oleh

Hanyut 12 Hari, Nelayan Sulut Terdampar di Tambrauw

-Berita Utama-2.092 views

SAUSAPOR – Dikson Makalikis (45), nelayan asal Kabupaten Tahuna Provinsi Sulawesi Utara,  ditemukan di perairan Kabupaten Tambrauw setelah hanyut terbawa arus selama 12 hari. Korban yang saat mencari ikan menggunakan perahu bermesin katinting, diselamatkan Herman, nelayan Tambrauw yang tengah memancing di rumpon miliknya.

Kanit Binmas Polsek Sausapor Bripka Ronny Wakano mengakui adanya seorang nelayan asal Sulut yang terdampar di Kabupaten Tambrauw. “Kami mendapat informasi dari nelayan bernama Herman bahwa telah ditemukan seorang nelayan asal Kabupaten Tahuna Provinsi Sulawesi Utara yang terdampar di perairan Tambrauw setelah 12 hari terombang-ambing di laut dengan perahu bermesin katinting,” kata Bripka Ronny Wakano didampingi Kanit Provos Polsek Sausapor Bripka Rustam kepada Radar Sorong, Senin (7/1).

Wakano mengatakan, sesuai pengakuan korban, pada 24 Desember 2018 sekitar pukul 05.00 WITA, korban yang berlamat di Kampung Kahakitang Kecamatan Tatoareng Kabupaten Tahuna Sulawesi Utara, tengah memancing di dekat pantai seorang diri. Setelah memancing sekitar 3 jam lamanya, korban bergegas pulang ke rumahnya dengan ikan pancingannya. Namun saat mencoba menghidupkan mesin, ternyata tidak bisa karena mengalami kerusakan. Terpaksa ia mendayung agar dapat kembali ke rumahnya.

Namun tak lama kemudian ombak menerpa dan arus begitu kuat sehingga perahu miliknya hanyut terbawa arus hingga akhirnya masuk di perairan Kabupaten Tambrauw pada Jumat 4 Januari 2019 sekitar pukul 06.00 WIT sebelum akhirnya diselamatkan oleh nelayan yang tengah memancing di rumpon.

Kepada Radar Sorong, Dikson Makalikis mengatakan, setelah tak mampu pulang ke rumahnya karena tak kuasa mendayung melawan ombak, ia akhirnya pasrah pada kekuatan alam. Sebisa mungkin ia berusaha bertahan untuk bisa hidup.  Terbawa arus ke tengah lautan, kematian pun serasa di depan mata karena ia hanya berada di kapal kecil sepanjang 6 meter dan lebar 1 meter. Harapannya untuk hidup semakin menipis, sebab saat hanyut tidak terdapat pulau yang bisa ia jumpai. 

Untuk bertahan hidup selama 12 hari saat hanyut, Dikson hanya memakan kelapa kering yang dijumpainya hanyut di tengah laut, serta meminum air hujan seadanya. ”Untuk bertahan hidup saya cuma makan kelapa kering. Beruntung waktu itu, tidak tahu itu hari ke berapa, terjadi hujan sebentar, saya tada air hujan untuk dijadikan air minum,” ujarnya. ”Dalam pikiran saya, bagaiamana saya bisa selamat, dan bertemu lagi dengan keluarga saya di rumah,” sambungnya. 

Suatu ketika lanjut Dikson, ia baru saja tidur sekitar 30 menit, tiba-tiba terbangun lantaran terdengar suara ayam berkokok (menandakan pagi telah tiba). Ia bergegas bangun dan melihat kanan-kiri, dengan harapan telah terdampar di daratan. Namun hal tersebut hanyalah halusinasi, karena yang ia saksikan bukannya daratan melainkan lautan bebas seakan tanpa batas. ”Saat dengar suara ayam berkokok saya langsung katakan Puji Tuhan sudah berada dekat pulau, tapi ternyata itu hanyalah suara mistis yang saya dengar karena saat saya bangun melihat kiri-kanan tidak ada pulau yang saya harapkan melainkan laut,” katanya.

Jumat (4/1) sekitar pukul 04.00 dinihari, Dikson melihat rumpon yang tengah terapung di laut, namun dia tidak berani mendekati rumpon tersebut. Sekitas 2 kemudian, ia akhirnya beranikan diri mendekati rumpon dan meminta pertolongan. ”Saya katakan tolong saya, saya adalah korban hanyut berhari-hari di laut. Akhirnya nelayan bernama Herman yang ada di rumpon itu menyelamatkan saya dan membawa saya ke Sausapor ini,” ujarnya.

Dikson telah mendapatkan perawatan medis. Korban tidak mengalami luka yang cukup serius, hanya luka sobek kecil pada bagian bibir kanan dan seluruh kulit mengelupas akibat terpapar panas berhari-hari dan sedikit trauma. Rencananya pada Jumat (11/4), Pemda Tambrauw akan memfasilitasi korban untuk kembali ke kampung halamannya. (raf)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed