oleh

Bersenjata Panah, Parang dan Kapak, Warga Serang Sanggeng

MANOKWARI – Kericuhan ­kem­bali pecah di Manokwari, tepat­nya di Jalan Yos Sudarso Sanggeng hingga di Wirsi.  Sekolompok warga bersenjata panah, tombak, parang dan kapak melakukan penyerangan di Sanggeng dan di Wirsi.

Penyerangan dilakukan secara bergelombang. Di awali saling ­lempar batu di Jalan Yos Sudarso depan Pasar Sanggeng hingga di perempatan Kopal sekitar pukul 15.00 WIT. Toko-toko dan kantor perbankan, Bank Papua, BRI dan Bank Mandiri langsung tutup. ­Batu berserakan di ruas jalan. Pasar Sanggeng juga tutup.

Ketegangan sempat mereda. Namun dari arah kota datang kelompok warga lainnya membawa panah, parang dan senjata tajam. Tanpa dikomando mereka bergerak ke arah ­warga Sanggeng yang berkerumunan di beberapa titik.

     Sejumlah aparat TNI dan Polri yang berada di lokasi sempat mencegat warga yang menyerang ke arah warga Sanggeng, namun tidak mampu. Suasana makin tegang. Mendapat serangan dari kelompok bersenjata tajam, warga Sanggeng  memilih menyelamatkan diri.

Aparat keamanan sempat melepaskan tembakan peringatan ke atas tapi tak membuat tak massa. Ada massa yang melayangkan lembaran ke arah rumah dan toko. Beberapa tempat jualan bensin di tepi jalan dirusak.

Kelompok penyerang sempat bertahan di perempatan Kopal sambil mengacung-­acungkan senjata tajam. ­Mereka tak terima atas kasus pemukulan yang dialami warganya. ‘’Pelaku yang lakukan pemukulan harus bertanggung  jawab. Dia harus hadir di sini,’’ teriak beberapa warga.

Tak lama muncul Danden A Brimob Polda  Papua Barat, AKP Sawal Halim. Menyusul kemudian sekitar 200  per­sonel PHH Sat Brimob Polda B yang menumpang 4 truk.

Kepala Suku Pegunungan Tengah di Manokwari, Diben Danggu Weya mencoba menenangkan warganya agar dapat mengendalikan diri dan kembali ke rumah. Demikian pula Danden A Brimob Polda  Papua Barat, AKP Sawal Halim bernegosiasi dengan massa agar membubarkan diri ­karena kerumunan di tengah jalan dapat mengganggu aktivitas umum.

 ‘’Saya harap saudara-saudara dapat membubarkan diri. Kalau menuntut pelaku pemukulan ditangkap nanti aparat keamanan yang ta­ngani,’’ ujar mantan Kabag Ops Polres Manokwari ini.

Di saat Kabag Ops dan ­Kepala Suku Pegunungan Tengah bernegosiasi dengan massa terjadi pemukulan di depan Hotel Metro Sanggeng. Seorang warga yang menonton aksi ini dikeroyok beberapa orang hingga jatuh tersungkur.

Ketegangan sempat mereda setelah massa hendak ber­gerak pulang. Mereka dikawal ­puluhan anggota polisi, termasuk Kapolsek Manokwari Kota Kompol Sunarkoba dan beberapa perwira polisi.

Namun sampai di pertigaan Kantos Pos Sanggeng suasana kembali tegang. Tiba-tiba ­sekelompok warga   muncul dari arah Jalan  Percetakan Sanggeng. Mendapat tambahan kekuatan, massa kembali bergerak ke arah kompleks Sanggeng membawa panah, tombak, parang dan senjata tajam lainnya.

Warga Sanggeng yang tadinya sudah tenang kembali kocar-­kacir berlarian. Pasukan PHH Brimob dengan pameng menghalau massa yang bergerak kembali ke arah kota.

Kapolda Irjen Pol Dr. Tornagogo Sihombing, Waka­polda Papua Barat, Brigjen Pol Mathius Fakhiri turun ke lokasi menenangkan massa. Waka­polda bersama Karo Ops Kombes Pol Tri Atmojo, Kapolres Manokwari AKBP Dadang Kurniawan ikut mengawal massa yang hendak kembali di kediaman mereka di Amban.

Namun keributan kembali pecah. Kelompok warga kembali bersitegang dengan para pemuda di Wirsi. Kelompok massa bersenjata tajam ini sempat masuk ke kompleks belakang Swiss-belhotel ­Hotel. Aksi saling lempar pun ­kembali terjadi.

Wakapolda meminta massa untuk menahan diri tak melakukan aksi anarkis. ­Massa pun kembali tenang dan melan­jutkan aksi jalan kaki ke Amban.

Sekitar pukul 17.00 WIT ­suasana kembali tenang. Namun mengantisipasi hal-hal tak diinginkan sekitar 200-an personel Brimob dan Polres Manokwari siaga di perempatan Makalo, Fanindi.

Data lapangan  yang dihimpun Radar Sorong, keributan ini dipicu kejadian di Sanggeng. Beberapa pemuda bermain kartu, namun entah mengapa salah satunya dipukul hinggal wajahnya terluka. Tak terima dipukul, pemuda ini menghubungi rekan-rekannya hingga akhirnya terjadi penye­rangan di kompleks Sanggeng.

Kapolres Manokwari AKBP Dadang Kurniawan yang dikon­firmasi wartawan menuturkan, kejadian ini berawal dari tiga pemuda yang bermain kartu di Pasar Sanggeng. Salah satu pemuda menjadi korban pemukulan.

Kapolres mengatakan, kedua kelompok telah dipertemukan untuk perdamaian. Kasus pemukulan maupun  tindak kriminal lainnya akan tetap diproses hukum. ‘’Yang dituntut warga Wamena (Pegunungan Tengah) adalah secara adat, tetapi ini masih menunggu negoisasi. Situasi di Sanggeng dan Manokwari umumnya sudah tenang,’’ tandasnya.

  Kapolres meminta warga untuk tetap tenang, tidak terprovokasi dengan isu-isu yang dapat menimbulkan perpecahan atau kemarahan. ‘’Kami akan tetap berjaga dan menga­mankan sampai permasalahan selesai,’’ tandasnya.(lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed