Hebat! Kesuksesan E-Commerce RI Masuk di Deretan Notorius Market List 2021!

radarsorongnews.com – Asosiasi Ecommerce Indonesia, atau IdEA, telah menyampaikan berita terbaru mengenai perkembangan e-commerce. Dalam pemberitaannya, asosiasi tersebut berbicara mengenai peraturan dan kebijakan sah e-commerce Tanah Air yang terus memerangi berbagai macam produk palsu alias bajakan. Selain itu, e-commerce juga langsung menindak tegas menghapus produk-produk yang dianggap telah melanggar hak cipta. Berkaitan akan hal tersebut, rupanya kesuksesan e-commerce RI semakin matang. 

Begitu banyak orang yang setuju mengenai perkembangan e-commerce yang signifikan sepanjang waktunya. Beberapa e-commerce yang populer dan menunjukkan eksistensi sempurna, adalah Bukalapak, Shopee, dan Tokopedia. Masih di laporan yang sama, IdEA menuturkan bahwasanya e-commerce Indonesia berhasil masuk ke daftar Notorius Market List 2021. Aplikasi perbelanjaan online Shopee, berhasil menyaingi berbagai macam aplikasi e-commerce lainnya. 

Diketahui, bahwa Shopee masuk ke daftar penghargaan tersebut berdasarkan laporan yang di rilis oleh Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau United States Trade Representative, alias USTR. “IdEA rutin mengingatkan seluruh anggota nya untuk tetap berhati-hati dan mengawasi segala bentuk penjualan yang ada di e-commerce anggota kami dengan mengikuti peraturan yang ada,” ujar Bima Laga, selaku Ketua Umum IdEA, yang kami lansir dari sumber Liputan6.com, pada Rabu, 23 Februari 2022 kemarin. 

Pada daftar yang berhasil dilakukan oleh Shopee, e-commerce yang satu ini ditunjuk karena memiliki tanggung jawab yang besar atas prosedur pemberitahuan dan penghapusan suatu kendala yang berkaitan dengan memberatkan, tidak efektif, lambat, atau terdesntralisasi. Tidak berhenti di situ saja, Shopee juga disebut-sebut sebagai e-commerce terbaik yang belum memiliki suatu lingkungan buruk, dimana hal tersebut disebabkan oleh penjual tidak bertanggung jawab untuk menawarkan barang-barang palsu. 

Shopee memang terbilang tegas dalam mengaktivasi aturan-aturan tentang pelanggaran penjualan maupun pembelian. Sebagian aturan yang berlaku oleh Shopee terjadi karena adanya sanksi memadai dan pihak e-commerce nya pun tidak pernah melakukan kerja sama terhadap pemegang hak apapun yang termasuk ke bidang investigasi. Sementara itu, untuk e-commerce Bukalapak, dinilai telah menerbitkan berbagai macam aturan tentang sistem anti-pemalsuan. Salah satunya, adalah perbaikan sistem untuk mencegah kuat penjualan barang-barang palsu. 

Tidak berhenti di situ saja, Bukalapak juga selalu mempercepat proses pemeriksaan penjual terlebih dahulu sebelum keputusan penghapusan akun dilakukan. Akan tetapi, pemegang hak tetap khawatir bahwa kebijakan yang diberlakukan oleh Bukalapak ini tidak begitu optimal dalam mencegah berbagai macam barang palsu ke platform dan tidak adanya deteksi lebih awal. 

Di sisi lain, ketika kesuksesan e-commerce RI ini semakin tinggi karena telah memasuki daftar bergengsi di dunia, Tokopedia dinilai telah mengalami peningkatan yang signifikan. Melansir dari sumber Liputan6.com, mengatakan bahwasanya Tokopedia telah melakukan peningkatan terhadap sistem kuat pelaporan maupun penghapusan. Dan belum lama ini, Tokopedia pun berhasil meningkatkan keterlibatan perusahaan di kalangan penjual merk. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi pemalsuan barang dagang melalui platform nya. 

Tidak sampai di situ saja, Tokopedia juga telah menerbitkan sebuah microsite. Sistem baru tersebut bertujuan untuk menciptakan hak intelektual, menerapkan pengawasan yang ketat bersifat proaktif, menerapkan penalti keras bagi seluruh penjual yang telah melanggar hak intelektual, mengembangkan dan menjalankan kemitraan dengan penjual merek dagang asli, menjalankan kampanye besar-besaran tentang betapa pentingnya setiap penjual melindungi hak intelektual, baik itu dampak positif untuk pengguna atau konsumennya sendiri. 

Berdasarkan data yang di laporkan oleh microsite Tokopedia, sepanjang tahun 2021 kemarin, e-commerce dengan logo berwarna hijau ini sudah menghadirkan 12.000 merek yang melindungi hak intelektual dagang. Dan di waktu yang bersamaan, Tokopedia juga terbukti melakukan penghapusan dan penutupan 25.000 akun yang terbukti melanggar HKI atas penjualan barang dagang palsu atau pelanggaran lainnya. Bima juga menambahkan, bahwasanya penjualan produk palsu bukan hanya marak terjadi di Indonesia, melainkan negara-negara dengan penjualan e-commerce terbesar lainnya juga tidak bisa mengatasi kejadian kriminal tersebut. 

Apabila di suatu e-commerce telah terjadi komplain atas barang yang terbukti melakukan pelanggaran hak cipta oleh pembelinya, maka pihak pemegang merk ataupun brand wajib sekali menyampaikan bentuk pelanggaran kepada pihak penjualnya dan pihak e-commerce tidak akan bertanggung jawab akan hal tersebut. Ini membuktikan, bahwa kesuksesan e-commerce RI hingga masuk di daftar besar Notorius Market List 2021 berkat kepedulian pemegang saham terhadap hak intelektual penjualan barang.

Previous post Tingginya Aktivitas Twitter Pada Ramadhan 2022 Mendatang!
Next post Deretan Kasus Pemerkosaan Massal Paling Sadis di India