oleh

GKI Hadir Untuk Menjadi Berkat

-Metro-527 views

Ketua Klasis: Sudah 92 Tahun, Perlu ada Pemulihan Bagi Suku Moi

SORONG– Tanggal 26 Oktober setiap tahun menjadi hari bersejarah bagi umat GKI di Tanah Papua, karena pada tanggal dan bulan tersebut adalah hari lahir GKI di Tanah Papua dari masa Zending (transisi Pemerintahan Belanda). Tahun ini GKI telah berusia 63 tahun dan khusus di Klasis Sorong, Perayaannya dilaksanakan dalam bentuk ibadah etnik bernuansa budaya Papua pada tiap – tiap jemaat pada hari Minggu pagi pukul 09.00 WIT sampai selesai.

Selain itu, tidak kalah penting pada tanggal 27 Oktober setiap tahun adalah momen penting dan bersejarah bagi suku besar Malamoi yang mendiami wilayah Sorong, Karena injil pertama kali mendarat merobek peradaban suku besar Malamoi dari kegelapan menuju terang Kristus. Oleh karena itu 27 Oktober, keluarga besar Malamoi berduyung – duyun memadati pelataran tugu pendaratan Injil Manoi kompleks Perusahaan Perikanan Sorong untuk merayakan ibadah syukur Injil masuk di tanah Malamoi ke 92 Tahun.

ibadah Padang yang mulai berlangsung pukul 16.00 WIT, dipimpin Pdt. Ishack Kwatolo, S.Th didampingi puluhan hamba Tuhan yang juga adalah putra-putri pilihan anak anak Malamoi berlangsung hikmat. Walaupun diguyur hujan gerimis, namun tidak menyurutkan animo umat dan kelompok paduan suara, tari tarian, vocal group, solo dan sebagainnya, untuk memuji kebesaran atas peristiwa penting yang Tuhan telah lakukan 92 tahun silam.

Ketua Klasis GKI Sorong, Pdt. Ischak Kwatolo,S.Th menjelaskan, GKI di Tanah Papua selama 63 Tahun telah menunjukan eksistensinnya dalam misi pekabaran Injil di tanah Papua. dalam peradabannya, GKI telah berkontribusi besar untuk orang Papua, baik orang asli Papua maupun non Papua yang lahir besar di atas tanah Papua.  oleh karena itu, dalam visi besar GKI di Tanah Papua, “Datanglah Kerajaan Allah” maka GKI di Tanah Papua, Klasis Sorong senantiasa mendorong badan pelayan jemaat untuk mendorong peningkatan kualitas iman, mendorong pertumbuhan sumber daya manusia dan meningkatkan sumber daya kemandirian ekonomi jemaat. 

GKI di Tanah Papua, Lanjut Kwatolo, bukan hanya milik orang Papua atau agama atau suku, tetapi GKI adalah gereja yang universal, gereja yang am, semua etnis suku bangsa ada di GKI. “Pada usia yang ke 63 tahun, GKI tetap eksis dan lewat Imbauan Sinode bahwa GKI berkomitmen menjaga keamanan negeri ini dan GKI hadir untuk menjadi berkat bagi orang Papua dan semua suku bangsa yang mendiami tanah ini,” tuturnya. (ris)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed