oleh

Hanya 1 Jam di Manokwari, Dengarkan 2 Pertanyaan

MANOKWARI-Presiden RI Joko Widodo mengutus Menkopolhukam Wiranto, Panglima TNI  Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian berkunjung ke Manokwari dan Sorong, Kamis (2/8/2019), pasca  kerusuhan. Di Manokwari, ketiga pejabat pusat ini tiba di Bandara Rendani sekitar pukul 15.00 WIT menggunakan pesawat khusus setelah lawatan di Sorong.

 Menkopolhukam, Panglima dan Kapolri didampingi Gubernur Papua Barat Drs Dominggus Mandacan, Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI Joppye Onesimus Wayangkau dan Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Drs Herry Nahak melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat di Swiss-belhotel.

  Hanya Menkopolhukam yang berbicara, menjelaskan soal komitmen pemerintah Indonesia menyelesaikan permasalahan di Papua. Hanya dua tokoh masyarakat yang diberi kesempatan menyampaikan aspirasi atau pertanyaan. 

   Pertemuan yang juga dihadiri sejumlah pertinggi TNI, Polri di antaranya dua putra Papua yang berkarier di Polri, Irjen Pol  Paulus Waterpauw dan Brigjen Pol Pietrus Waine hanya berlangsung tak lebih dari 1 jam. Selanjutnya Menkopolhukam, Panglima dan Kapolri bergegas menuju bandara untuk kembali ke Jakarta.

   Di awal arahannya, Wiranto menyampaikan salam persaudaraan dan kedamaian dari Presiden RI kepada seluruh pejabat dan warga Provinsi Papua Barat. ‘’Kunjungan kami ke sini bukan mengarahkan atau memata-matai tetapi untuk menyalami saudara-saudara  di Papua Barat,’’ tuturnya.

    Wiranto sangat menyesalkan insiden kerusuhan di Manokwari, Sorong dan Fakfak. Dia yakin, insiden ini terjadi karena ada oknum yang tidak bisa menahan diri. 

  Menurut Menkopolhukam, kasus pelecehan kepada mahasiswa Papua di Surabaya bukan perbuatan pemerintah, tetapi dilakukan oknum tertentu. Wiranto mengatakan, banyak orang  yang usil di medsos, bahkan presiden sekalipun tak luput dari ungkapan penghinaan dan ujaran kebencian.

  ‘’Modal kini menghadapi hinaan, hasutan, adu domba cuma sabar, berpikir positif dan saling memaafkan. Kalau ada permasalahan dapat diselesaikan lewat komunikasi,’’ tandasnya.

  Wiranto masih bersyukur karena kejadian kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Sorong dan Fakfak tak berlarut-latur dan cepat diredakan. ‘’Muncul dari kesadarakan kita semua, pemerintah, tokoh agama, tokoh  masyarakat dan pimpinan pemuda, insiden tidak perlu dilanjutkan karena merugikan,’’ ujarnya.

   Kejadian penyerangan dan penghinaan terhadap mahasiswa Papua di Surabaya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah  untuk merawab kebersamaan, persatuan. ‘’Merawat kebersamaan merupakan keniscayaan,’’ ucapnya.

   Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa. Dengan kondisi ini lanjut Wiranta, tidak mudah untuk dipersatukan. Namun para pendiri bangsa sudah menegaskan bahwa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah harga mati. ‘’Mulai dari Aceh sampai tanah Papua merupakan wilayah NKRI yang tidak bisa dipecah-pecah, itu harga mati. Kita bersyukur Tuhan telah memberi keragaman sebagai suatu bangsa,’’ ujarnya.

  Dua tokoh Papua yang bertanya, GC Auparay dan Wempy Kambu. Auparay menyesalkan ungkapan rasis sebagai hal  yang tak biasa, tetapi hinaan suatu bangsa. ‘’Ini bukan pertama kali, tetapi waktu Persipura main di Surabaya diecek sebagai monyet, kami sakit,’’ tadasnya.

   Sedangkan Wempy Kambu meminta kepada pemerintah Indonesia agar menyelesaikan kasus pelecehan, dan penghinaan ini lewat kongres istimewa. Perlu ada penyelesaian secara menyeluruh.

  Menjawab penyataan dua tokoh Papua ini, Menkopolhukam mengatakan, ungkapan pelecehan dan hinaan bukan datang dari pemerintah tetapi dari oknum. ‘’Presiden Jokowi pun pernah mendapatkan cercaan dan hinaan. Zaman sekarang ini banyak orang yang ngomong seenaknya,’’ ucap Wiranto.(lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed