oleh

Kecam Perusakan dan Penebangan Pohon

-Metro-38 views

Aksi demo rusuh 9 Oktober 2020 kemarin tidak hanya menghancurkan kaca-kaca Gedung DPRD Kota Sorong dan salah satu mobil anggota DPRD Kota Sorong, tetapi aksi tersebut juga berdampak pada tumbuhan-tumbuhan yang tidak tahu masalah. Misalkan, sejumlah pohon yang ada di median jalan Sungai Maruni Km 10 Masuk depan jalan masuk DPRD Kota Sorong pun tidak luput dari perusakan oleh aksi massa.

Perusakan tersebut dengan mencabut dan memotoh beberapa pohon yang berada di median jalan untuk dibakar di ruas jalan Sungai Maruni sebagai luapan emosi sejumlah massa yang dipukul mundur oleh pihak Keamanan Polres Sorong kota dikarenakan aksinya sudah tidak dapat terkendali lagi.

Melihat tanaman pohonnya di cabut dan dibakar, Kepala Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Kota Sorong, Julian Kelly Kambu pun sangat menyesalkan aksi penebangan pohon-pohon dan dibakar sehingga membuat warga Kota Sorong menjadi resah 

“Mereka juga merusak pohon, perlu diketahui bahwa untuk membuat pohon tumbuh dan berkembang dari bibit hingga saat ini itu membutuhkan waktu hingga belasan tahun, kemudian dalam sekejap dicabut dan dibakar begitu saja, kalian tanam saat ini pun belum tentu tumbuh,”tegasnya.

Menurutnya, sebagai mahasiswa, harus menyikapi sebuah persoalan untuk menyampaikan sesuai prosedur dan mekanisme, ini generasi masa depan tidak diajar untuk berkelahi, harusnya jual ide dan gagasan. Aksi turun demo ini, apakah mahasiswa sudah membaca isi UU Omnibus Law maupun RUU Omnibus Law, sehingga bisa membedakan mana RUU dan UU, apakah ada pasal yang tidak sesuai dengan keinginan mereka atau tidak.

“Atau mereka hanya mengikuti yang ada di media sosial, yang informasinya juga menjadi pertentangan. Pengalaman ini jangan terulang. Sayangnya pada tahap Rancangan UU Omnibus Law ini saya tidak melihat mahasiswa menyuarakan pendapat mereka,”tandasnya.

Demo dengan cara-cara anarkis bukan budaya warga Kota Sorong khususnya dan itu harus ditunjukkan, sebagai mahasiswa harus menonjolkan budaya intelektual disertai data dan fakta. Mahasiswa harusnya buat kajian dan semintar, misalnya terkait Otsus dan membuat konsep berdasarkan intelektual serta data dan fakta.

“Jangan hanya melihat kekecauan di daerah lain, kemudian di Kota Sorong pun mau melakukan aksi yang serupa,”pungkasnya.(juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed