oleh

Dua Tersangka Terancam Hukuman Mati

Polisi Akan Gelar Rekonstruksi Perkara Penikaman Secara Terbuka

MANOKWARI – Kapolres Manokwari AKBP Dadang Kurniawan Winjaya memperlihatkan pisau badik milik tersangka AA  yang dipakai menikam Daud Wambrauw (DW) dan Hugo Saidui (HS) hingga tewas.  Badik yang dihujamkan ke tubuh korban memiliki panjang sekitar 15 Cm, runcing bagian depannya. 

Kapolres didampingi Wakapolres Kompol Andarias Lipan, Kabag Ops AKP Eduard Simanjuntak dan Kasat Reskrim AKP Musa Jedi Permana saat konfrensi pers, Jumat (26/3), juga memperlihatkan barang bukti lainnya di antaranya baju korban, handphone milik tersangka AA serta sepeda motor. Barang bukti HP dipakai tersangka AA untuk menghubungi temannya berinisial MS yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolres mengatakan, pada awalnya hanya ada satu tersangka yakni AA, namun setelah dilakukan pemeriksaaan terhadap sejumlah saksi, ada tersangka baru berinisial MS. Kedua tersangka kini ditahan di sel tahanan Mako Brimob. Sedangkan saksi yang telah dimintai keterangan sebanyak 17 orang termasuk ladies karaoke. Dari 17 saksi yang telah dimintai keterangan, namun keterangan 2 saksi lainnya dinilai lemah.

Kedua tersangka dijerat dengan pasal pembunuhan berencana atau penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya seseorang. Kapolres mengatakan, dari gelar perkara didapati kesimpulan bahwa peran dua tersangka AA dan MS sama. AA dan MS diancam dengan hukuman mati atau seumur hidup. “Kedua tersangka memiliki peran sama sehingga dijerat dengan pembunuhan berencana Pasal 340 KHUP,” ujar Dadang. AA menikam dua korbannya, DW dan HS karena ketersinggungan. Kapolres menuturkan, AA merasa terhina atas ucapan korban sehingga menusuk DW dan HS dengan pisau badik. “AA merasa ucapan dari korban kurang enak didengar, itu yang sementara kami dapat. Ini masih berproses, kemungkinan-kemungkinan masih ada tambahan,” jelasnya.

Kasus penikaman terhadap DW dan HS ini terjadi, Selasa (23/3) diri hari sekitar pukul 04.30 WIT, di depan mess ladies karaoke di Transito Wosi.  AA sempat masuk ke salah satu kamar (A6) untuk menelepon MS. Saat menghubungi MS, AA mengaku dikeroyok. 

Polres akan mengundang ahli untuk mendapatkan keterangan, untuk menguatkan   bahwa kasus ini sebagai perbuatan pembunuhan berencana. Sedangkan rekonstruksi akan dilaksanakan dalam waktu dekat dan terbuka. “Kami sudah berkoordinasi dengan JPU (Jaksa Penuntut Umum) tentang apa-apa yang perlu dilengkapi,” tutur Kapolres.

Dadang mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga situasi kamtibmas. Bila ada informasi lain terkait kasus pembunuhan ini dapat disampaikan ke Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Manokwari untuk disikapi. “Akan diupayakan menghadirkan kedua tersangka dalam rekonstruksi,” ucap Kapolres lagi. Saat ditanya apakah kedua tersangka mengkonsumsi alkohol, Kasat Reskrim, AKP Musa Jedi Permana hanya mengatakan, di TKP ditemukan beberapa botol miras di kamar A1. 

Seperti diketahui, kasus pembunuhan DW dan HS ini menimbulkan gejolak. Berawal dari pengusung jenazah HS dari kamar mayat RSUD Manokwari ke rumah duka di Transito Wosi. Awalnya tertib, namun sampai di Jalan Trikora Wosi, terjadi pelemparan bangunan di sepanjang jalan, juga diwarnai aksi pemblokiran jalan dan bakar ban bekas. (lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed