oleh

Bintang Kejora Dibentangkan

SORONG – Pembentangan sejumlah bendera Bintang  Kejora mewarnai aksi unjuk rasa memperingati HUT WPNGNC ke-23 yang berlangsung di Kota Sorong dan Manokwari, Jumat (27/11).  Dalam aksinya, massa pendemo membawa sejumlah bendera Bintang Kejora, serta spanduk berukuran besar diantaranya bertuliskan ‘’Selamat dan Sukses HUT ke XXIII, tiba saatnya kami Bangsa Papua telah paham tentang propaganda NKRI : Camberra Agreement 6 November 1957, New York Agreement 15 Agustus, Rome Agreement 30 Oktober 1962 (masa Cuma 25 tahun  telah selesai). Jogja Agreement 15 Mei 2002, Megawati Soekarno Putri mantan Presiden Republik Indonesia memberi otonomi khusus di Papua adalah persiapan untuk kemerdekaan Bangsa Papua.

Sekolompok massa yang mengatasnamakan West Papua New Guinea National Congrest dan National Executive Coundl di seputaran Ramayana Mall Kota Sorong, Jumat (27/11), berakhir ricuh. Setidaknya 7 orang yang diduga provokator dalam aksi demo ricuh, diamankan aparat kepolisian. Aksi demo ricuh ini mengakibatkan lima korban luka, tiga anggota Brimob, satu anggota Polres Sorong Kota dan seorang wartawati.

Aksi demo ini menyuarakan kepada dunia bahwa kali ini adalah kesempatan besar untuk dihimbaukan kepada rakyat agar berdiri meminta dukungan dan pengakuan kemerdekaan dari Amerika, Eropa, Australia, New Zealand dan Indonesia, Pasific serta Dunia Internasional. Namun sayangnya aksi demo tersebut berubah menjadi ricuh, massa melakukan pelemparan batu, kayu, botol kaca serta katapel kepada kepolisian dan juga terjadi aksi pembakaran di dua titik.

Pantauan Radar Sorong, kericuhan awalnya terjadi hanya di satu titik yakni di samping rumah lama Bupati Sorong, namun beberapa saat kemudian sekelompok massa yang didominasi anak-anak dibawa umur melakukan aksi rich dengan membawa katapel, batu, kayu dan botol kaca menyerang dari lorong sebelah kiri Ramayana Mall.

Kapolres Sorong kota, AKBP Ary Nyoto Setiawan,S.IK,MH menjelaskan buntut dari aksi ini pihaknya telah mengamankan lima orang dari massa aksi. Namun dalam rilis resmi Polda Papua yang dikeluarkan Kabid Humas AKBP Adam Erwindi, sebanyak 7 orang diamankan saat aksi demo di Kota Sorong, sedangkan 29 orang diamankan dalam aksi demo di Manokwari.

Kapolres Sorong Kota mengatakan, pihaknya telah mendapatkan informasi akan adanya kegiatan kelompok masyarakat untuk melakukan aksi dengan titik kumpul di SPG dan Yohan menuju Kantor Walikota Sorong. Oleh sebab itu, pihaknya bersama TNI melakukan patroli kemudian penempatan pos serta razia. “Kami pun sudah stand-by kan petugas di sekitar Yohan sini sehingga ketika diadakan aksi tadi pagi kami pun sudah menghimbau agar tidak melakukan kegiatan tapi penerimaannya lain sehingga ada sedikit gesekan,” jelasnya kepada wartawan, kemarin.

Menurut Ary, tidak ada korban dari pihak massa, justru yang menjadi korban adalah tiga anggota Brimob, satu anggota Polres Sorong Kota (kena lemparan batu) dan satu orang wartawati sehingga total korban hari ini yakni lima orang.

Kapolres mengatakan, personel Polri dan TNI yang dilibatkan dalam pengamanan 450 personel yang tersebar di beberapa titik. Khusus pengamanan di seputaran Ramayana Mall sebanyak 200 personel gabungan dan penambahan BKO Brimob Nusantara dari Jawa Timur satu kompi. “Pengamanan ini nanti sampai tanggal 1 Desember 2020, dan kami akan maksimalkan personel gabungan,” ungkapnya.

Melihat keadaan yang semakin ricuh, akhirnya arus lalu lintas di jalan A. Yani pun dialihkan untuk menghindari lemparan batu dari aksi massa. Pantuan Koran ini, aksi demo berlangsung mulai pukul 09.10 WIT hingga pukul 16.00 WIT. Awalnya aksi yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIT berjalan aman, namun akhirnya terjadi rusuh antara pendemo dengan gabungan aparat TNI-Polri yang bertugas.

Informasi yang dihimpun dari beberapa sumber di lokasi kejadian, aksi demo ini merupakan bagian dari respon masyarakat untuk memperingati hari kemerdekaan West Papua New Guinea ke-23 tanggal 27 November 2020.  Aksi ini juga diperkuat dengan adanya sebebaran yang disebarluaskan di kalangan masyarakat beberapa hari sebelumnya. Di selebaran tersebut dituliskan bahwa ada seruan dari Presiden West Papua New Guinea, Maikel Kareth yang keberadaannya saat ini diluar negeri, menyerukaan kepada masyarakat untuk turun ke jalan melakukan aksi damai sebagai simbol perayaan hari kemerdekaan West Papua New Gunea.

 Situasi semakin tidak terkendali ketika kelompok masa yang membatasi diri dengan lingkaran tali rapia, berusaha menerobos barikade aparat pengamanan, dengan maksud melakukan longmarch menuju kantor Wali Kota Sorong, namun upaya massa dihadang, bahkan diperintahkan mundur oleh aparat pengamanan yang lengkap dengan peralatan tameng. 

Upaya negosiasi dengan perwakilan aksi tidak membuahkan hasil, kondisi ciata yang cukup panas disertai orasi orasi yang cukup kritis, membuat suasana semakin panas.  Bentrok pun tidak terhindarkan ketika terjadi pelemparan serpihan motor dan benda tumpul lainnya seperti kayu dan batu. Aparat meresponnya dengan mengeluarkan tembakan peringatan dan tembakan gas air mata ke arah pendemo. Bentrok pun tidak terhindarkan, sebagian orang tua yang ada dilokasi kejadian memilih mengamankan diri di tempat yang lebih aman, sedangkan sekelompok anak-anak muda bertahan saling lempar dengan aparat yang mengarahkan tembakan gas air mata. 

Susana yang tadinya aman, akhirnya mencekam, lalulintas kendaraan di jalan utama dialihkan, udara di wilayah Klademak ‘terkontaminasi’  asap gas airmata hingga jarak radius lebih dari 500 meter dari lokasi kejadian. Pantauan radar Sorong hingga sore pukul  18.00 WIT, aparat keamanan masih terus berjaga jaga mengantisipasi adanya aksi susulan.

Di Manokwari, massa sambil membawa bendera Bintang Kejora, menggelar aksi di Jalan Gunung Salju Amban. Mereka hendak melakukan longmarch ke Kota Manokwari, namun dicegah personel Polda Papua Barat, Polres Manokwari diback-up Satuan Brimob. Kendaraan yang hendak ke kota dan sebaliknya terpaksa memilih jalan alternative. Aksi ini kemudian dibubarkan polisi. Sejumlah massa diamankan karena dianggap menghalangi jalan umum. Massa yang diamankan di bawa ke markas polisi.

Kabid Humas Polda Papua AKBP Adam Erwindi SIK MH kepada wartawan menuturkan, aparat polisi melakukan langkah-langkah dengan mengamankan situasi. Menurutnya, demo tersebut dibubarkan karena mengganggu ketertiban umum, menghalangi jalan umum sehingga pengguna jalan lain tidak bisa menggunakan. “Demo tersebut tidak melayangkan pemberitahuan kegiatan kepada pihak kepolosian, tidak ada penanggung jawab  isi demonya,” ujarnya.

Dalam pembubaran masa unjuk rasa, polisi mengamankan 29 orang. Kabid Humas mengatakan, masa  yang diamankan ini diambil keterangannya. “Sementara penyidik masih mendalami peran masing-masing-masing-masing dari 29 orang tersebut, bila ada unsur tindak pidana akan kami proses lanjut. Kita menunggu hasil pemeriksaan,” tutur mantan Kapolres Manokwari ini. Sedangkan dari aksi unjuk rasa  di Kota Sorong, polisi mengamankan 7 orang dan dimintai keterangan. Sehingga total sebanyak 36 orang diamankan dari aksi unjuk rasa di Manokwari dan Kota Sorong.

Atas nama Polri, Kabid Humas mengajak masyarakat agar menjaga wilayah Manokwari yang kondusif. Bila menyampaikan aspirasi sesuai prosedur sebagaimana diatur dalam UU No. 9 tahun 1998, dimana setiap pendemo berkewajiban, menghormati hak-hak kebebasan orang lain, menghormati aturan aturan moral yang yang diakui umum, mentaati hukum dan peraturan perundang undang yang berlaku, menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum, dan menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. “Jika tidak sesuai di atas maka polisi sesuai amanat undang-undang berkewajiban untuk membubarkan,” ujarnya.

Adam Erwindi menambahkan, hingga tadi malam Polres Manokwari masih melakukan pemeriksaan terhadap 29 orang yang diamankan saat unjuk rasa. Demikian pula Polres Sorong Kota memintai keterangan 7 orang. (juh/ris/lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed