oleh

Berharap Lepas dari Segala Penderitaan

SORONG – Perayaan Hari Raya Imlek Tahun 2572 Kongzili yang jatuh pada Jumat 12 Februari berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ibadah imlek tahun ini dilaksanakan dengan penuh keterbatasan di tengah merebakmya pandemi Covid-19 yang masih belum berakhir. Pantauan Radar Sorong di Vihara Buddha Jayanti Sorong, peribadatan dilakukan dengan jumlah jemaat yang sangat terbatas. Hanya dihadiri oleh pengurus dan beberapa jemaat lain, dengan total hanya 50 orang yang diperbolehkan mengikuti ibadah kebaktian tersebut.

Ibadah kebaktian dipimpin oleh Paseka Pandita Badra Kumara Aliono selaku ketua Vihara Buddha Jayanteski diterapkan pembatasan jumlah jemaat yang mengikuti peribadatan, namun ibadah tetap hanya dilakukan satu kali saja, tidak dibagi dalam beberapa sesi. Sehingga pengurus vihara sudah mengimbau jemaat untuk bisa melaksanakan ibadah secara mandiri di rumah masing-masing.

Sekretaris Majelis Buddhayana Indonesia Kota Sorong, Romo Sutrisno saat berbincang dengan wartawan mengatakan bahwa tak ada pemangkasan rangkaian ibadah. ”Rangkaiannya tetap sama, tidak berubah, mulai dari kebaktian, pembagian jeruk Mandarin yang jadi khas bagi kami, kemudian kita sama-sama menyanyikan lagu wajib dalam perayaan Imlek,” jelas Romo.

Pada Imlek kali ini, Shio kerbau jadi lambang yang penuh makna bagi masyarakat Tionghoa sendiri. Kerbau diidentikkan sebagai hewan yang sangat senang dengan air, sehingga hal ini juga dikaitkan dengan berbagai bencana dan musibah di Indonesia yang banyak disebabkan oleh air. ”Tahun ini kita memasuki tahun kerbau, yang dikenal sangat suka dengan air, makanya kejadian bencana dan musibah yang terjadi belakangan ini juga disebabkan oleh air. Makanya jika kita tidak mawas diri dan sigap, otomatis akan kembali kepada penderitaan masing-masing. Makanya Kita perlu lebih giat berusaha dan bekerja membina kehidupan dalam sehari-hari,” pesan Romo.

Dia berharap bahwa pada Imlek tahun ini akan membawa keluar dari segala penderitaan. Oleh karenanya saat ibadah jemaat berkeliling membuat Mandala yang bertujuan bisa mengeluarkan aura negatif dari kehidupan. ”Kami berharap aura yang negatif hilang dan yang positif datang, sehingga keberuntungan dan kebijaksanaan yang selama ini kita miliki dapat berkembang dengan baik juga bermanfaat untuk orang lain. Apalagi saat ini Indonesia sedang banyak dilanda musibah dan bencana yang terjadi di mana-mana, sehingga Imlek kali ini banyak yang berharap agar kita segera mengalami perubahan,” tutupnya. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed