oleh

Dari Momentum Ibadah Pelepasan Bapa Raja Matias Mrait Wonat Kambu

Terlibat Misi Penyelamatan “Soekarno” Saat Pengasingan di Ayamaru

Banyak karya telah dikerjakannya semasa hidup. Kini dia pulang menghadap sang khalik dengan senyum kebahagian. Segala amal baikmu akan selalu dikenang generasi penerus bangsa yang mendiami Bumi A3 Maybrat. Dia adalah Bapa Raja Mathias Mrait Wonat Kambu yang dipanggil pulang menghadap Sang Pencipta pada 13 Juli lalu di kediamannya di Kampung Kambufatem Distrik Aitinyo Barat Kabupaten Maybrat.

Ruben Isir, Sorong

Lahir di Wohmanaf 23 Maret 1921, Bapa Raja Mathias Kambu merupakan satu dari beberapa tokoh penting dari Bumi A3 Maybrat yang berperan penting dalam gerakan pembebasan Irian Barat masuk ke pangkuan NKRI. Betapa tidak, Bapa Raja Matias Kambu adalah salah satu tokoh penting yang ikut mencatatkan namanna nomor urut 873 untuk menandatangani persetujuan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) Irian Barat tahun 1962. “Saya, Matias Kambu, mengaku masuk dalam naungan Ibu Pertiwi,” begitulah pernyataan sikapnya di hadapan panitia jajak pendapat (pemilihan) pada saat itu.

Bapa Raja Mathias Kambu

Tidak hanya sebagai pelaku sejarah pembebasan Irian Barat, ayah dari 20 anak, 18 cucu dan tiga cicit ini juga pernah menduki posisi penting semasa transisi pemerintahan Belanda-Indonesia, yakni Anggota DPR GR (Gotong Royong), ditunjuk Presiden Soeharto sebagai Ketua Partai Golkar Provinsi Irian Jaya, Diangkat menjadi Raja Aitinyo di Kambufatem tempo dulu, Kepala Kampung Fatase, sebagai penerjemah bahasa Indonesia, menduduki jabatan Tokoh Gereja, Adat, Masyarakat, Pemerintah.

Dimasa penjajahan, sebagaimana dibacakan dalam riwayat hidup saat prosesi pemakaman, Almarhum Bapa Raja Matias Kambu merupakan salah satu tokoh yang ikut mendampingi dan menyelamatkan Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno ketika masa pengasingan oleh Belanda di Ayamaru pada tahun 1945. Selain itu juga merupakan salah satu tokoh penting yang saat itu bersama Gubernur Frans Kaisepo untuk memberi kaminan pembebasan terhadap sejumlah tahanan orang Maybrat, Teminabuan, Inanwatan yang ditahan oleh TNI ketika Operasi Tumpas Trikora 1962.

Putra keempat dari lima bersaudara yang terlahir dari rahim perempuan Kambuaaya Sirmye Kambuaya dan ayah Hasaya Kambu tersebut, hanya menyelesaikan pendidikan tradisional Tohmi di Dusun Arwan Fatase, Pendidikan tradisional Wion  Wofle di Mosum Dusun Fatase. Sedangkan pendidikan formalnya tidak bisa lagi diikuti karena terbentur usia yang sudah lewat usia pendidikan SR (SD) pada masa pemerintahan belanda saat itu.

Beberapa prestasi yang diberikan negara sebagai kepadannya adalah sebagai legion feteran RI aktif, Bintang Veteran Indonesia, Satya lencana Veteran, Dana Kehormatan Veteran dan masih banyak lagi. Selain itu ikut terlibat langsung dalam penyelesaian pertikaian antar kelompok sub suku, marga, terlibat langsung dalam pembangunan Bandara Kambuaya, pembangunan Gedung Gedung Seloka, pembagunan pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang sampai saat ini terus berkembang hingga menjadi Kabupaten Maybrat.

Kepergian almarhum telah meninggalkan kenangan manis bagi bagi generasi pewaris pembangunan di bumi A3 Maybrat. Akhirnya setelah disemayamkan di rumah duka selama 3 hari, dilakukan ibadah yang dipimpin Pendeta Urbanus Ulim, kemudian dilanjutkan dengan prosesi upacara nasional yang dipimpin inspektur upacara Bupati Maybrat, Dr. Benard Sagrim,MM berlangsung hikmat. (ris)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed