oleh

Diduga Ditelantarkan, Buruh Unjuk Rasa

SORONG – Prihatin dengan nasibnya yang diduga ditelantarkan, buruh menggandeng LSM Komunitas Independen Bersama Asas Rakyat (KIBAR) melakukan unjuk rasa di depan kantor PT. Mariat Utama Kota Sorong, Km 9, Jumat (19/2), mempertanyakan hak-hak buruh yang tidak terakomodir sesuai dengan UU Perburuan.

Presiden Dewan Pimpinan Pusat  Kibar, Andreas R. Lasut,SH,T.Teol yang turur hadir dalam aksi tersebut menyampaikan buruh yang bekerja dibawah PT. Mariat Utama tidak mendapatkan THR hingga BPJS,  bahkan kecelakaan salah satu buruh juga  tidak diindahkan oleh PT. Mariat Utama. ”Kami mulai dari DPP, DPO (Dewan Pimpinan Otoritas) dan Dewan Pimpinan Teritorial (DPT) Kota Sorong bersama-sama pengurus datang menyampaikan aspirasi sebagai aktifis dan  kami ultimatum kepada Direktur PT Mulia Utama untuk dapat menerima aspirasi kami dan mengakomodir seluruh karyawan yang dipekerjakan dianggap hanya sebagai buruh lepas,” jelasnya kepada Radar Sorong, kemarin

Menurutnya, perbuatan tersebut melanggar hak asasi manusia dan melanggar UU Perburuan. Jika tidak ada tindakan persuasif atau itikad baik dari PT Mariat Utama, pihaknya akan membawa permasalahan tersebut ke Disnaker Kota Sorong dan Pengadilan Hubungan Industrial untuk mempertegas dan memperjuangkan hak-hak buruh yang sudah bekerja selama 8 tahun tetapi tidak diakui oleh PT Mariat Utama. ”Tadi melalui kepolisian, pihak perusahaan akan mengadakan mediasi besok di Mariat Hotel,” ungkapnya.

Salah satu buruh PT. Mariat Utama, Jimbris Ranggo mengungkapkan bahwa ia telah dipekerjakan sebagai buruh lepas (Supir truk) kurang lebih 8 tahun tanpa adanya Tunjangan Hari Raya (THR) dan BPJS Kesehatan. Jimbris mengaku ia bekerja setiap hari  mulai dari pukul 08.00 Wit, bahkan terkadang hingga pukul  20.00 Wit untuk mengantarkan pesanan para langganan PT. Mariat Utama.  ”Pada 16 Maret 2020 saya mengalami kecelakaan, rekan saya secara tidak sengaja menabrak dan menyeret saya yang mengakibatkan alat kelamin saya tidak berfungsi dengan baik,” tuturnya.

Jimbris mengisahkan, awalnya pukul 06.00 Wit, ia bersama rekannya berusaha menyalakan mobil truk dengan cara ditarik lantaran aki mobil tersebut bermasalah, aingga akhirnya mobil bisa berfungsi kembali. Saat ia berniat membuka ikatan tali tersebut, tanpa sadar rekannya menabrak dan menyeretnya sejauh 3 meter. ”Sebelumnya saya sudah beritahukan kepada Supervisor kami  untuk mengganti aki mobilnya, tapi selama 1 minggu tidak direalisasi permintaan saya sehingga ketika kecelakaan tersebut akhirnya saya dilarikan ke rumah sakit,” ungkapnya.

Menurutnya, selama menjalani pengobatan, saat berada di umah sakit hingga di rumah, jangankan bantuan, pihak perusahaan seperti enggan memperdulikannya. Kurang lebih 4 bulan ia menjalani pengobatan pihak perusahaan pun tidak mengatakan apapun.  Akhirnya Jimbris mendatangi PT Mariat Utama untuk mempertanyakan haknya usai ia mengalami kecelakaan tersebut dan bagaimana solusi dari perusahaan, sebab ia pun sudah tidak memiliki pekerjaan lagi sedangkan keluarganya membutuhkan makan dan minum. ”Saya mempertanyakan hak saya dan dari perusahaan pun mengatakan akan memikirkan dimana saya ditempatkan. Tapi ada pernyataan dari dalam perusahaan bahwa saya ke sana minta kerja, ini fitnah. Bahkan mereka mengatakan bahwa kami bukan buruh lepas melainkan jasa yang dipakai perusahaan bila dibutuhkan. Tapi kami masuk setiap hari, masuk pukul 08.00 Wit dan kadang pulang 20.00 WIT, kalau terlambat kami dimarah,” tuturnya.

Diakuinya, ia mendapatkan slip gaji bertuliskan supir borongan yang ditandatangani langsung Direkrut PT. Mariat Utama, dimana gaji borongan yang ia dapati senilai  Rp 140 per ret atau sekali mobil keluar, dan uang tersebut akan dibagi dengan rekan kerjanya. ”Kami ada 6 orang yang statusnya tidak jelas, bahkan ada 8 orang yang kerja sistem kontrak tapi gaji harian dan saya punya bukti itu,”ungkapnya

Sementara itu, Supervisor PT Mariat Utama Sorong, Awaluddin mengungkapkan, Jimbris yang merupakan supir lepas memang bekerja di PT. Mariat Utama, namun saat mengalami kecelakaan belum di waktu kerja. ”Kami perusahaan mengikuti apa yang menjadi tuntutan mereka, namun kami memiliki versi yang berbeda juga,” ucapnya.

Awaluddin membantah pihak perusahaan tidak perduli pada apa yang terjadi terhadap Jimbris, bahkan dari Owner pun mengungkapkan dimana Jimbris harus bekerja lantaran Jimbris meminta untuk dipekerjakan di gudang tetapi para pekerja di gudang sudah terisi penuh. Diakui Awaluddin, para buruh lepas memang tidak mendapatkan THR maupun BPJS dan aturan tersebut sudah ada sebelum ia masuk bekerja. Lagian, sebenarnya perusahaan mampu saja memberikan THR hanya saja selama ini dari buruh tidak pernah membahas terkait THR maupun gaji, bila didiskusikan atau disampaikan maka aspirasi tersebut pasti ditampung. ”Sebenarnya disini ada dua kategori karyawan yakni buruh lepas (borong) dan karyawan, kebetulan saat itu beliau masuk sebagai buruh borongan. Untuk menjadi karyawan tetap pun berdasarkan penilaian dari Owner,” ungkapnya.

Terkait pekerjaan yang menurut Jimbris mulai 08.00 Wit dan terkadang pulang pukul 20.00 WIT, Awaluddin mengatakan sebenarnya saat melakukan pengantaran barang ke toko-toko, otomatis akan antri jika ada mobil muatan lainnya. Lagipula tidak setiap hari para buruh bekerja seperti itu, kadang bila buruh kelelahan maka mereka akan pulang dan keesokan hari baru diantar kembali. ”Kadang sekitar  pukul 15.00 atau 16.00 WIT mobil sudah terpakir di gudang. Sebenarnya, sebelum bekerja otomatis para calon pekerja ditanya apakah mau menerima pekerjaan dengan gaji yang ditawarkan atau tidak. Kalau tidak yah tidak dipekerjakan, tapi kan mereka terima,” pungkas Awaluddin. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed