oleh

Kelompok Penyerang Bukan dari Maybrat?

Samuel Bless : Jangan dan Tidak Boleh Terjadi Operasi ‘Membabi-Buta’

SORONG – Siapa sebenarnya pelaku penyerangan Posramil Kisor Aifat Selatan Kabupaten Maybrat, apakah warga Maybrat atau dari luar Maybrat, serta apa motif para pelaku penyerangan, hingga kini masih dalam penyelidikan.  Juru Bicara Jaringan Damai Papua (JDP), Yan Christian Warinussy,SH, mendukung pernyataan Pangdam XVIII/Kasuari bahwa kelompok yang diduga melakukan penyerangan hingga menewaskan 4 anggota TNI AD di Kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang berasal dari luar Kabupaten Maybrat. 

PMB OPBJJ-UT Sorong

Warinussy mengatakan, selama lebih dari 20 tahun bertugas sebagai Pembela Hak Asasi Manusia (HAM), ia belum pernah mendengar ada penyerangan terhadap masyarakat sipil maupun aparat keamanan dan pemerintah yang dilakukan oleh masyarakat sipil atau kelompok yang disebut sebagai KKB tersebut.  Sehingga, peristiwa yang menimpa Komandan Pos Koramil Kisor, Lettu CHB Dirman dan kelima anggotanya tersebut cukup menarik dan mengagetkan semua pihak di Papua Barat. “JDP senantiasa meminta perhatian Panglima Kodam XVIII/Kasuari dan jajarannya untuk mengedepankan pendekatan persuasif kepada masyarakat di Kampung Kisor dan sekitarnya di Distrik Aifat Selatan Kabupaten Maybrat guna menemukan pelaku penyerangan terhadap Pos Koramil Kisor tersebut,” kata Warinussy, Kamis (2/9).

Pendekatan yang dapat dilakukan lanjut Direktur Eksekutif LP3BH ini, dengan mendayagunakan peran dari tokoh agama setempat. Pangdam XVIII/Kasuari dapat membangun komunikasi dengan Uskup Sorong dan Badan Pekerja Am Sinode GKI Di Tanah Papua, agar proses pendekatan guna menemukan akar masalah serta merajut perdamaian sebagai pilihan dalam menyelesaikan persoalan ini, dapat dimulai.  “Tentu dengan tetap mengedepankan proses penegakan hukum melalui cara mengedepankan Polisi Militer sebagai garda terdepan dibantu oleh Polri. Sehingga pengungkapan kasus ini dapat berjalan dengan baik dan menjadi preseden bagi tidak terjadinya pengulangan kasus yang sama di kemudian hari,” tandasnya.

JDP lanjut Warinussy, sangat mengharapkan tidak digunakannya langkah Operasi Militer atau Operasi Militer Selain Perang dalam menghadapi kasus Kisor ini. “Pendekatan sosial kiranya penting digunakan dalam menyelesaikan kasus Kisor hingga ke akar-akar masalah yang ada selama ini, sehingga kepastian terbangunnya damai di Tanah Papua juga Papua Barat menjadi nyata dan actual,” imbuhnya.

Terpisah, Direktur Yayasan OYO PAPUA, Samuel Bless menghimbau agar TNI-Polri di dalam melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan di Posramil Kampung Kisor Distrik Aifat Selatan Kabupaten Maybrat yang menewaskan 4 prajurit  TNI, agar menghindari berhadap-hadapan dengan masyarakat sipil di wilayah itu.  

Terkait eskalasi konflik sipil militer di wilayah Aifat Timur, Aifat Selatan, bahkan di Kali Weriagar Kabupaten Teluk Bintuni sudah mengeskalasi sejak lama, ia menilai beberapa rentetan kejadian menunjukkan lemahnya intelejen, patroli  dan penjagaan pos yang lemah.  “Dalam tiga tahun telah terjadi  konflik yang terus naik, baik kejadian sporadis, periodik, maupun kontinue telah berlangsung lama. Misalnya kejadian pembunuhan terhadap personil Brimob di wilayah Aifat Timur dan Aifat  Selatan, pembunuhan terhadap salah satu Intel yang mayatnya dibuang ke sungai, juga penembakan terhadap mobil Kapolres Persiapan Maybrat sekitar April lalu,  semua ini mengingatkan kita semua bahwa kemampuan inteligen kita lemah, kewaspadaan dan patroli juga lemah, penjagaan pos yang personilnya lebih dari satu peleton pun lemah,” kata Samuel Bless melalui rilisnya yang diterima redaksi Radar Sorong, kemarin.     

Ia mengatakan, dari penyerangan di Posramil Kisor Aifat Selatan, kejarlah para pelakunya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.  “Tetapi jangan dan tak boleh terjadi operasi membabi buta sehingga menimbulkan senophobia di masyarakat Aifat Selatan, Aifat Timur maupun Maybrat pada umumnya,” pesan Samuel Bless.

Ditambahkannya, Yayasan OYO Papua, LP3H Manokwari, Jaringan Damai Papua, Jaringan Antar-Iman Indonesia, akan melakukan pemantauan secara cermat terhadap rencana operasi penangkapan terhadap oknum-oknum yang menyerang Posramil Aifat Selatan, dan secara terbuka akan melaporkan ke berbagai organisasi kemanusiaan dan pekerja HAM di Indonesia dan luar negeri seperti Asian Human Rights Commision dan Komodo HAM PBB di Jenewa maupun perwakilannya di Indonesia.

Sementara itu, pascainsiden penyerangan Posramil Kisor yang menewaskan empat anggota  TNI-AD dan dua anggota mengalami luka berat dan ringan, informasi yang diperoleh dari beberapa tokoh masyarakat bahwa insiden tersebut membuat aktifitas mereka yang kesehariannya bertani pun lumpuh. “Keadaan su begini mencekam jadi kita takut masuk hutan berkebun,” tutur salah satu tokoh di wilayah Aitinyo Raya melalui sambungan telepon kepada Radar Sorong, kemarin.  Pernyataan senada juga disampaikan salah satu pejabat pemerintah daerah yang awalnya hendak ke kantor untuk melaksanakan agenda dinasnyapun dibatalkan karena tidak bisa menjamin resiko keamanan.

Bupati Maybrat maupun Kepala Suku wilayah Aifat Raya dan sejumlah pimpinan DPRD yang berusaha dihubungi berkali-kali, tidak bisa memberikan komentar lebih lanjut karena merasa situasinya masih mencekam. ”Soal itu no comen dolo,” ucap salah satu tokoh yang namannya tidak mau dimediakan. (lm/ris)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed