oleh

Belajar Merajut Noken Lidi dari mama-mama Kampung Warsambin

Kerajinan Khas Warsambin,  Anak-anak Juga Sudah Mahir Merajut

Noken Lidi atau Noken Tulang Kelapa buatan masyarakat Kampung Warsambin Kabupaten Raja Ampat, terbuat dari bahan dasar berupa tulang daun kelapa atau lidi. Noken lidi dikenal sebagai kerajinan khas Kampung Warsambin yang dirajut oleh mama-mama di kampung tersebut.

Juhra Nasir, Sorong

Kampung Warsambin dari Waisai ibukota Kabupaten Raja Ampat, sekitar 21 Km dan dapat ditempuh dalam waktu 45 menit. Perjalanan ke Warsambin tidak akan membosankan, sebab sepanjang jalan mata dimanjakan exotisnya alam, banyak pohon rindang.

Kesehariannya masyarakat di Kampung Warsambin umumnya bekerja sebagai nelayan, sebagian kecil bergerak di sector pariwisata sebagai pengusaha homestay. Karena itu, daerah tersebut perlu diperhatikan dan dilestarikan sumber daya alamnya maupun hasil alamnya yang menarik perhatian wisatawan domestik dan wisatawan asing. Di Warsambin, spot wisata yang biasanya dikunjungi wisatawan diantaranya Kali Biru, Batu Kelamin, dan ­lainnya.

Untuk mendukung pariwisata, salah satu oleh-oleh khas dari Warsambin yakni Noken Lidi. Noken ini unik, berbeda dari noken pada umumnya yang dirajut dari akar kayu maupun benang. Merajut Noken lidi tidaklah mudah, butuh kemahiran serta pengalaman. Bagi pemula, bisa belajar dari mama-mama Kampung Warsambil yang sudah terbiasa terbiasa merajut noken tersebut.  Karena uniknya, Noken Lidi dirajut sebanyak-banyaknya untuk dijual kepada para wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang berkujung ke Warsambin. 

Guru SD YPK Sion Kampung Wasambin, Yuniani I. Boger,S.Pdk (29) mengatakan, sebelum adanya wabah Corona di Indonesia sampai akhirnya masuk di Raja Ampat, mama-­mama Kampung Warsambin rajin merajut Noken Lidi untuk dijual kepada wisatawan asing maupun wisatawan ­lokal yang berkunjung ke daerah tersebut.

Noken lidi biasanya dipromosikan sebagai oleh-oleh khas dari Teluk Mayalibit, Kampung Warsambin. Merajut Noken Lidi merupakan salah satu pekerjaan dan sumber penghasilan mama-mama di Kampung Warsambin, guna membantu suami memenuhi isi dapur ataupun memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya, dan kebutuhan ­rumah tangga. Noken Lidi tersebut dibuat dalam bentuk tas yang akan digunakan untuk mengisi keperluan sekolah maupun lainnya.

“Biasanya dirajut untuk dijadikan tas isi peralatan sekolah, Al-Kitab bagi orang tua yang hendak ke gereja. Selain menghemat biaya, hal tersebut juga menunjukkan budaya masyarakat Kampung ­Wasambin ini,” kata Yuniani.

Tidak hanya mama-mama Kampung Wasambin yang merajut Noken Lidi, anak-anak di kampung tersebut juga sudah mahir merajut, mungkin karena sering melihat orang tuanya merajut Noken Lidi, sehingga dengan sendirinya mereka mulai merajut dan memanfaatkan waktu sengannya untuk pelan-pelan merajut Noken lidi tersebut.

Sayangnya, ketika wabah Corona masuk di Indonesia hingga ke pelosok Indonesia tidak terkecuali Raja Ampat melumpuhkan segala bidang baik infrastruktur, pendidikan hingga ekonomi, bahkan menghambat ruang gerak manusia. Corona menyebabkan menurunnya tingkat kunjungan wisatawan domestic maupun asing ke Raja Ampat termasuk ke Kampung Warsambin, Teluk Mayalibit.

Menurunnya kunjungan wisatawan berdampak pada menurunnya pendapatan mama-mama di Kampung Warsambin. Ya, sumber pendapatannya dari Noken Lidi yang dibeli wisatawan, kini tak lagi terbeli. Siapa lagi yang akan membeli rajutan Noken Lidi mereka sebagai kerajinan Khas dari Kampung Warsambin, karena tidak adanya wisatawan. Di samping menurunnya daya beli Noken Lidi, penghasilan dari hasil nelayan pun menurun. Ikan Lema yang biasanya dengan mudahnya didapati, kini mulai menghilang dan sulit didapatkan.

Hilangnya pendapatan dari hasil rajutan Noken lidi serta hasil nelayan yang semakin menurun, maka menghasilkan uang untuk memenuhi isi dapur pun nampak sulit. Sehingga untuk membenahi rumah yang sudah mulai usang pun terasa beban yang tiada habisnya. Mau mengeluh, pada siapa?? Mau menunggu dana desa pun berasa lama, siapa lagi yang dapat membantu di tengah kelumpuhan ekonomi?.

Melihat kesulitan yang dihadapi masyarakat local di Kampung Warsambin, TNI hadir dengan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-108 oleh Kodim 1805/Raja Ampat di Kampung Warsambin dengan membangun 4 unit rumah untuk ditempati beberapa anggota keluarga, 2 MCK dan 1 gedung PAUD.

Warga setempat, Hosea Daam (28), berterima kasih kepada TNI yang sudah membangun rumah baru untuk ia tempati, karena selama ini ingin membangun rumah namun tidak ada dana, sehingga TNI hadir dan membantunya untuk membangun rumah. “Saya senang sekali. Dan, saya bersama dengan TNI bekerja dengan semangat untuk membantu mereka membangun rumah saya,”ungkapnya.

DanSKK TMMD 108 Kodim 1805/Raja Ampat Kapten Inf Budi Santoso mengatakan, dalam pelaksanaan TMMD ke-108 ini, tentunya banyak kendala yang dialami oleh TNI salah satunya adalah pengantaran bahan bangunan dari Sorong dan Waisai ke Kampung Warsambin. “Cuaca juga menjadi kendala bagi kami. Hujan sering terjadi tanpa bisa diprediksi sehingga pekerjaan sedikit terhambat akibat hujan, tetapi kami tidak patah semangat karena kami mengatasi hujan dengan membangun tenda maupun hal lain. Kami percaya pelaksanaan TMMD bisa kami selesaikan dengan baik. Masyarakat pun mendukung dan membantu kami tanpa kami berikan upah,” pungkasnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed