Benarkah Libur Mudik Lebaran 2022 Berpotensi Perluas Kasus Covid Kembali?

radarsorongnews.com – Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, atau Jokowi, telah mengumumkan bahwa cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah, dimulai sejak 29 April 2022, dan akan berakhir pada 6 Mei 2022. Tentunya libur mudik Lebaran 2022 ini dapat dimanfaatkan oleh para pemudik yang sudah lama tidak mengunjungi sanak saudara di kampung halaman. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa pemerintahan Indonesia sudah mengeluarkan izin terkait atas warganya yang ingin melaksanakan mudik. 

 

Momentum ini akan menjadi mudik lebaran pertama kali sejak Indonesia dihujani oleh bencana pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa Hari Raya Idul Fitri sejak 2020 lalu, tidak diperkenankan untuk warganya melakukan mudik ke kampung halaman. Berdasarkan data yang telah di rilis oleh pemerintahan Indonesia, diperkirakan penduduk yang akan melaksanakan mudik 2022 berjumlah 85 juta orang. Sementara untuk 14 juta penduduk lainnya, adalah pemudik yang tinggal di wilayah sekitar Jabodetabek. 

 

Melihat begitu besar dan tingginya antusiasme di kalangan masyarakat Indonesia atas izin memperbolehkan mudik, namun dibalik itu timbul keresahan yang tidak bisa dihindari. Keresahan tersebut, adalah soal lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia. Begitu banyak pertanyaan yang semakin membebani masyarakat. Lantas, benarkah mudik 2022 bisa menjadi sebuah potensi besar atas lonjakan kasus Covid-19 keempat kalinya di Indonesia pasca gelombang ketiga varian Omicron per Januari-Maret 2022 lalu? Mendengar hal ini, epidemiolog Indonesia pun angkat bicara. Berikut, adalah ungkapannya.

 

Penjelasan Epidemiolog Soal Libur Mudik Lebaran 2022 Berpotensi Lonjakan Covid

 

Dicky Budiman, selaku Ahli Epidemiolog asal Griffith University, Australia, menjelaskan bahwa sudah seharusnya perayaan libur panjang mudik lebaran 2022 yang akan dilaksanakan sebentar lagi, harus dibarengi dengan upaya mitigasi wabah Covid-19 oleh para pemerintahan pusat maupun daerah. Sebab, perizinan mudik hingga penetapan cuti menjelang Lebaran 2022 nanti, bisa menyebabkan dua kemungkinan, baik itu tentang hal baik atau sebaliknya. 

 

“Kalau pun misalnya pemerintah tetap tidak menetapkan tanggal cuti lebaran, ini kan yang bergerak sudah sangat banyak. Mereka akan mengambil cuti, dan yang bergerak terlihat memaksakan diri untuk mudik,” ujar Dicky, yang kami lansir dari sumber Kompas.com, pada Kamis, 6 April 2022 lalu. Baik buruknya dampak yang terjadi selepas perayaan mudik lebaran 2022, dapat ditimbulkan atas aturan yang dimanajemenkan oleh lembaga terkait mengenai mitigasi Covid-19. Yang mana upaya tersebut juga harus mementingkan ketentuan hingga fasilitas untuk para pemudik. 

 

“Saya sudah memprediksi 2 hal. Artinya bagaimanapun nanti mereka melakukan mudik, akan kembali lagi ke kebijakan pengelolaan. Kalau dipastikan dan ditekankan lagi ya bukan berarti buruk juga. Berbicara soal aman, ya tidak juga,” tegas Dicky. “Jadi, bagaimanapun hasil akhirnya, kembali dengan upaya pengelolaan,” imbuhnya. Di kesempatan yang sama, Dicky turut menambahkan bahwa upaya mitigasi wabah Covid-19 yang diberlakukan oleh pemerintahan Indonesia, dapat dijadikan bentuk “ujian”. 

 

Apabila mitigasi tersebut benar-benar berhasil dan tidak menyebabkan dampak buruk atas lonjakan kasus Covid-19, maka pemerintahan Indonesia memiliki modal lebih besar menjelang masa transisi. Upaya mitigasi Covid-19 bisa dilakukan di berbagai macam hal. Salah satunya, adalah melakukan perbaikan seluruh fasilitas pada mudik lebaran 2022. Mengapa demikian? Karena, perizinan mudik yang diberlakukan oleh pemerintahan Indonesia dan bentuk antusiasme tinggi, bisa menimbulkan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, seolah tidak bisa dihindarkan begitu saja. 

 

Selain itu, mengingat bahwa beberapa titik di Indonesia masih memungkinkan terjadinya penumpukan pemudik. Alhasil, kerumunan banyak orang pun akan mengkhawatirkan. Sekedar contoh, terdapat sebuah fasilitas pelayanan mudik untuk rekan kantor atau kawan sejawat. Upaya tersebut tentunya dibutuhkan oleh kalangan terkait, sebagai bentuk tindakan mitigasi mencegah pandemi Covid-19 yang melonjak kembali. 

“Itukan nantinya kita memang akan bertemu dengan orang-orang yang sudah melakukan vaksinasi. Dengan vaksinasi itu, maka resikonya lebih sedikit. Sehingga, kelompok yang sama akan lebih mudah menjalankan protokol kesehatan,” jelas Dicky. Sekedar informasi, perizinan oleh pemerintahan Indonesia mengenai libur mudik Lebaran 2022 sudah menjadi akses mobilitas terbuka untuk kalangan masyarakat yang belum sempat kunjungan ke kampung halaman. Artinya, mobilitas masyarakat akan terjadi dalam skala besar di hari cuti pertama, yakni 29 April 2022.

Previous post HP Awesome untuk Generasi Milenial, Samsung Galaxy A33 5G!
Next post Ketika Polemik Presiden 3 Periode Membuat AHY Angkat Bicara