oleh

Kisah Pilu Empat Bersaudara yang Diduga Disiksa Ayah Kandungnya

Sebelumnya Ketakutan Dengar Langkah Kaki, Kini Sudah Baikan

Empat kakak beradik berinisal L (13), B (9), P (5) dan M (2) yang selama ini diduga disiksa ayah kandungnya sendiri berinisial FL, kini bisa bernafas lega lantaran telah terlepas dari sasaran pelampiasan emosi sang ayah.

Juhra Nasir, Sorong

 Keempat kakak beradik, tiga diantaranya yakni L, B dan P dirawat oleh saudara kandung sang ayah, sementara si bungsu berinisial M masih dirawat oleh Istri Bhabinkamtibas Polsek Sorong Timur. Wajah keempatnya mulai bercahaya, padahal sebelumnya nampak begitu lusuh dan tidak terurus usai ibu kandungnya meninggal dunia Juni 2020 lalu, sementara rumah yang ditinggali hanya beralaskan karpet kusam, dinding dan lantai kayu.

Menurut penuturan tetangga, FL sering melakukan kekerasan terhadap keempat anaknya sehingga setiap hari sang anak terus menangis. Parahnya, anak-anaknya tersebut dilarang keluar rumah. Bahkan ketika FL bekerja sebagai buruh bangunan, keempat anak tersebut dikunci di rumahnya hingga FL pulang. FL juga membuang makanan atau pakaian yang disumbangkan tetangga-tetangganya.

Keempat anak ini mempunyai banyak bekas luka di tubuh hingga wajahnya, terutama si-bungsu, M yang memiliki banyak luka cubitan, goresan di bagian belakang dan bekas luka-luka lainnya di lengan serta wajah

Salah satu saksi mata berinisial S mengatakan, ia melihat sang ayah memukuli tangan anak perempuannya dengan obeng karena melarikan diri dari rumah sekitar pukul 18.30 WIT. Sementara anak laki-lakinya inisial B, bersembunyi di rumah S dan enggan pulang lantaran takut dipukuli lagi. “Anaknya bilang tidak mau pulang, nanti bapak pukul, sambil tunjukkan tubuh bagian belakangnya. Akhirnya saya tidak pulangkan dia. Eh bapaknya masih cari anaknya dengan membawa parang,” ungkapnya.

Merasa resah FL terus berkeliaran dengan parang, akhirnya saksi S meminta suaminya menghubungi teman-temannya. Sekitar pukul 23.30 WIT, teman suaminya datang bersama dengan pihak kepolisian. Sadar adanya kehadiran polisi, FL kabur, namun dikejar oleh pihak kepolisian hingga ke kediaman FL dan memberikan nasihat. “Paginya, FL datang ke kompleks saya dan tanya siapa yang lapor polisi dan bilang awas saja kalau dia tahu siapa yang lapor polisi,” jelasnya.

Kakak kandung FL berinisial T mengungkapkan, sebelum adik iparnya (istri FL) meninggal, hingga telah meninggal, ia sudah sering menasehati adiknya agar memperhatikan dan mendidik anak-anaknya, agar makan dan minum yang teratur, kemudian sekolahkan anak-anak tersebut. “Dia bilang sibuk karena bekerja sebagai pemborong. Tapi, buktinya tidak ada tempat tidur bahkan anak-anaknya pun tidak disekolahkan hingga sebesar ini. FL itu  sudah sering melakukan kekerasan terhadap anak maupun istrinya dan mereka sering bertengkar, bahkan polisi pun sudah beberapa kali mencarinya akibat sering bertengkar,” tuturnya.

Kakak ipar FL berinisial B mengatakan, FL adalah anak kelima dari 8 bersaudara, memiliki sifat kasar bahkan kepada anak-anaknya pun ia bertindak kasar dan sering teriak-teriak. Diakui B bahwa ia mengetahui penyiksaan tersebut setelah FL dilaporkan ke kepolisian beberapa waktu lalu. “Dia tidak dekat dengan kita. Waktu istrinya meninggal kan saya mau rawat anak-anaknya, tapi dia tidak mau dan bawa pulang, katanya dia bisa urus sendiri,” ungkapnya.

Ia bahkan sempat bertanya kepada keponakannya, putri sulung FL berinisial L terkait perlakuan ayahnya. L mengakui bahwa ia sering dipukuli ayahnya, bukan hanya dia melainkan adik-adiknya pun menerima nasib yang sama. “Sekarang mereka sudah baikan, tapi kemarin itu mereka masih ketakutan, bahkan saat dengar langkah kaki saja mereka takut, mereka pikir itu bapaknya,” bebernya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed