oleh

Kiprah Personel Satgas Pamrahwan Pos Sinak Modern di Tengah Pandemi Covid-19

-Future-2.517 views

Sambangi Rumah Demi Mengajar Anak-anak Pedalaman Papua

Coronavirus Disease-2019 (Covid-19) yang kini mewabah (pandemi) secara global, mengubah banyak sekali struktur kehidupan masyarakat. Upaya menghindari agar tidak terjangkit virus yang belum ada obatnya ini, dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yakni wajib memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan dengan sabun. 

Untuk menjamin protokol kesehatan dilaksanakan, pemerintah menerapkan kebijakan work from home (WFH), termasuk proses pembelajaran anak-anak sekolah dilakukan secara daring dari rumah. 

Proses pendidikan dari rumah atau dikenal sebagai School From Home (pembelajaran jarak jauh/PJJ), tentunya membutuhkan beragam fasilitas dan sarana pendukung dalam pelaksanaannya, seperti ketersediaan sinyal, kuota, gawai, aplikasi, dan literasi digital baik dari si anak maupun orangtua yang mendampinginya.

Di kota besar yang sarana prasarana pendukungnya memadai, tidak menjadi soal melaksanakan PJJ, namun hal yang sama tidak bisa diterapkan di pedalaman seperti halnya di pedalaman Papua. Contohnya di Distrik Sinak Kabupaten Puncak Jaya Provinsi Papua, PJJ sangat sulit diterapkan. Bagaimana tidak, Distrik Sinak dari segi mobilitas, kampung-kampungnya sangat sulit dicapai. Sinyal telekomunikasi, jangan ditanya lagi, sulit, tidak akan kuat mengakses aplikasi pendidikan seperti google classroom, ruang guru dan lainnya. Gawai/ponsel android, sama dengan, jangan ditanya lagi. Karena itu, pembelajaran jarak jauh untuk saat ini, sangat tidak memungkinkan diterapkan di Distrik Sinak Kabupaten Puncak Jaya.

Demi mengejar ketertinggalan pendidikan anak-anak pedalaman Papua di Distrik Sinak, personel Satgas Pamrahwan Pos Sinak Modern yang dipimpin Letda Inf Sena Nurjabbar selaku Danpos Sinak Modern, diluar tugas pokoknya melaksanakan pengamanan di daerah-daerah rawan, turun langsung menyambangi anak-anak sekolah di rumahnya masing-masing, untuk mengajar dan membantu anak-anak mengejar ketertinggalan bidang pendidikan karena banyak faktor.

Danyon Raider 500/Sikatan sebagai Dansatgas Pam Rahwan di Kabupaten Puncak Jaya Provinsi Papua, Letkol Inf Yoki Malinton,SH,Tr.(Han), dalam keterangan tertulisnya yang diterima Radar Sorong mengatakan, syarat-syarat yang dibutuhkan dalam PJJ, tidak relevan dan mustahil dipenuhi di distrik-distrik pedalaman Puncak Jaya termasuk Distrik Sinak.  ”Fasilitas listrik tidak 24 jam, kalau pasokan solar kurang bisa padam berhari-hari. Llistrik hanya menyala 12 jam dalam satu hari. Kampung dan distrik lainnya yang lebih pedalaman, tidak ada listrik sama sekali. Itu baru soal listrik.” ungkapnya. ”Sinyal internet mengambil peran utama dalam PJJ untuk bisa melakukan koneksi ke aplikasi belajar seperti Zoom, Google Meet, Google Classromm. Dan sinyal di Sinak, sudah jelas tidak akan kuat untuk mengakses aplikasi-aplikasi itu,” sambungnya.

Menurutnya, provider yang mampu ‘hidup’ di sana hanya Telkomsel, tapi sinyalnya pun sangat parah. Untuk berkirim pesan teks saja perlu 2 hari untuk terkirim. Internet yang ‘lumayan’ bisa didapat dengan membeli voucher wifi yang disediakan kios-kios seharga 50 ribu per dua jam dengan kuota tidak sampai 20mb. ”Anak-anak Sinak, terutama di pedalaman seperti di Kampung Gigobak, hampir benar-benar terisolasi. Jangankan untuk memiliki gawai hingga mahir mengoperasikannya, bahkan untuk memakai sepatu saja mereka tidak bisa. Mereka bertelanjang kaki sampai ada pihak yang memberikan sepatu dan pemahaman bahwa alas kaki penting untuk mereka,” jelas Danyon Raider 500/Sikatan Letkol Inf Yoki Malinton,SH,Tr.(Han).

Kepala Distrik Sinak Petrus Kogoya menilai pembelajaran jarak jauh hanya bisa dilaksanakan di Jakarta atau daerah-daerah yang internetnya ekstra kencang dengan kondisi siswa yang  memiliki gawai dan kuota, tidak akan bisa dilaksanakan di Distrik Sinak, untuk saat ini. ”Saya mengucapkan terimakasih kepada TNI dalam hal ini personel Raider 500/Sikatan yang peduli, mau mengajar, datangi anak-anak kami di rumah-rumah untuk bisa membaca dan menulis,” ujar Petrus Kogoya.

Menurutnya, banyak guru-guru dan kepala sekolah yang tidak hadir. Sekolah hanya sebatas bangunan. Pemandangan ini banyak sekali dapat disaksikan di sebagian besar sekolah di sebagian besar kampung di Sinak. ”Hanya guru dan kepala sekolah yang memiliki hati yang memilih untuk tetap tinggal, sisanya mereka kebanyakan berada di kota dan hanya akan datang ketika ujian,” kata Kadistrik Sinak.

Danpos Satgas Pamrahwan Distrik Sinak Kabupaten Puncak Jaya, Letda Inf Sena Nurjabbar menambahkan, kalaupun sekolah berjalan sempurna dengan guru dan kepala sekolah yang hadir, siswa bisa saja tidak hadir karena tuntutan perut. Mereka harus ikut orang tuanya ke hutan mencari sagu, ikan, atau berburu babi, bermalam di Bivak  dan akan kembali beberapa minggu kemudian. Anak-anak ini harus juga memecahkan masalah orang tua mencari makan. ”Kami mencoba memberikan pengertian kepada orang tua mereka bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan mereka,” kata Letda Inf Sena Nurjabbar Danpos Sinak Modern. (Rusmin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed