oleh

Jual Beli Hewan Dilindungi Dijerat UU KSDA

SORONG– Dengan kecanggihan IT saat ini, justru mendukung maraknya jual beli hewan dilindungi yang beredar di salah satu group Media Sosial belakangan ini. Mengetahui hal tersebut, Plt. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat Budi Mulyanto, SPd., M.Si menegaskan, pelaku perdagangan satwa liar maupun tumbuhan dilindungi dapat dikenakan UU no 5 tahun 1990 tentang KSDA.

“Ada sanksi bagi para penjual hewan dilindungi secara online, UU Nomor 5 itu belum dicabut. Namun, kemungkinan akan direvisi karena sanksinya tidak bisa menimbulkan efek jera sebab terlalu ringan. Sehingga UU tersebut masih digodok dan akan direvisi agar memberikan dampak dan efek jera bagi pelaku yang telah memanfaatkan satwa yang dilindungi,”jelasnya kepada Radar Sorong, Rabu (23/6).

PMB OPBJJ-UT Sorong

Budi mengungkapkan, hewan khas Papua yang dilindungi namun sering di perjualbelikan yakni hewan jenis Aves seperti Burung Kakatua, Nuri, Darah Mahkota, Burung Kaswari, Burung Cendrawasi dan satwa-satwa khas Papua yang tidak ada di wilayah lain. Namun, sambung Budi, terkait dengan peredaran dan perdagangan satwa liar secara online, menjadi salah satu kelemahan BBKSDA untuk pengawasan peredarannya.

“Karena kecanggihan IT ini kita juga harus imbangi dengan kemampuan kita terhadap IT tersebut. Karena, tertera diperjualbelikan di daerah A, namun saat dilacak ternyata barang buktinya tidak ada di daerah tersebut. Makanya, kami harus bekerja ekstra terkait perdagangan online ini, salah satunya bagaimana kita berkoordinasi dengan kepolisian yang memiliki peralatan dan kompetensi di bidang tersebut. Kami bersama-sama melakukan penanganannya, baik dari sisi hukum polisi yang menangani dan kami yang menjadi saksi ahli,”ujarnya.

Ditambahkan Budi, BBKSDA juga memiliki tim polisi kehutanan yang sering melakukan operasi dan patroli guna melakukan penertiban peredaran satwa maupun tumbuhan dilindungi. Terutama, pengawasan dan penjagaan di wilayah Pelabuhan dan Bandara yang merupakan lalu lintas peredaran dan sering di temukan beberapa penumpang membawa satwa maupun tumbuhan dilindungi.

“Akhirnya kami lakukan sosialisasi dan pengamanan terkait satwa tersebut,”ungkapnya.

Ia berharap, agar BBKSDA dan masyarakat bersama-sama menjaga sumber daya alam dengan sebagai-baiknya terutama tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. Karena, status dilindungi bukan semata-mata hanya sebagai simbol saja tetapi di lindungi karena hewan atau tumbuhan tersebut mendekati punah.

“Mereka makhluk hidup yang lebih baik hidup dan menyanyi di alamnya, dari pada dikurung atau dimanfaatkan sebagai peliharaan, yang belum tentu manusiawi perlakuannya,”tuturnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed