oleh

Gulung Sindikat Perdagangan Senjata Api

Jaringan Filipina-Manado-Papua, Tangkap 3 Pelaku, Sita 3 Senpi dan 44 Peluru serta 3 Magazine

MANOKWARI – Polda Papua Barat berhasil mengungkap peredaran jual beli senjata api (senpi) ilegal jaringan Filipina-Manado-Papua. Pengungkapan ini dilakukan Tim Khusus ­Dirreskrimum Polda Papua Barat  bersama tim Operasi  Nemangkawi. Tiga pelaku berhasil dibekuk, salah satunya berjenis kelamin perempuan berinisial RB asal Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, dan 2 lainnya laki-laki, SM dan KS, warga Manokwari. 

Barang bukti yang diamankan berupa 6 senpi laras pendek, yakni 1 pucuk pistol Armscor 45 warna hitam silver no. 055330, 1 pucuk pistol Coli no. Mfg.co US Army, 1 pucuk pistol jenis revolver diduga taurus, 2 pucuk senjata api genggam jenis revolver diduga merk taurus dan colt. Barang bukti lainnya berupa amunisi 45 butir (39 butir kaliber 45 dan 6 butir kaliber 38), uang tunai Rp350.000, 1 tas coklat, 1 HP Nokia biru, 1 HP Nokia putih, 1 HP Nokia merah, 1 buku tabungan BRI Simpedes atas nama RB dengan nomor rekening 5218-01-012512-53-2, 1 lembar boarding pass tiket pesawat Lion Air atas nama RB dengan tujuan Makassar-Manokwari, 1 HP Samsung hitam.

Kapolda Papua  Barat Irjen Pol Dr. Tornagogo Sihombing saat jumpa pers, Selasa (17/11) didampingi Dirreskrimum Kombes Pol Ilham Saparona dan Kabid Humas AKBP Adam Erwindi menuturkan, penangkapan pelaku dan barang bukti senpi di wilayah Polda Papua Barat merupakan kesekian kalinya. Sebelumnya pada Februari lalu berhasil menangkap 3 pelaku dan saat ini sedang menjalani sidang di Pengadilan Negeri Manokwari.

Barang bukti diduga berasal dari  Filipina masuk ke Indonesia lewat laut di Sulawesi Utara. Kapolda menegaskan jajarannya bekerjasama dengan Satgas Operasi Nemangkawi akan terus melakukan pengawasan peredaran ilegal senjata api.  ”Dengan situasi Papua dan  Papua Barat saat ini pengawasan harus terus dilakukan. Jangan sampai senpi disalahgunakan untuk hal-hal yang dapat mempengaruhi situasi keamanan dan ketertiban,” tandas Kapolda.

Pada waktu yang bersamaan, Satgas Nemangkawi juga berhasil mengamankan pelaku peredaran senpi ilegal beserta barang bukti. Kapolda membeberkan, pedaran senpi dari Manado masuk ke Papua lewat transportasi laut. Sorong sebagai pintu masuk. Kemudian di bawa ke Manokwari dan Nabire lewat transportasi darat. ”Masuk lewat  Sorong kemudian dibawa ke Manokwari dan Nabire,” ujar Kapolda.

Kapolda membeberkan kronologis penangkapan terhadap 3 pelaku. Timsus Polda Papua Barat mendapat informasi. Pelaku yang pertama ditangkap SM diduga memiliki, menyimpan dan memperjualbelikan senjata api pada Selasa 3 Oktober 2020 sekitar pukul 06.30 WIT bertempat di samping PLTD Sanggeng. SM dibekuk saat berjalan menuju BLK (Balai Latihan Kehutanan).

Dari penangkapan SM, Timsus kemudian mengembangkan dan pada Jumat 6 Oktober 2020 sekitar pukul 10.00 WIT, di pintu kedatangan Bandara Rendani Manokwari dilakukan penangkapan terhadap pelaku penjual senjata api RB bersama anaknya (saksi) berinisial FM. Tak berhenti di situ Timsus Dirtreskrimum kembali mengembangkan. Tak berselang lama setelah penangkapan RB, Timsus membekuk KS  sekitar pukul 13.20 WIT di kediamannya di Susweni, Distrik Manokwari Timur. 

Kapolda melanjutkan, modus operandi peredaran dan perdagangan senpi ilegal ini, pelaku RB menawarkan penjualan senjata api dan amunisi kepada SM. Motifnya, RB mencari keuntungan. Sedangkan SM dan KS akan menggunakan senpi ini untuk menjaga diri dan mas kawin. Pelaku RB maupun SM dan KS mengaku baru pertama kali melakukan transaksi jual beli senjata api dan amunisi. ”Kami masih terus melakukan pengembangan,” tutur Kapolda lagi.

Ancaman hukumannya bagi ketiga tersangka, berdasarkan unsur pasal 1 ayat (1) UU 12 Tahun 1951 barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam memiliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan atau mengeluarkan dari indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun. (lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed