oleh

Dengan Mesin, Sehari Satu Pohon

-Metro-53 views

Berbeda dengan sebelumnya, pengolahan sagu kini tidak lagi dilakukan secara manual. Memperoleh  alat pengolahan sagu dari pemerintah sangat membantu petani sagu dalam pengolahan sagu secara cepat.  

Jika 1 pohon sagu biasanya dikerjakan dalam waktu seminggu, dengan menggunakan alat, petani dapat megerjakan 1 pohon sagu dalam waktu 1 hari.  “Kalau sekarang lebih mudah, 1 hari bisa 1 pohon, kalau dulu, manual 1 pohon bisa sampai 1 minggu,” terangnya.  

Meski demikian,  ia masih mengharapkan adanya bantuan alat peras sagu sehingga lebih mempercepat proses pengolahan dan menambah jumlah pohon yang dikerjakan. “Tapi kalau peras, kita masih manual,  kalau sudah ada alatnya,  sehari bisa sampai 3 pohon,” ujar Melkianus.  

1 Pohon Sagu berukuran normal, dapat menghasilkan 50 Kg sagu yang terbagi dalam karung berukuran 15 Kg.  Sementara untuk tumang, 1 pohon bisa menghasilkan 500-1000 tumang,  tergantung ukuran pohon sagu.  

Sagu yang dihasilkan tersebut dijual ke pasar dengan harga Rp 150 ribu per karung.  Harga tersebut menurun dari harga sebenarnya yakni, Rp 200-250 ribu per karung. Turunnya harga dan permintaan pasar, menurut Melkianus, disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang terjadi saat inj.  

“Kalau sekarang kurang, karena pandemi begini, permintaan konsumen juga menurun,” ucapnya. 

Selain membutuhkan tambahan alat peras sagu, Melkianus juga telah menyampaikan permohonan bantuan kepada Gubernur Provinsi Papua Barat,  Dominggus Mandacan saat melakukan kunjungan ke Hutan Sagu Kelompok Tani Gisimiklagi. 

Permohonan bantuan tersebut brupa penambahan mesin, jalan usaha tani dan penampungan air. 

Dijelaskan Melkianus,  jalan menuju lokasi pengolahan sagu didalam hutan sangat berlumpur,  sehingga sulit untuk dilalui, terutama saat membawa hasil sagu. “Kalau dari luar masih kering,  tapi kalau masuk ke dalam, lumpur sampai betis,” terangnya. 

Sementara penampungan air,  dibutuhkan karena saat ini penampungan air yang dimiliki berukuran kecil sehingga tidak dapat menampung air yang lebih untuk digunakan saat memeras sagu.  

Selain kepada Pemerintah Provinsi, Melkianus juga memohon bantun kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong untuk dapat memberikan bantuan trasnportasi roda tiga yang digunakan untuk membawa hasil sagu ke pasar. “Kami sekarang gunakan angkutan umum ke pasar, itu bisa habis Rp 500 ribu, makanya kami meminta bantuan roda tiga,” katanya. 

Selain itu,  permohonan bantuan kepada Menteri Pertanian Republik Indonesia juga telah dilakukan, yakni, tempat yang dapat menerima secara langsung hasil sagu para petani, contohnya seperti koperasi. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan para petani dalam memasarkan hasil sagunya dengan nilai jual yang lebih baik. (nam) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed