oleh

Catur Brata Penyepian, Wahana Instropeksi Diri

-Metro-126 views

SORONG-Umat Hindu telah merayakan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1943 tahun 2021 yang merupakan tahun baru bagi umat Hindu. Dimana umat Hindu di seluruh dunia wajib melakukan penyepian atau intropeksi diri dengan tidak melanggar Catur Brata penyepian atau 4 pantangan. Hal serupa juga dilaksanakan oleh Umat Hindu di Kota Sorong.

Ketua Penyelenggara Ibadah Umat Hindu Kota Sorong, I Gusti Ketut Suardana,S.Ag menjelaskan, pelaksanaan hari Raya Nyepi memang berbeda dengan tahun baru lainnya karena bila perayaan tahun baru lainnya, justru dengan perayaan yang megah, mewah dan ramai. Namun di perayaan hari Raya Nyepi justru tidak boleh umat Hindu mengikuti keinginan indera.

Dalam pelaksanaan hari Raya Nyepi, ada 4 pantangan yang tidak boleh dilakukan yaitu Amati Karya, tidak bekerja artinya berdiam diri di rumah dan tidak melakukan aktivitas seperti biasanya.

“Kami benar-benar melihat ke dalam apa yang sudah dicapai selama 1 tahun kemarin kemudian  apa agenda yang akan ingin dicapai tahun berikutnya. Umat Hindu itu belajar dari masa lalunya atau dari segala sesuatu yang tidak baik itu bisa dirubah menjadi sesuatu yang baik dan lebih baik,”jelasnya kepada Radar Sorong, Sabtu (13/3).

Kedua, Amati Geni, Geni artinya  api, Amati Geni pelaksanaannya tidak menyalakan api atau tidak memasak, tidak menyalakan lampu, sehingga kadang di rumah umat Hindu itu gelap karena memang tidak menyalakan lampu 

Ketiga, Amati Lelungan atau  tidak bepergian artinya diam di rumah dan tidak boleh kemana-mana. Keempat, Amati Lelungan artinya tidak menikmati hiburan seperti berpesta,  menonton TV dan radio pun turut dimatikan. Bila keempat pantangan dilalui dengan baik, maka keesokan harinya Umat Hindu dapat melaksanakan Ngembak Geni, artinya menyalakan kembali api untuk memasak, atau berbuka puasa. 

“Umat Hindu dapat kembali beraktivitas, bekerja dan bahkan bisa berpergian seperti acara silaturrahim artinya anjangsana ke orang tua hingga sanak saudara hingga rekan kerja untuk membina hubungan kemanusiaan,” tuturnya.

Perayaan Nyepi secara keseluruhan sambung I Gusti Ketut  menyangkut tiga hal yakni penghormatan terhadap makhluk dibawah manusia (tidak kasat mata), penghormatan kepada sesama dan peningkatan srada bakti kepada Tuhan dengan  semakin memupuk kepercayaan keyakinan kepada Tuhan. 

“Tentu dari kombinasi ketiga ini itulah yang menjadi nilai filosofi ajaran Hindu sehingga disebut dengan lambang Swastika yang artinya ada vertikal maupun Horizontal,”paparnya

Sebelum melaksanaan Nyepi pada Minggu (14/3), terlebih dahulu umat Hindu di Kota Sorong melaksanakan Upacara di Pura yang berlokasi di jalan Malibela Km 11, Sabtu (13/3). Upacara tersebut dimulai dengan upacara Melasti dan dilanjutkan dengan Tawur Kesanga atau  bentuk korban Suci kepada Tuhan tentunya dengan memberikan penghormatan juga kepada makhluk-makhluk di sekitar  atau di identikkan dengan buta kala atau disebut dengan pembawa energi negatif. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed