oleh

Jemput Bola, Guru Sambangi Rumah Murid

-Future-2.355 views

Sempat menerapkan pembelajaran online melalui grup whatsapp, Guru Kontrak Daerah Kabupaten Sorong, Martha Marsalina Arobaya,SP memutuskan untuk menjemput bola dengan mendatangi langsung para murid, dikarenakan kendala jaringan internet.

  • Namirah Hasmir, Sorong


PENERAPAN Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR) cukup sulit dilakukan secara online di beberapa wilayah di Papua Barat, termasuk di Kabupaten Sorong yang beberapa wilayahnya kesulitan mengakses jaringan internet.


Kendala jaringan mengharuskan tenaga pendidik proaktif guna memenuhi hak siswanya memperoleh pendidikan. Salah satunya dengan menjemput bola seperti yang diterapkan guru-guru SMP Negeri 20 Kabupaten Sorong yang berlokasi di Kampung Yeflio, Distrik Mayamuk.


Meski berlokasi di pinggiran Kota Aimas, namun akses jaringan bagi
sebagian murid sulit didapat, mengingat para murid tinggal di kampung
yang berbeda-beda dan tak semua kampung memperoleh akses internet
yang bagus.

“Anak murid saya itu tinggalnya tidak satu kampung, tidak semua kampung juga mendapat akses internet,” kata Martha Marsalina Arobaya, SP kepada Radar Sorong, Senin (11/5).


Kendala jaringan internet mengharuskan para guru di SMPN 20 Kabupaten Sorong merubah system pembelajaran, tidak lagi online melalui grup WA, tetapi meminjamkan buku pelajaran kepada siswa untuk dibawa pulang dan memberikan tugas sesuai dengan periodenya. “Mereka bisa belajar di rumah dengan buku-buku mata pelajaran yang sudah dipinjamkan dari sekolah,” ucapnya.


Pemberian tugas dilakukan setiap minggu. Guru mendatangi langsung rumah para murid untuk memberikan tugas, sekaligus mengumpulkan tugas yang telah diberikan minggu sebelumnya. Jarak tempuh dari kediaman Martha menuju sekolah berjarak 5 Km, sementara menuju rumah para siswa dari sekolah berjarak 4 hingga 5 Km, ditempuhnya dengan menggunakan motor.


Saat mendatangi rumah siswa, Martha melewati jalan tren yang terkadang becek karena hujan, berdebu saat panas, serta menyebrangi jembatan muara kali. Tidak lupa melengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD)
berupa masker, sarung tangan, ia juga membawa hand sanitizer. “Datang ke rumah siswa, kami juga harus menjaga kesehatan, apalagi kami berinteraksi langsung dengan mereka,” terangnya.


Tugas yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan mata pelajaran, tetapi juga yang berkaitan dengan kondisi saat ini, untuk mengatasi kejenuhan para siswa. Hal tersebut dilakukan, mengingat PJJ kali ini para siswa tidak sepenuhnya diberikan pemahaman tentang suatu pelajaran. “Bedanya
mereka belajar di sekolah dengan di rumah, mereka tidak sepenuhnya diberikan pemaparan tentang materi yang diberikan,” ucapnya.

Menurutnya, penerapan PJJ jauh lebih berat. Selain mendatangi rumah siswa, ia juga harus berupaya untuk mengontrol siswa agar tetap bersemangat belajar, meski dari rumah. “Tanggung jawab guru jadi lebih besar dengan dilakukannya PJJ atau BDR ini,” ungkapnya.

Ia berharap upaya yang dilakukannya ini tak sia-sia, murid yang ia ajar tetap merasakan pendidikan seperti yang lainnya meski di tengah keterbatasan saat ini. Selain jaringan internet, kendala lain sehingga belajar online tidak dilakukan yakni HP Android. “Tidak semua siswa
punya HP Android untuk digunakan, jadi grup WA yang dibuat tidak semuanya bisa mengakses,” ucapnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed