oleh

Harga Cabe Rawit Meroket

-Ekonomi-47 views

SORONG – Harga rica atau cabai rawit meroket, dari ­harga Rp 80.000/kg naik hingga mencapai Rp 120.000/kg. Kenaikan harga cabai rawit dikarenakan stok cabai rawit yang kosong dan belum memasuki masa panen. Dari pantauan Radar Sorong, Rabu (24/2) di Pasar Sentral Remu bahwa kenaikan bukan hanya terjadi pada komoditi cabai rawit saja, namun kenaikan harga juga terjadi pada komoditi tomat yang sebelumnya seharga Rp15.000/kg menjadi Rp 20.000/kg.
“Iya lagi naik memang. Tapi kita ini su biasa makan pakai sambal jadi biar akan naik lagi,” kata salah satu warga yang sedang berbelanja di Pasar Sentral Remu, Wiwi.
Hal tersebut diakui salah satu pedagang di Pasar Sentral Remu, Mama Nissa kepada Radar Sorong ketika ditemui di lapak dagangannya, Rabu (24/2).
Dikatakannya bahwa harga cabai rawit naik sudah dari 5 hari yang ­lalu.
Untuk harga tomat menurutnya memang naik tapi tidak seberapa.
“Harga rica sudah naik 5 hari dengan hari ini Rp120 ribu/kg, kalau harga normalnya Rp 80 ribu/kg. Ini rica lokal, tidak ada dari luar. Harga lokal lebih mahal dari luar, biasa kita ambil dari Seram. Haraga tomat juga naik Rp20 ribu/kg, sebelumnya Rp15 ribu/kg. Harga naik karena kemarin-kemarin kosong dan belum masuk masa panen,”katanya. Mama Nissa menjelaskan bahwa dirinya hanya pedagang eceren sehingga harga yang dijual kembali merupakan harga pasaran. Dia meyakinkan bahwa masyarakat pasti memahami kenaikan harga tersebut, karena bukan hal baru ketika terjadi ­kekosongan stok.

“Saya ambilnya dari SP, Aimas yach tergantung dimana yang ada,” katanya.
Pada lapak Mama Nissa, selain menjual cabai rawit, dia juga menjual cabai besar Rp 50 ribu/kg, bawang merah dan bawang putih Rp 40 ribu/kg, wortel Rp 25 ribu/kg, kol Rp 20 ribu/kg, sawi Rp 25 ribu/kg, jeruk china Rp 15 ribu/kg dan kentang Rp 20 ribu/kg.
“Ada bumbu-bumbu dapur juga seperti kemiri, kemudian yang bubuk, ada kunyit, merica,” ujarnya.
Menurut pedagang yang sudah 5 tahun berjualan ini, bahwa dimasa pandemic Covid-19 penjualan menurun, membuatnya harus tetap sabar dan ekstra keras memasarkan dagangannya. Terlebih lagi, ada beberapa komoditi yang didatangkan dari luar daerah.

“Karena pandemi ini pasar sepi, kurang pokoknya. Tidak macam dulu lagi, sebelum pandemic itu pasar masih ramai. Sekarang krisis ini, penjualan sepi sekali. Pendapatan juga berkurang berapa persen itu, hampir 100% kah. Ini sayur sawi, kol, wortel, kentang dari Manado. Kalau dari Manado memang murah tapi ada ongkirnya mahal, transport, ­baru bongkar di kapal bahwa turun lagi biaya. Makanya kenapa sampai disini harganya mahal, yach karena itu sudah,”tuturnya.
Dia menambahkan pembeli yang datang berkunjung hanya sedikit, namun dia tetap bersyukur.

“Kalau saya sedikit saja, yang penting bisa menjual. Kami pedagang berharap pandemic segera berakhir,” katanya. Hal senada dikatakan pedagang lainnya, Bude Lulu bahwa cabai rawit memang harganya naik.
“Lagi musim hujan, gagal panen baru stok juga kosong makanya ­harga naik,” pungkasnya. (zia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed