oleh

Harga Kain Kafan Melambung

-Ekonomi-155 views

Kain Kafan Kosong, Ada Jenasah 2 Hari Baru Dikubur

AIMAS – Di masa pandemi Covid-19, permintaan kain kafan begitu tinggi hingga menyebabkan harganya pun ikut melambung.
Salah seorang pengurus Majelis Ta’lim Jabal Nur, Pariyem menuturkan, kain kafan kualitas standar yang normalnya dijual seharga Rp 185.000 per rol kini menjadi Rp 270.000 per rol.
“Saya sering belanja perlengkapan kain kafan dan lainnya, sudah hampir 4 tahun ini. Tiap bulan saya selalu belanja untuk stok kalau ada jamaah yang butuh. Terakhir belanja kemarin harga naik Rp 270.000, padahal biasanya cuma Rp 185.000 saja,” ujarnya via pesan singkat.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Ia menambahkan, bukan saja harganya yang melambung, bahkan barangnya pun susah didapatkan.

“Barangnya susah juga, biasanya hampir semua toko kain di pasar pasti ada, sekarang banyak yang kosong. Malah sempat terpikir saya ingin order langsung dari Jawa,” akunya.

Pegawai toko Tiga Jawa pun membeberkan, bahwa belakangan ini pelanggan baru juga banyak berdatangan untuk membeli kain kafan. Bahkan pengurus Masjid Agung Al-Akbar pun sempat datang memborong banyak kain kafan.

“Orang dari Masjid Raya biasanya order langsung dari Makassar, sekarang malah ambil di kami. Karena aturan PPKM ini lalu lintas transportasi agak susah masuk Sorong,” terangnya kepada pelanggan.

Terbatasnya stok kain kafan di Sorong juga berdampak bagi daerah-daerah pedalaman di Kabupaten Sorong. Seperti kejadian yang dialami salah satu warga di Kalobo.

Murnasih mengisahkan, kejadian itu menimpa tetangganya di Kalobo. Akibat tidak ada stok kain kafan di kampung tersebut, tetangganya yang meninggal akhirnya harus tertahan 2 hari dan tidak bisa dimakamkan karena ketiadaan kain kafan. Menurutnya, sejumlah warga sudah berupaya mencari kain kafan dari kampung lain, namun hasilnya nihil.

“Kasihan tetangga saya sampai 2 hari baru dikubur, padahal kalau di agama kami (Islam) jenazah harus dimakamkan secepatnya. Warga cari kafan ke kemana-mana tidak dapat. Biasanya memang ambil dari Sorong, tapi karena Sorong PPKM kita tidak bisa ke sana,” jelasnya.

Murnasih berharap, hal tersebut menjadi pembelajaran untuk siapapun termasuk pemerintah serta pejabat yang menjadi pelaksana teknis PPKM di lapangan. Jangan sampai dengan alasan PPKM tersebut, hal-hal yang urgen menjadi terabaikan.

“Jangan sampai kejadian begini lagi, kasihan sekali jenazah dan keluarga. Pelaksana teknis PPKM yang ada di lapangan harus paham dengan kondisi. Hal seperti ini sifatnya mendesak, jadi jangan sampai dihalang-halangi,” harapnya. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed