oleh

BTS Dibakar KKB, Layanan Publik Secara Daring Gagal Terlaksana

SORONG  – Dibakarnya dua menara Base Transceiver Station (BTS) milik Telkomsel oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Puncak ­Papua, Senin (11/1) lalu menyebabkan penurunan kualitas layanan telekomunikasi disana. General Manager Network Operation dan Quality Management Telkomsel Maluku Papua, Adi Wibowo yang dikonfirmasi Radar Sorong, Selasa (12/1) mengatakan dirinya sangat menyayangkan kejadian tersebut.

Dijelaskan Adi, dibakarnya menara BTS tersebut berdampak pada jaringan 4G Telkomsel di wilayah Ilaga terputus total. Kendati demikian, pelanggan Telkomsel disana masih dapat menikmati layanan komunikasi menggunakan jaringan 2G.

Menurutnya, seluruh menara BTS beserta infrastrukturnya yang terbakar kewenangan operasionalnya dikelola oleh Palapa Ring Timur. Oleh karenanya, saat ini recovery atau pemulihan kedua BTS tersebut sedang dikerjakan oleh pengelola Palapa Ring Timur. Sementara ini, layanan komunikasi di Ilaga dialihkan menggunakan transmisi IDR atau satelit. “Recovery masih sementara dilakukan, kami berharap proses pemulihan dapat diselesaikan secepatnya agar kebutuhan akses jaringan broadband dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar,” kata Adi.

Dirinya mewakili seluruh direksi Telkomsel juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh pelanggan di wilayah Ilaga Kabupaten Puncak saat ini. “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh pelanggan di wilayah Ilaga Kabupaten Puncak. Apresiasi tinggi juga kami sampaikan kepada pelanggan atas kesetiaannya untuk tetap menggunakan layanan Telkomsel hingga saat ini,” pungkasnya. 

Sementara itu, dampak dari aksi KKB membakar fasilitas Palapa Ring di Kabupaten Puncak berdampak pada pelayanan publik. Layanan pemerintahan dan pendidikan secara daring di tengah pandemi Covid-19 tak bisa dilaksanakan.  Demikian disampaikan Bupati Puncak Willem Wandik saat ditemui di Jayapura, Selasa (12/1) sore. 

Willem mengatakan, pembakaran fasilitas Palapa Ring, dalam hal ini BTS 4 dan BTS 5, sangat berdampak bagi masyarakat setempat yang mengalami kesulitan mengakses internet, dan kembali seperti zaman dulu.  Padahal, Pemda Puncak sudah berencana melaksanakan kegiatan belajar dan layanan pemerintahan secara daring dengan memanfaatkan fasilitas Palapa Ring tersebut yang baru diresmikan Desember 2020 lalu.  ”Saya sangat sedih dengan aksi pembakaran dua BTS ini. Rencana kami untuk melaksanakan pelayanan publik via daring gagal terlaksana. Masyarakat Puncak tak bisa mengalami kemajuan akibat aksi ini,” kata Willem Wandik. 

Ia menyatakan Kementerian Komunikasi dan Informatika memindahkan lokasi kedua BTS dari lokasi yang rawan gangguan keamanan ke tempat yang lebih aman dan dekat dengan aparat keamanan.  ”Kami berharap adanya evaluasi untuk pemasangan fasilitas Palapa Ring di Puncak. Sebaiknya melibatkan pemda setempat dan aparat keamanan sebelum pemasangan BTS,” ucapnya.

Willem juga berharap kelompok bersenjata jangan melampiaskan aksinya dengan menyerang fasilitas telekomunikasi. Sebab, masyarakat di era kini sangat membutuhkan jaringan telekomunikasi yang memadai untuk beraktivitas. 

Sementara itu, Kapolres Puncak, AKBP Dicky Hermansyah Saragih di Jayapura mengatakan, pihaknya masih menyelidiki KKB yang terlibat aksi pembakaran dua BTS tersebut, sebab terdapat banyak kelompok bersenjata di Puncak seperti KKB pimpinan Goliat Tabuni, Militer Murib dan Lekagak Telenggen.  ”Kami akan memeriksa sejumlah pihak yang memasang fasilitas dua BTS tersebut. Tujuannya untuk mengetahui apakah terpasang kamera CCTV di dua fasilitas tersebut, ” kata Dicky. (ayu/al)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed