oleh

Gereja Harus Menjadi ‘Garam dan Terang’

SORONG – Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan didampingi Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu,M.Th, Pangdam XVIII Kasuari Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, Kapolda Papua Barat Irjen Pol. Tornagogo Sihombing, Bupati Maybrat Drs. Bernard Sagrim,MM,  membuka Rapat Kerja IV Sinode GKI di Tanah Papua, Selasa (16/3) ditandai dengan pemukulan tifa secara bersamaan. 

Raker IV Sinode GKI yang dihadiri 450 utusan dari 71 klasis dan atau 1.945 jemaat, berlangsung selama tiga hari sampai 19 Maret mendatang.

Dalam sambutannya, Gubernur Papua Barat mengatakan, mewujudkan visi GKI di Tanah Papua ”Datanglah Kerjaaan Mu (Allah)” dan misi besarnya “Menjadi gereja yang dewasa, mandiri dan visioner” di tengah-tengah dinamika dunia ini yang terus berubah tidaklah mudah, namun yakinlah bahwa dengan pertolongan dan kuasa Allah terus memampukan kita untuk terus menghadirkan tanda-tanda kasih dan anugerah Allah bagi dunia. Dengan demikian, Sinode GKI dipanggil dan dituntut untuk menjaga manusia Papua dan alamnya supaya hidup rukun dan damai di atas tanah yang diberkati ini. 

“Kita ketahui bahwa tanah Papua tanah kaya, surga kecil yang jatuh ke bumi. Untuk itu saya ajak kita semua, mari kita jaga alam ciptaan Tuhan dan alam juga jaga kita. Kita jaga hutan, hutan jaga kita. Kita jaga laut, laut jaga kita. Kita hijaukan bumi, kita hijaukan langit. Kita harus tinggalkan mata air, jangan kita tinggalkan air mata untuk anak cucu kita,” ucap Dominggus Mandacan.

Dikatakannya, 156 tahun Injil telah mendarat di Pulau Mansinam melalui rasul Otto dan Geisler. Dengan doa sulung “ Dengan Nama Tuhan Kami menginjakan kaki di Tanah ini” dan buah penginjilan yang ditabur, Papua telah menjadi berkat bagi semua suku bangsa dan bahkan kita yang ada diatas tanah ini diberkati dari buah penginjilan itu. Oleh karenanya, kepada seluruh umat terutama warga GKI, agar berkat yang sudah kita peroleh itu kita pergunakan untuk memberkati orang lain. “Gereja tidak boleh terperangkap dalam suasana atau tradisi yang bisa saja menghambat peran gereja yang sesungguhnya, yakni menjadi terang dan garam bagi dunia dan bagi kita semua,” ucap orang nomor satu di Papua Barat itu sembari menambahkan gereja harus bersikap aktif namun tetap berhati-hati dalam melaksanakan misi penginjilannya di tengah-tengah dunia yang terus berubah-ubah ini.

Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu,M.Th dalam sambutannya mengatakan, sesuai pedoman tata pelayanan GKI di Tanah Papua, ada empat agenda pokok yang dibahas dalam rapat kerja IV ini. Pertama, mengevaluasi pelaksanaan program dan anggaran hasil ketetapan raker III tahun 2020. Kedua, membahas dan menetapkan program kegiatan dan anggaran tahun 2021. Ketiga, membahas pokok-pokok kegiatan panggilan gereja yang akan dibawa dan ditetapkan pada forum sidang Sinode XVIII tahun 2022 di Waropen. “Hal penting yang perlu saya ingatkan adalah di dalam membahas setiap agenda-agenda program tetapi juga secara khusus menyangkut Amandemen Tata Gereja adalah prioritas di raker IV ini,” ucap Ketua Sinode.

Mantan Ketua Klasis GKI Sorong dua periode ini mengatakan, kita perlu melihat apa dan bagaimana situasi hari ini, kita tidak berpegang pada situasi status quo, tradisi-tradisi, tetapi situasi hari ini mengajak kita untuk harus cepat keluar berpikir dan juga bertindak. “Situasi kita saat ini bukan saja di Papua tetapi di seluruh dunia memaksa kita untuk harus keluar dari kebiasaan-kebiasaan kita. Misalnya dalam mengamandemen tata gereja, kita harus melakukannya dengan hati-hati dan bertanggungjawab untuk kebaikan gereja di masa yang akan datang,” pesan Mofu.

Ditambahkannya, juga yang terpenting saat ini adalah menjadi forum evaluasi bagi GKI apakah sudah melaksanakan misi pekabaran Injil sampai menjangkau suku-suku terasing atau belum, dan juga untuk pelayanan diakonia baik di aras Sinode, Klasis dan Jemaat sudah dilaksanakan secara baik atau belum. “Oleh karenanya di forum raker IV ini kita tidak hanya beretorika, tetapi harus ada tindakan riil untuk menjangkau mereka yang belum tersentuh pelayanan,” pungkasnya.

Bupati Maybrat, Drs. Bernard Sagrim,MM yang juga Ketua Panitia Raker IV Sinode GKI di Tanah Papua dalam laporannya bahwa tagline Raker IV Sinode GKI di Tanah Papua adalah Sukses Amandemen, Bebas Covid-19 dan Pulang dengan Damai. Oleh karenanya, tujuan dan harapan besar dari pelaksanaan raker ini adalah seluruh agenda yang dibahas dan diputuskan dalam forum raker dapat terlaksana dengan baik, dan pulang dengan sukacita. “Terutama sukses program, sukses amandemen tata GKI di Tanah Papua, sukses dalam merumuskan berbagai rekomendasi strategis teologis yang akan ditindaklanjuti dalam sidang Sinode GKI ke XVIII di Waropen Aktober 2022 mendatang,” jelasnya. 

Ditegaskannya, walaupun raker ini mengumpulkan peserta, tamu undangan yang cukup banyak, namun sesuai arahan Kapolda, Pangdam, Gubernur dan juga Panitia Pelaksana, raker ini berjalan dalam penerapan protokol kesehatan yang ekstra ketat. Raker IV ini juga boleh dikatakan layaknya Sidang Sinode, karena berlangsung cukup meriah. Paduan suara etnik Papua asal Maybrat yang meraih juara pada ajang lompa Pesparawi tingkat Provinsi Papua Barat lalu, Trio Papua dan Vocal Grup campuran dewasa yang dikumandangkan pada momentum raker membuat suasana berlangsung hikmat. (ris)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed