang hanya disekat kain. Tidak ada toilet sehingga petugas harus numpang ke rumah warga lainnya. Terdapat dua kamar tidur. Satu kamar untuk petugas dan kamar satunya untuk pemilik rumah.

Pustu Ipaya tidak dilengkapi ruang perawatan. Sehingga pasien yang membutuhkan perawatan seperti infus, harus diinfus di rumah sendiri. Itu disampaikan Bidan Leny salah seorang petugas yang ditemui di Pustu Ipaya, Selasa (22/10) kemarin. 

Pustu Ipaya memiliki lima orang petugas. Semuanya bidan dan berstatus PNS. Bidan Leny memastikan pustu tidak pernah kosong karena lima petugas berbagi shift. Untuk transportasi petugas harus mencari tumpangan sendiri. Bahkan untuk rujuk pasien juga begitu. Menumpang perahu warga. Meskipun akhirnya ada klaim untuk BPJS Kesehatan yang bisa digunakan membayar biaya transportasi. 

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, SSos MM mengakui Pustu Ipaya sangat tidak layak dikatakan sebagai sebuah pustu. Persoalan ini kata dia sudah disoroti oleh Bupati beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke Ipaya dan saat itu meminta Dinas Kesehatan segera menindaklanjuti. 

“Tapi sama sekali tidak ditindaklanjuti, maka saya sampaikan kepada Dinkes ini harus segera ditindaklanjuti,” tegasnya. 

Wabup memberi apresiasi kepada petugas medis meski dengan kondisi terbatas namun tetap berada di tempat tugas. Meskipun untuk memberi layanan seperti mengambil obat dan lainnya kadang pakai biaya sendiri. Menurutnya ini hal yang tidak boleh terjadi. Dinkes harus memberi perhatian dan langsung datang melihat situasi. “Saya dengar tidak pernah ada kunjungan Dinkes ke Pustu Ipaya, baru sekali dalam lima tahun,” katanya. 

Layanan Pustu Ipaya masih menumpang di rumah warga yang kondisinya sudah reot. Tidak ada ruangan khusus untuk penyimpanan obat. Bahkan saat kunjungan kemarin, Wabup melihat tumpukan obat yang sudah expired. Kata dia, ini tidak boleh terjadi terutama di daerah pedalaman sehingga obat yang didistribusi tidak boleh yang mendekati expired. “Makanya ini pernyataan sikap pemerintah bahwa harus segera diperbaiki. Ini kebetulan baru Pustu di Ipaya yang ditemukan seperti ini, saya tidak tahu pustu di tempat lain, saya kira kondisinya juga mungkin sama,” terangnya. 

Kemudian Pustu Yaraya juga diharap segera difungsikan. Kabarnya kendalanya juga ada di Dinkes karena tidak mengirimkan tenaga medis. Mengenai alasan adanya hambatan dari masyarakat sudah diklarifikasi dengan pemilik tanah bahwa sudah tidak ada persoalan. (sun) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed