oleh

Ikut Wisuda, Napi Raih Gelar Sarjana

-Metro-96 views

Wisuda sebagai salah satu momentum sakral pejuang skripsi sepertinya juga menjadi pengalaman sangat membahagiakan bagi Pieter Robert Runaweri. Pieter sapaan akrabnya merupakan salah satu warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Sorong yang baru saja mengikuti prosesi wisuda dan meraih gelar sarjana ilmu pemerintahan (S.IP).

Pieter, merupakan alumni Fakultas Ilmu Pemerintahan (FISIP) Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) yang kini berstatus sebagai narapidana Lapas Kelas 2B Sorong karena kasus penyalahgunaan Narkotika jenis ganja. Saat ditemui usai mengikuti resepsi wisudanya, Pieter tampak dikawal oleh dua orang Polisi Khusus Lapas (Polsuspas).

Saat mencoba meminta kesediaan untuk diwawancara, Pieter menyampaikan rasa syukurnya dapat menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar sarjananya. Disamping itu Pieter juga mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga yang telah banyak men-support, juga kepada Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Kelas II B Sorong, Gustaf Rumaikewi, SH.MH.

“Puji syukur karena berkat campur tangan Tuhan saya bisa mengikuti wisuda hari ini. Terimakasih untuk Kalapas kelas II B Sorong karena sudah mengizinkan saya untuk ikut diwisuda,” ujarnya penuh haru.

Resmi menjadi mahasiswa FISIP UMS tahun 2015, Pieter ditangkap pihak kepolisian pada tahun 2019 dengan status sebagai mahasiswa tingkat akhir saat itu. Sebagai syarat untuk bisa meraih gelar sarjana, akhirnya Pieter pun harus mengikuti ujian skripsi secara virtual dari Lapas.

“Saat ikut ujiian skripsi status saya sudah jadi narapidana. Tapi saya bangga karena saya adalah salah satu mahasiswa yang berhasil mengikuti ujian skripsi online,” ujar Pieter.

Sementara itu Kalapas Kelas 2B Sorong, Gustaf Rumaikewi, SH.MH, pada kesempatan terpisah mengutarakan rasa bangganya kepada Pieter. Bagi Gustaf, Pieter adalah warga binaan yang berperilaku baik selama berada di Lapas. Pieter juga selalu aktif dalam berbagai program yang ada di Lapas.

“Dia pernah satu kamar dengan napi yang kabur dengan cara menjebol tembok, tapi dia tidak mau ikut. Dia malah melapor ke petugas,” bebernya.

Gustaf mengajak semua masyarakat bisa menyatukan pemahaman bahwa lembaga permasyarakatan adalah tempat untuk mempersiapkan warga binaan agar bisa lebih berguna saat kembali di tengah masyarakat.

“Saya harap ini jadi bekal supaya Pieter bisa menyampaikan kepada teman-temannya tentang pengalaman hidup ini. pelajaran hidup ini juga sebagai modal untuk Pieter mempersiapkan kesuksesan di masa yang akan datang,” tutupnya.(ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed