oleh

DP3AKB Sosialisasikan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak

-Tambrauw-458 views

SAUSAPOR – Pemerintah Kabupaten Tambrauw melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan  Perlindungan Anak Keluarga Berencana (DP3AKB) menggelar Sosialisasi korban tindak kekerasan terhadap anak di Aula Wanita Kabupaten Tambrauw pada Jumat (12/7).

Disadari atau tidak, kekerasan terhadap anak kerap terjadi, baik kekerasan fisik, seksual, penganiyaan emosional, maupun pengabaian hak anak. Oleh karena itu, peristiwa kekerasan terhadap anak bukan hanya untuk diprihatinkan, namun diperlukan tindakan nyata yang mengedukasi masyarakat terkait pencegahan dan dampak buruk kekerasan terhadap anak.

Staf ahli Bupati Tambrauw Hendrik Lumbangbatu dalam laporannya, mengatakan, sosialisasi yang dilaksanakan berdasarkan Undang – Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas UU Nomor 35 Tahun 2014.

“Data mengatakan bahwa salah satu tempat kekerasan tertinggi itu terdapat di sekolah, disadari atau tidak. Oleh karena itu, kami merasa penting untuk melakukan sosialisasi,” tuturnya.

Dia menekankan, kunci membangun budaya kesadaran dalam mencegah kekerasan tersebut adalah pemenuhan hak – hak anak. Menurutnya, kesadaran akan pemenuhan hak – hak anak dapat menjadi nilai budaya yang dengan sendirinya memunculkan tanggung jawab moral melindungi anak.

“Kalau kesadaran muncul, itu akan menjadi sesuatu nilai budaya yang nantinya tanpa ada komando lagi akan serta merta dan merasa memiliki tanggung jawab moral yang sama terhadap bagaimana melindungi anak – anak,” katanya.

Ia menjelaskan tindakan kekerasan terhadap anak bukan hanya tidak memenuhi hak – hak anak saja, namun pemberian hak – hak anak secara berlebihan juga termasuk dalam kategori kekerasan terhadap anak.

 “Selama ini kita kadang tidak menyadari, begitu sayangnya kepada anak bagaimana dampak yang kita lakukan apresiasi berlebihan itu pada akhirnya tidak disadari bahwa itu kekerasan,” ucapnya.

Dia menambahkan, kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga sering kali tidak disadari oleh orang tua itu sendiri. Padahal anak merupakan aset terbesar yang dimiliki orang tua. Untuk itu, ia mengimbau agar pemenuhan hak – hak dilakukan dengan baik dan proporsional.

“Anak kalau sudah dimarahi orang tuanya, pelampiasannya ke teman – temannya, akhirnya anak ini menjurus hal – hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (raf)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed