oleh

Khawatir Corona, Siswa SLB Kabsor Memilih Tinggal di Asrama

-Future-2.167 views

Isi Waktu Luang dengan Berkebun

Takut pulang kena virus corona, di sini saja sama teman-teman, ibu suruh pulang juga tidak mau. Demikian kata Arron, siswa SLBN Kabupaten Sorong yang memilih tinggal di asrama dibanding pulang ke rumah.  

Namirah Hasmir, Sorong 

WABAH corona menakutkan bagi sebagian orang, termasuk siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kabupaten Sorong.  Takut tertulas corona, 6 siswa SLBN Kabupaten Sorong memilih tetap tinggal di asrama yang berada tepat di belakang sekolah di SP 4 Distrik Mayamuk Kabupaten Sorong.

Salah satu dari mereka, Arron mengatakan tetap tinggal bersama teman-temannya yang lain di asrama dibanding harus pulang ke rumah. Meski kesulitan mendapatkan makanan, Arron memilih tinggal di asrama karena takut dengan virus corona.  “Takut pulang kena virus corona, di sini saja sama teman-teman, ibu suruh pulang juga tidak mau. Di sini saja berkebun, duduk-duduk,” kata Aroon yang ditemui Radar Sorong, Selasa (5/5) lalu. 

Tak sendiri, hal yang sama juga dirasakan oleh 5 teman sekolahnya. Meski di tengah keterbatasan dan kekurangan untuk tetap bertahan di asrama, namun terlihat ke enam orang anak tersebut justru menikmati keberadaan mereka. 

Devi, salah satu guru kontrak di SLBN Kabupaten Sorong mengakui sebelumnya ada 16 orang anak yang tinggal di asrama, namun setelah dinyatakan libur, beberapa dari anak-anak tersebut kembali ke orang tuanya masing-masing, ada yang di kota maupun di Kabupaten Sorong. 

Seminggu sebelumnya, masih terdapat 8 orang yang tersisa di asrama, namun 2 orang yang baru saja dinyatakan lulus SLB harus kembali ke orang tua mereka masing-masing.  “Minggu lalu masih 8 orang, tapi 2 orang sudah kembali pulang, mereka ini yang sudah lulus kemarin,” ucapnya. 

Cukup berat untuk bertahan di tengah keterbatasan yang ada saat ini. Selain bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Sorong yang belum diterima, ia juga masih harus bertahan demi menjaga anak-anak meski upahnya belum ia terima sejak Januari 2020. 

Devi memahami, kondisi saat ini yang membuat Dinas Sosial mengalami keterlambatan memberikan bantuan bagi asrama. Bantuan sosial yang diberikan setahun sekali, seharusnya sudah diterima pada April 2020.  “Bantuan sosial dari Dinas Sosial, setahun sekali, harusnya April ini terima, tapi mungkin karena virus corona ini jadi kami pahami, kami menunggu saja,” ucapnya. 

Keterbatasan tersebut diakui Devi sudah dialami sejak 2 minggu terakhir. Tidak hanya kekurangan makanan, anak-anak di SLBN Kabupaten Sorong juga membutuhkan peralatan MCK. Selain itu, kondisi kamar mandi juga sangat memprihatinkan karena dari 2 kamar mandi hanya 1 yang berfungsi.  “Kamar mandi ada 2, tapi 1 nya itu sudah tidak berfungsi baik,” ucapnya. 

Di tengah keterbatasan yang dialami para guru dan siswa ini, aktivitas rutin dilakukan untuk mengisi hari-hari agar lebih positif. Seperti yang disampaikan oleh Elviana Parera, salah seorang guru yang juga memilih tinggal di asrama bersama dengan para murid. 

Menurutnya, anak-anak sangat mandiri meski di tengah keterabatasan yang dimiliki. Anak-anak tidak hanya tinggal diam, beragam aktitivitas rutin dilakukan, mulai dari berkebun, belajar las dan kegiatan lainnya.  “Mereka berkebun juga, bersih-bersih sekolah, belajar untuk sekolah lingkungan,” ucapnya. 

Pihaknya bersyukuru atas kepedulian orang-arang yang mengetahui kondisi di Asrama SLBN Kabupaten Sorong, satu per satu datang membawakan kebutuhan makanan yang diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh anak-anak di SLB. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed