oleh

Ekspedisi Mangrove di Papua Barat

-Manokwari-294 views

MANOKWARI-Yayasan Econusa bersama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, Universitas Papua (Unipa), dan World Resources Institute (WRI) Indonesia, melakukan perjalanan penelitian Ekspedisi Mangrove pesisir pantai selatan di Provinsi Papua Barat pada 2 – 17 Desember 2019.

“Mangi-mangi atau pohon bakau/mangrove yang ada di pesisir selatan Papua Barat merupakan bagian dari ekosistem mangrove terbaik yang bisa kita jumpai di Papua,” kata Bustar Maitar, Ketua Yayasan Econusa, saat membuka briefing teknis tim ekspedisi di atas Kapal Kurabesi  di Pelabuhan Kaimana, dalam siaran pers  yang diterima Radar Sorong, Selasa (3/12).

Sebagai salah satu negara kepulauan paling besar di dunia, Indonesia memiliki peran yang signifikan dalam aspek pengelolaan potensi kawasan pesisir sebagai upaya dalam menangani isu perubahan iklim dan pengelolaan mangrove berkelanjutan. Berdasarkan data Conservation International Indonesia (CII), Indonesia memiliki 3,1 juta hektar wilayah mangrove. Angka tersebut setara dengan 22% ekosistem mangrove di seluruh dunia. Dan wilayah mangrove yang terluas ada di Provinsi Papua Barat dengan luas 482,029 hektar.

Selain menyimpan cadangan karbon yang besar, mangrove juga memberikan manfaat ekologi dan ekonomi kepada masyarakat Papua Barat. Diantaranya  memberikan perlindungan dari ombak besar di laut dan mangrove merupakan tempat biota laut berkembangbiak, seperti kepiting bakau.

Melihat pentingnya ekosistem mangrove tersebut bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam, dan dalam rangka mendukung upaya konservasi dan peningkatan pengelolaan mangrove, Yayasan Econusa didukung Balitbangda Provinsi Papua Barat dan Unipa melakukan Ekspedisi Mangrove yang bertujuan menginventarisir vegetasi mangrove di pesisir selatan dan interaksi masyarakat terhadap ekosistem mangrove.

Bustar Maitar menambahkan, ekspedisi ini juga akan fokus pada pengumpulan cerita dari masyarakat tentang bagaimana kehidupan mereka terkait hutan mangrove. Selama dua minggu tim peneliti akan banyak mengamati, melakukan wawancara mendalam dengan masyarakat, merekam  semua hal terkait mangrove, lalu mencatat dan mengolah hasilnya untuk disajikan dalam paparan yang menarik bagi publik.

“Tim akan melakukan pengamatan mangrove dan singgah di kampung untuk bertemu dengan masyarakat di empat kabupaten. Yaitu Kabupaten Kaimana, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Sorong Selatan,” kata Natalie Tangkapayung dari Yayasan Econusa, yang ditunjuk oleh Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat sebagai pemimpin ekspedisi ini.

Di sepanjang pantai selatan dan utara Papua Barat hampir seluruhnya memiliki mangrove dengan tipe yang berbeda-beda. Sehingga penting untuk memetakan tipe, distribusi jenis dan formasi mangrove di berbagai wilayah pesisir di Papua Barat. “Hasil dokumentasi mangrove melalui ekspedisi ini sangat bermanfaat dalam menyusun rencana kerja pengelolaan ekosistem mangrove,” menurut Jimmy Wanma, peneliti dan dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Papua.

Sementara Ezrom Batorinding, peneliti di Balitbangda Papua Barat menyatakan bahwa ekspedisi ini penting untuk memberikan gambaran terkini kondisi dan potensi mangrove di Papua Barat.

“Kolaborasi berbagai elemen dalam Ekspedisi Mangrove ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan mangrove,” ujarnya. Belum banyak informasi akurat mengenai mangrove, khususnya terkait ancaman terhadap ekosistem mangrove dan interaksinya dengan masyarakat pesisir.

Hasil dari Ekspedisi Mangrove ini akan diberikan kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat untuk menjadi rekomendasi dalam menyusun rencana kerja pengelolaan mangrove dalam upayanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan juga kelestarian hutan.(lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed