oleh

Formasi CPNS 2019 Diumumkan 30 Juli ?

Bernard Sagrim : Penerimaan CPNS, Kepala Daerah Tidak Punya Kewenangan Mengintervensi Sedikitpun

SORONG – Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Kabupaten/Kota se-Papua Barat termasuk Kabupaten Maybrat, rencananya secara serentak mengumumkan hasil tes CPNS formasi tahun 2018 yang seleksinya digelar tahun 2019 lalu, pada 30 Juli mendatang. Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Maybrat, Drs Bernard Sagrim,MM saat menyampaikan arahan pada jajaran pejabat dan ASN Kabupaten Maybrat di Balai Pertemuan Sekretariat Pemerintah Kabupaten Maybrat di Kumurkek, Senin (6/7).

Terkait rencana pengumuman hasil seleksi CPNS formasi 2018, Bernard Sagrim mengatakan bahwa dirinya dua hari lalu menggelar rapat dengan Gubernur Papua Barat dan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) secara vitual untuk mendapatkan arahan teknis terkait persiapan pengumuman hasil tes CPNS Kabupaten Maybrat formasi 2018. Dikesempatan rapat virtual tersebut, Bupati Maybrat meminta kepada Gubernur Papua Barat dan Kepala BKN, supaya bersamaan dengan pengumuman hasil seleksi CPNS 2018, formasi umum tahun 2019 dan 2020 juga sudah harus disampaikan dan diumumkan ke publik.

“Kemarin saya usulkan kepada Bapak Gubernur dan Kepala BKN bahwa kita umumkan ini (formasi 2018) tetapi formasi yang berikut (2019-2020) juga sudah harus kita pegang di tangan sebelah. Dan puji Tuhan, Gubernur sudah sangat setuju dan itu sudah menjadi kebijakan. Jadi kita terima di satu tangan, tetapi di tangan sebelah juga kita tawarkan,” kata Bernard Sagrim sembari mengatakan bahwa dalam percakapannya dengan Gubernur Papua Barat dan Kepala BKN, ia meminta supaya penerimaan CPNS formasi 2019 dan formasi 2020 dijadikan satu untuk diseleksi.

Sagrim menyatakan bahwa untuk penerimaan CPNS formasi 2018, kepala daerah tidak punya kewenangan mengintervensi sedikitpun. “Tolong disampaikan bahwa formasi ini (2018), kami kepala daerah tidak diberi kebijakan untuk menentukan, itu hasil anak-anak itu sendiri,”  kata Bernard Sagrim sembari menambahkan bila ada isu bahwa berdasarkan hasil rekom nama ini atau nama itu sudah tembus, jangan percaya karena itu sama sekali tidak benar dan atau belum final.

Ditambahkannya, kalaupun ada formasi tertentu seperti misalnya guru pendidikan Islam, farmasi, atau lainnya, ada orang non Papua yang lulus seleksi, bisa saja dibenarkan karena untuk formasi tersebut mungkin pendaftarnya tidak ada yang orang asli Papua. “Jadi tolong disosialisasikan kepada anak-anak kita bahwa siapapun yang lulus ya itu hasil kerja dia sendiri, bukan intervensi siapa-siapa. Kalaupun ada marga tertentu yang dominan, contoh marga Kocu di apoteker, guru agama Katolik, dokter dan lain-lain, mungkin karena dalam formasi tersebut marga Kocu yang dominan dalam spesifikasi pendidikan tertentu,” pungkasnya. (ris)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed