oleh

Jangan Biarkan Guru Meratap dan Menangis’

Harapkan Pemerintah Izinkan Belajar Mengajar Tatap Muka dengan Tetap Menerapkan Protokol Kesehatan

MANOKWARI-Jangan biarkan guru meratap dan menangis karena hak-hak belum diberikan. Tetapi berikanlah apa yang menjadi hak-haknya agar dapat melaksanakan tugas mendidik siswa dengan tenang. Demikian dikatakan Ketua PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Provinsi Papua Barat, Elimelek Wajoi pada peringatan HUT PGRI ke-75 yang ilaksanakan secara sederhana di Kantor LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan), Rabu (25/11).

Gubernur Papua Barat diwakili Asisten 3 Setdaprov Papua Barat, Reymond Yap, dan dihadiri sekitar 100-an guru berbagai tingkatan, SD, SMP dan SMA/SMK. Elimelek Wajoi mengatakan, ini pertama kalinya gubernur tak menghadiri peringatan HUT PGRI. Tidak hadir bukan berarti kurang peduli lagi pada nasib guru, tetapi karena ada dua kegiatan yang dihadiri, salah satunya mengikuti secara virtual penyerahan DIPA nasional.

Ketua PGRI membeberkan, sehari sebelumnya (Selasa, 24/11) menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPR PB. Banyak hal yang disampaikan, di antaranya mengenai tunjangan sertifikasi guru dan tunjangan tambahan penghasilan (TPP) khusus guru SMA/SMK. “Sekaranglah saatnya guru berteriak pada murid. Teriakan guru harus didengar murid-murid. Jangan tinggalkan guru, karena gurulah yang menciptakan pejabat-pejabat di atas tanah Papua,” ucapnya.

Elimelek Wajoi menitipkan pesan kepada Asisten 3 agar diteruskan ke gubernur supaya selalu memperhatikan nasib guru. Sudah 11 bulan, guru SMA/SMK di Provinsi Papua Barat belum mendapatkan tunjangan sertifikasi dari pemerintah pusat. “Guru ada dimana-mana, tetapi tidak kemana-mana. Bapak Asisten 3 tolong sampaikan  pesan kepada Bapak Gubernur, nasib guru harus diperhatikan, jangan berteriak dulu baru diperhatikan,” kata Elimelek.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed