oleh

Kapolda Papua Ultimatum KKB

JAYAPURA – Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D. Fakhiri mengultimatum Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang kerap melakukan aksi teror, untuk menyerahkan diri kepada aparat penegak hukum, atau siap-siap menerima risiko.

Kapolda menyatakan, jalur lintasan yang dilalui KKB termasuk markas telah dikuasai aparat gabungan. ”Sejak awal aparat keamanan sebenarnya sudah berulang kali menyampaikan, kalau mau menyerahkan diri (maka) serahkan senjata dan kita akan berpikir untuk ­bagaimana menerima mereka,” kata Kapolda Papua ­kepada wartawan di Jayapura, Senin (17/5).

Mathius Fakhiri menegakan, apabila mereka (KKB,red) masih tetap melakukan aksi brutalnya, maka konsekuensinya adalah hukum. ”Kalau mereka tetap seperti sekarang, maka aparat keamanan tetap berhadapan dengan mereka. Apapun risikonya kita akan melakukan penindakan,” tegasnya.

Jenderal bintang dua ini menjelaskan, sejak 16 Mei lalu, Satuan Tugas (Satgas) Nemangkawi telah menduduki titik-titik yang sebelumnya dikuasai KKB, tinggal menunggu waktu untuk bertindak secara terukur dan tegas. ”Kita sedang melakukan penegakan hukum karena kita sedang tutup rapat jalur-jalur mereka untuk memastikan bahwa kelompok ini harus keluar dari masyarakat yang ada di Ilaga, baik yang di Gome, Mayuberi di Ilaga Utara,” ucapnya.

Ketika ditanyai terkait beredarnya foto selongsong peluru dan bombardir aparat TNI-Polri melalui udara yang menyebabkan pemukiman warga  dan tempat ibadah hancur, Kapolda Papua membatah hal tersebut dan menganggapnya informasi keliru. ”Memang kita punya helikopter tapi kita tidak gunakan untuk melakukan serangkaian serangan dari udara, karena dapat menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Kami masih fokus dengan pengejaran dari Satgas Nemangkawi. Jadi foto yang disebarkan itu hoaks dan hanya ingin mencari simpatik,” tegas Fakhiri.

Sementara itu, Operasi Newangkawi di Papua hadir sejak tahun 2018 lalu, tidak hanya menyasar pada penegakan hukum kepada KKB yang baru-baru ini ditetapkan pemerintah pusat sebagai organisasi teroris, tapi juga operasi kemanusiaan melalui Binmas Noken Polri. 

Binmas Noken Polri hadir melalui berbagai kegiatan, diantaranya program Polisi Pi Ajar. Progam ini polisi yang bertugas mengajarkan kepada anak-anak tentang wawasan kebangsaan, membaca dan menghitung. Pola pembelajaran yang diberikan pun berbeda, yakni belajar sambil bermain. 

Tak hanya itu, Binmas Noken Polri juga memberikan cara beternak dan berkebun yang baik kepada peternak maupun petani orang asli Papua. Pendampingan dan pemberian pupuk serta bibit diberikan pula.  Sementara pada penegakan hukum kepada KKB yang tersebar di wilayah Papua terus dilakukan secara tegas dan terukur, agar masyarakat sipil tidak menjadi korban. 

Kasatgas Humas Ops Nemangkawi Kombes M. Iqbal Alqudusy mengatakan, dalam operasi penegakan hukum kelompok teroris tentunya  personel TNI-Polri telah melakukan pemetaan, agar dapat membedakan mana bagian dari kelompok teroris dan mana  masyarakat sipil. 

Tewasnya Wendis Enimbo (Kamis 13 Mei), ajudan pribadi  Lesmin Waker yang mendiami wilayah Pintu Angin sebagai Komandan Pasukan Pimpinan teroris Lekagak Talenggen, dan tewasnya 2 dari 3 teroris  Mayuberi  pada Minggu 16 Mei yang merupakan Anggota Kelompok Teroris Lekagak Talenggen wilayah Mayuberi, dalam kontak senjata dengan pasukan TNI-Polri di Kampung Wuloni dan Mayuberi Distrik Ilaga Utara Kabupaten Puncak, membuktikan bahwa aparat TNI-Polri dalam melakukan penegakan hukum, dilakukan secara tegas dan terukur.  “Tidak ada korban masyarakat dan TNI-Polri dalam penegakan hukum di Kampung  Wuloni, Tagaloa, dan Mayuberi.  Aparat TNI-Polri melakukan penegakan hukum pada kelompok teroris Papua secara tegas dan terukur,” kata Kombes Iqbal, Sabtu (15/5) lalu.

Dikatakannya, Operasi Nemangkawi dibentuk dengan pertimbangan adanya gangguan kamtibmas yang dilakukan KKB hingga mengganggu kehidupan masyarakat di beberapa wilayah Papua melalui aksi teror bersenjata. Dibeberkannya, pada tahun 2017 lalu, ribuan warga disandera di Kampung Banti Distrik Tembagapura Kabupaten Mimika.  Tahu2018, korban dari pekerja PT. Istaka Karya, puluhan pekerja dibunuh secara sadis di Kabupaten Nduga oleh KKB pimpinan Egianus Kogoya, padahal pekerja ini sedang membangun jalan trans Papua untuk membuka akses jalan darat. 

Dibeberkannya, berdasarkan catatan kepolisian, di tahun 2019 aksi teror penembakan dilakukan KKB di sejumlah kabupaten di pegunungan Papua sebanyak 23 kasus, dengan korban meninggal 20 orang, terdiri dari 10 masyarakat sipil, 8 anggota TNI, dan 2 anggota Polri.  Kemudian tahun 2020, aksi teror penembakan KKB meningkat sebanyak 46 kasus, dengan jumlah korban meninggal dari masyarakat sipil 5 orang, 2 anggota TNI dan 2 anggota Polri.  Tahun 2021, KKB pimpinan Lekagak Talenggen semakin brutal di Kabupaten Puncak. Guru, pelajar, warga sipil, ditembak mati. Tak hanya itu, bangunan sekolah, rumah guru, rumah warga, helikopter ikut dibakar. 

Kombes Iqbal menegaskan, TNI-Polri akan selalu solid hadir di Papua untuk melakukan penegakan hukum kepada kelompok teroris. Disamping itu, kehadiran TNI-Polri di Papua untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dari gangguan KKB, karena Papua merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. ”TNI-Polri tetap solid untuk melakukan penegakan hukum terhadap kelompok teroris di Papua. Dan hadirnya TNI-Polri juga senantiasa menjadi keamanan masyarakat di Papua,” ­pungkas Kombes Iqbal. (al)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed