oleh

Dua Gadis Belia Dipekerjakan di Lokalisasi

Polisi Tetapkan Pemilik Wisma Sebagai Tersangka

MANOKWARI – Dua gadis belia, DS berusia 13 tahun dan GA yang berusia 14 tahun, menjadi korban pedagangan manusia atau human trafficking. Berangkat dari kampung halamanya di Jawa, GA berangan-angan mendapatkan pekerjaan yang baik saat tiba di Manokwari, namun ternyata gadis manis ini malah dipekerjakan di lokalisasi 55 Maruni, Manokwari. Kedua gadis belia ini dibawa oleh seseorang dan ditawarkan kepada salah satu pemilik wisma atau café. Kartu Tanda Penduduk (KTP) DS dan GA dipalsukan sehingga seolah-olah keduanya berusia 18 tahun.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua Barat Kombes Pol Adam Erwindi,S.IK,MH yang dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya kasus human trafficking dengan korban DS dan GAA. “Kedua korban sedang dalam pengawasan dan dijaga oleh Polwan di suatu tempat,” kata Kabid Humas yang ditemui di kantornya, Jumat (3/9).

Praktek perdagangan anak di bawah umur ini terungkap setelah pihak keluarga melapor ke Polres Pati Provinsi Jawa Tengah pada awal Agustus 2021. Polisi kemudian melakukan penelusuran dan kedua korban terdeteksi berada di wilayah Manokwari Provinsi Papua Barat.  Pihak Polda Jawa Tengah kemudian berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Papua Barat, pada 29 Agustus. 

Setelah dilakukan pendalaman, DS dan GA diketahui berada di lokalisasi 55 Maruni. Polisi selanjutnya mendatangi lokalisasi dan menemukan DS dan GA yang dipekerjakan di salah satu wisma/café. “Orang tua melapor ke Polres Pati bahwa anaknya GA berusia 14 tahun  hilang. Anggota mendatangi TKP ditemukan ada 2 korban yang dipekerjakan di lokaslisasi 55. Diduga mereka menggunakan KTP palsu, usia dibuat 18 tahun lebih untuk mengelabui aparat,” jelas Adam Erwindi.

Kedua gadis belia ini diperjualbelikan oleh dua pemilik wisma di lokalisasi 55 Maruni. Kabid Humas menuturkan, kedua korban direkrut seseorang melalui Kabupaten Karawang. Awalnya DS dan GA direkrut melalui ibu C, salah satu  pemilik wiswa di lokalisasi 55 Maruni. Kemudian ibu C menjual kedua korban ke ibu A untuk dipekerjakan di wismanya. “Ibu A mendapatkan keterangan bahwa yang bersangkutan menerima 2 anak tersebut untuk bekerja di wismanya  karena direkrut melalui Ibu C yang juga pemilik wisma/café, dengan KTP yang diduga dipalsukan datanya dari perekrut di Kabupaten Karawang,” ujar Adam Erwindi.

Saat ini, kedua korban ditempatkan di suatu lokasi yang dijaga Polwan dan dalam pengawasan. Penyedik telah meminta keterangan ibu A dan Ibu C, pemilik wisma, dan telah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi juga sedang memburu orang yang merekrut korban sampai dipekerjakan di lokalisasi. “Kedua tersangka merupakan pemilik wisma di lokalisasi 55 Maruni,” tutur mantan Kapolres Manok­wari ini. (lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed