oleh

Kejaksaan Tahan Dua Mantan Pimpinan BUMN di Papua

JAYAPURA – Kejaksaan Tinggi Papua menahan LA, mantan  Pelaksana Harian Kepala Gudang dan Logistik Perum Bulog Cabang Nabire periode 2018, dan  FWB mantan Kepala Kantor Pos Kabupaten Biak Numfor. Keduanya ditahan Selasa (30/3) karena diduga melakukan tindak pidana korupsi di instansi tempat mereka bekerja, dan merugikan negara miliaran rupiah.

Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, Nikolaus Kondomo melalui Kepala Seksi Penyidikan Pidana Khusus,  Yusak Ayomi, mengatakan, keduanya ditahan usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka oleh penyidik Kejati Papua dan langsung dibawa ke rumah tahanan untuk proses hukum selanjutnya. FWB, mantan Kepala Cabang PT Pos Indonesia Biak Numfor, ditahan karena terlibat kasus korupsi tahun anggaran 2020 senilai  Rp 3.671.314.930. “Kami telah melakukan penahanan terhadap FWB  tersangka  korupsi di Kantor Pos Biak,” kata Ayomi.

Ia mengatakan, berdasarkan hasil audit, negara mengalami kerugian hingga milliaran rupiah. Motif dalam kasus itu yakni diduga untuk memperkaya diri sendiri, dimana uang kas perusahaan Rp 3.671.314.930 diduga dipakai oleh tersangka untuk bermain judi online. “Ada indikasi penyalahgunaan wewenang yang mana mengeluarkan uang panjar tidak sesuai peruntukannya pada bulan April sampai September 2020, dan uang itu masuk ke rekening pribadi kepala cabang,” ungkapnya.

Ayomi  mengaku  dalam kasus tindak pidana korupsi di PT.Pos Indonesia Cabang Biak Numfor, pihaknya telah memeriksa belasan saksi serta mengamankan sejumlah barang bukti.  “Saksi 14, saksi ahli ada satu orang. Sedangkan barang bukti yang kami amankan 21 dokumen,” jelasnya.

Sementara itu, mantan  Pelaksana Harian Kepala Gudang Kansilog Nabire periode 2018 berinisial LA, ditahan dalam kasus korupsi dugaan pengadaan 1.028 beras fiktif oleh Perum Bulog Cabang Pembantu Nabire yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 10,811 miliar.

Dalam kasus tersebut, Kejaksaan menetapkan dua orang tersangka masing-masing berinisial RH selaku mantan Kepala Kantor Seksi Logistik (Kansilog) Nabire periode 2017-2018 dan LA selaku Pelaksana Harian Kepala Gudang Kansilog Nabire periode 2018. Berdasarkan hasil pendalaman penyidik, tersangka RH berperan memerintahkan untuk melakukan pengadaan beras melalui jalur Satuan Kerja (Satker) dan mitra. Namun uang yang diperuntukan untuk pembelian beras malah diselewengkan RH.

Tak hanya itu, tersangka RH memerintahkan tersangka LA memanipulasi data dokumen beras masuk gudang dan kwitansi pembelian beras, [adahal RH tidak pernah melakukan pembelian beras petani. “Kepada tersangka disangkakan Pasal 2 dan 3 UU Tipikor dengan ancaman minimal 1 tahun dan maksimal 20 tahun penjara,” tandas Ayomi. (al)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed