oleh

Bongkar Pemasok Senpi Jaringan Filipina

JAYAPURA – Polda Papua dan jajarannya berhasil  mengungkap jaringan internasional penjualan senjata api yang diduga sebagai pemasok senjata api ke Papua, dengan menangkap Melki Sermumes, pelaku jaringan penjualan senpi bersama empat buah senjata api laras pendek di Kabupaten Nabire. Melki Sermumes sempat melarikan diri saat akan ditangkap oleh Polres Nabire sebelumnya ahkirnya menyerahkan diri  pada Jumat 13  November Tahun 2020 di Kampung Sanoba Bawah Distrik Nabire Kabupaten Nabire.

Kapolda Papua,  Irjen Pol. Paulus Waterpauw kepada wartawan di Mapolda Papua, Selasa (5/1) menjelaskan, pengungkapan pemasok senpi jaringan Filipina bermula saat anggotanya mendapat informasi ada seseorang yang membawa, menguasai, memiliki, menyimpan senjata api dan amunisi.  “Hasil pendalaman, Melki Sermumes  mendapatkan senjata 6 pucuk dari wiliayah Sanger Sulawesi Utara, masuk dari Filipina. Dua dilepas di Manokwari dengan harga Rp 30 juta, 4 dibawa lewat Biak sampai ke Nabire, dan kemudan berhasil diungkap oleh tim kita,” jelas Kapolda.

Mendapatkan informasi tersebut, anggota bergerak mengecek ke lokasi dan melakukan tindakan kepolisian, namun pelaku berhasil melarikan diri meninggalkan barang bukti yang kemudian diamankan ke Mapolres Nabire.

Kapolres Nabire AKBP Kariawan Barus,SH,S.IK,MH dan timnya kemudian melakukan pengalangan dengan pihak keluarga, tokoh masyarakat dan kerukunan keluarga besar Biak Utara, akhirnya pada Jumat 13 November 2020 pihak keluarga didampingi pihak kerukunan Biak Utara menyerahkan tersangka Melki Sermumes kepada penyidik Satuan Reskrim Polres Nabire. Barang bukti yang diamankan yakni empat pucuk  senjata api.

Dari hasil pemeriksaan diketahui  pada bulan Juni 2020, Melki Sermumes dihubungi  rekannya Yohanis Zagani alias Jhon Zagani untuk mencari senjata api. Melki Sermumes kemudian menghubungi rekannya Sony Sermumes  untuk mencari senjata api dan mengatakan senjata api ada  di Rosita Budiman yang tinggal di Kabupaten Sanger Provinsi Sulawesi Utara.

Pertengahan Juni 2020, Yohanis Zagani, Melki Sermumes dan Sony Sermumes, berangkat ke Sanger bertemu Rosita Budiman untuk membeli senjata api. Setelah mencapai kesepakatan harga dengan Rosita Budiman, Yohanis Zagani dan Sony Sermumes balik ke Kabupaten Manokwari, sedangkan Melki Sermumes kembali ke Kabupaten Nabire.

Oktober  2020, Yohanis Zagani menghubungi Melki Sermumes untuk berangkat menemui Rosita Budiman karena sudah 2 bulan tidak ada info terkait senjata. Melki Sermumes kemudian ke Sanger bertemu Rosita Budiman menanyakan senjata yang dipesan oleh Yohanis Zagani. Rosita Budiman kemudian menghubungi Sony Sermumes agar datang juga ke Sanger untuk sama-sama membawa senjata api dan amunisi.

Rosita kemudian  menyerahkan dua karton yang didalamnya berisikan masing-masing enam pucuk senjata api laras pendek beserta amunisi 1 karton.  Satu karton dibawa oleh Sony Sermumes dan 1  karton lagi dibawa Melki Sermumes. Sony Sermumes dan Melki Sermumes kembali ke Papua mengunakan KM. Sinabung. Sesampainya di Pelabuhan Sorong, Sony Sermumes turun sedangkan Melki Sermumes melanjutkan perjalanan dengan KM. Sinabung tujuan Manokwari. 

Di Pelabuhan Manokwari, Melki menurunkan 2 pucuk senjata api diberikan ke Kalvin Sermumes untuk dijual seharga Rp 30.000.000, satu senjata dan hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh Melki Sermumes, sedangkan 4 pucuk dan amunisi masih dibawa oleh Sdr. Melki Sermumes dengan tujuan Kabupaten Biak.

Sesampainya di Kabupaten Biak, senjata dan amunisi disimpan di keluarganya, Melki Sermumes kemudian ke Nabire mengunakan pesawat. Ia kemudian menghubungi Yohanis Zagani mengatakan bahwa 4  pucuk senjata disimpan di keluarga di Biak, dan Yohanis ZaganI menyuruh Melki Sermumes untuk mengambilnya. 3 November 2020, Melki Sermumes berangkat ke Biak menggunakan speedboat. Dua hari kemudian, ia menuju Nabire dengan membawa senjata api dan amunisi yang disimpan di dalam tas ransel. 6 November 2020 sekitar pukul 06.00 WIT, Polisi   melakukan penangkapan namun Melki Sermumes berhasil melarikan diri sedangkan barang bukti berhasil diamankan aparat kepolisian.

Selama 6 hari, Melki Sermumes bersembunyi  di rumahnya di kebun yang terletak di Sanoba Distrik Nabire. Kapolres Nabire bersama tim kemudian melakukan penggalanngan dengan tokoh masyarakat dan kerukunan keluarga besar Biak Utara agar  Melki Sermumes menyerahkan diri. Akhirnya pada 13 November 2020, Melki Sermumes menyerahkan diri. 

Kapolda mengatakan, atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 1 Ayat (1) UU Darurat No. 12 Tahun 1951 Jo Pasal 55 KUHP yakni secara bersama-sama dan tanpa hak menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, atau menyembunyikan sesuatu senjata api, amunisi atau bahan peledak.  “Ancaman hukuman maksimal hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun,” kata Kapolda. (al)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed