oleh

Ditpolairud Selamatkan Penyu Langka

Juga Tangkap Pembeli dan Penjual Bahan Peledak Bom Ikan

SORONG – Seekor penyu ­hijau betina yang tergolong langka, berhasil diselamatkan oleh personel Direktorat Polairud Polda Papua Barat, Kamis (29/4) sekitar pukul 11.00 WIT di Pantai Suprau Kota Sorong. Dirpolairud Polda Papua Barat melalui Kasubdit Gakkum, Kompol Syarifur Rahman menjelaskan, sebelumnya pihak Polairud Polda Papua Barat mendapatkan informasi seekor penyu yang sedang terluka. Saat melakukan pengecekan ke lokasi, ternyata penyu tersebut sudah dibawa dua orang berinisial W dan F dengan mobil. ”Kemudian pihak kami menyetop mobil tersebut dan melakukan penge­cekan dan didapati satu ekor penyu dengan kondisi terluka di bagian leher, seperti ditusuk,” jelasnya kepada Radar Sorong, kemarin.

Setelah diamankan, sambung Kompol Syarifurrahman, pihaknya langsung menghubungi BKSDA Sorong dan selanjutnya dikoordinasikan dengan pihak Bagian Penyelamatan Hewan dan Yayasan Penyu Papua, serta didatangkan dokter hewan untuk mengobati luka penyu hijau tersebut. Selanjutnya penyu  dibawa ke Politeknik Perikanan Sorong untuk dijaga sementara. ”Jika kondisi penyu sudah membaik, penyu tersebut akan dilepasliarkan di alam bebas,” ungkapnya.

Diakui Syarifurrahman, berdasarkan keterangan dari BKSDA, Loka dan Yayasan Penyu Papua, penyu hijau dengan panjang 77 cm dan lebar 67 cm, dan penyu hijau termasuk hewan yang dilindungi karena usianya bisa mencapai 300 tahun, serta hanya bertelur saat mencapai usia 50 tahun. ”Jadi, penyelematan 1 penyu ini sama dengan penyelamatan 1 generasi. Penyu hijau ini sekali bertelur bisa 100 hingga 200 telur. Makanya, hewan ini langka dan dilindungi karena terancam punah lantaran banyak yang berburu untuk mengkonsumsi dagingnya atau diperjualbelikan,” terangnya seraya menambahkan bahwa habitat Penyu Hijau sebagian besar beredar di daerah Raja Ampat, atau di pesisir pantai Saoka.

Pihaknya lanjut Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Papua Barat, masih melakukan penyelidikan terhadap pelaku yang melukai penyu tersebut. Pihaknya sudah meminta keterangan dari dua orang yang membawa penyu hijau. Kedua orang ini, masih terduga dan masih  dilakukan penyidikan. ”Tapi unsur-unsur keterlibatan dan lain-lain ada,” pungkasnya.

Sementara itu, personel Ditpolairud Polda Papua Barat bekerjasama dengan tim Gegana Brimob, berhasil mengamankan dua pelaku berserta lima botol bahan peledak dan bom ikan, Selasa (27/4). Kompol Syarifur Rahman membenarkan terkait diamankannya dua pelaku berserta lima botol berisikan bahan peledak dan bom ikan. Kini, bahan peledak tersebut telah dibawa oleh personel Polairud ke Kota Makassar untuk dilakukan uji laboratorium.  ”Dua pelaku tersebut merupakan nelayan lokal berinisial PY (Pembeli) dan L (penjual). Berdasarkan keterangan PY, dirinya sudah beberapa kali membeli bahan peledak di L,” jelas Kompol Syarifur Rahman kepada Radar Sorong, Minggu (2/4).

Dijelaskannya, kedua nelayan tersebut saat dilakukan penanganan didapati barang bukti berupa 1,5 Kg bahan peledak berserta sumbu sebanyak 10. Kasubdit Gakkum mengatakan, dari 1.5 Kg bahan peledak, dapat membuat bom ikan kurang lebih 20 dengan ukuran botol Kraingdaeng. ”Saat melakukan penyelidikan di tempat L, kami  menemukan 5 botol bahan peledak berbagai ukuran, ukuran besar 3 botol dan ukuran kecil 2 botol bahan peledak,” terangnya

Sementara itu, berdasarkan keterangan pelaku YP, dirinya sudah sering menggunakan bahan peledak untuk mencari ikan tersebut di sekitar perairan Kasim atau pelairan laut luas untuk meminimalisir suara bom terdengar oleh masyarakat atau pihak berwajib. Karena, untuk letusan dari sumbunya saja bunyinya seperti letusan pistol, apalagi dengan bomnya maka suara ledakan itu radiusnya bisa mencapai 200 meter. ”Kadang ada nelayan yang sedang mencari ikan dengan alat tradisional mendengar suara ledakan dan mereka menghubungi kami. Namun, pelaku memang sangat sulit ditangkap,” ungkapnya.

Untuk menangkap pelaku bom ikan, Syarifur Rahman mengakui pihaknya membutuhkan waktu dan penyelidikan yang cukup panjang. ”Dampak dari ledakan bom ikan dapat mematikan ikan berukuran kecil hingga besar, bahkan yang paling parah dapat merusak terumbu karang,” imbuhnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed