oleh

Banjir Terparah Sejak 1999

SORONG – Anggota DPD RI Dapil Papua Barat, M. Sanusi Rahaningmas,S.Sos,M.MSi memimpin langsung warga Melati Raya melakukan pembersihan pascabanjir, Jumat (17/7) siang.  Sanusi mengatakan, banjir terbesar yang terjadi di Kota Sorong yakni di tahun 1999, namun Melati Raya tidak pernah mengalami banjir separah yang ­terjadi pada Kamis malam yang hingga Jumat siang masih ada beberapa rumah yang terendam banjir.  “Saya sudah 32 tahun di Melati Raya, banjir terbesar tahun 1999, tapi Melati Raya tidak pernah separah ini,” kata Sanusi ­kepada Radar Sorong, kemarin.

Parahnya banjir kali ini lanjut Sanusi, dikarenakan pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja melakukan pembangunan tanpa memperhatikan dampaknya. Dicontohkannya, pembangunan jembatan oleh pihak tertentu dengan kondisi yang rendah dan menyebabkan sampah-sampah tertahan.  “Ini pembangunan jembatan dibawah sekali, sampah tertahan dibawah, air jadi mencari jalannya ke daerah yang lebih rendah, termasuk ke Melati Raya,” ucapnya. 

Selain jembatan yang posisinya rendah, Sanusi menilai bangunan di depan Melati Raya juga menjadi penyebab kecilnya ruang untuk mengalirkan air. Untuk itu, Sanusi mengharapkan pemerinta Kota Sorong memperhatikan tata ruang Kota Sorong, karena dari waktu ke waktu Kota Sorong akan terus berkembang dan jika tidak di tata dengan baik akan mengakibatkan banjir yang semakin parah. Ia berharap pihak Pemkot Sorong tidak hanya sekedar memberikan izin kepada pihak-pihak yang akan melakukan pembangunan.  “Jangan cuma berkomentar Kota Sorong, Kota Maju tapi semakin lama, banjir semakin parah,” keluhnya. 

Sanusi menilai peran masyarakat juga penting, pemerintah tidak sepenuhnya disalahkan, karena dari kondisi yang terlihat di lapangan, cukup banyak sampah yang terlihat dibeberapa drainase.  “Masyarakat memang tidak dapat diarahkan dengan baik, tapi terpenting pemerintah menata kota ini, drainase, talud dan lain-lain sehingga tidak berdampak pada masyarakat,” ucapnya.  

Di bulan Juli 2020 ini, intensitas hujan sedang hingga lebat. Namun berbeda dari hari biasanya, pada Kamis (17/7) intensitas hujan di Kota Sorong mencapai 136,8 MM, tertinggi dalam dua tahun terakhir. Tahun 2019 lalu, intensitas hujan tertinggi tercatat ‘hanya’ 120,4 MM. Padahal sehari sebelumnya, intensitas hujan hanya 34 MM.

Tingginya intensitas hujan mengakibatkan sebagian besar wilayah Kota Sorong tergenang banjir. Hujan deras mengakibatkan longsor di beberapa lokasi, mengakibatkan tiga orang tewas tertimbun longsor. Selain itu, seorang warga lainnya tewas akibat tersengat arus listrik.

Prakirawan Cuaca Stasiun BMKG Sorong, Hary Siahaan mengatakan, berdasarkan pantauannya, ada perlambatan massa udara dimana adanya pertemuan angin di wilayah Papua Barat sehingga memicu proses konvergensi sehingga adanya pembentukan awan hujan dan mengakibatkan hujan lebat disertai petir.

“Kami sudah mendeteksi akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir. Kami juga telah memberitahukan peringatan dini melalui media sosial maupun stake holder. Kalau hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mungkin masih bisa terjadi dalam beberapa hari kedepan tetapi tidak seekstrem kemarin, karena di atmosfer ini ada energinya sehingga energy yang kemarin sudah habis, jika ingin terjadi hujan esktrem seperti Kamis Malam berarti energy harus dikumpul dan itu membutuhkan waktu,”jelasnya kepada Radar Sorong, Jumat (17/7).

Berdasarkan data lanjut ­Hary, dalam jangka waktu beberapa hari kedepan, atmosfer lebih stabil sehingga hujan ekstrem seperti yang terjadi pada Kamis malam, kecil kemungkinannya terjadi. Akan tetapi, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tetap terjadi namun tidak selama 1 hari full melainkan di waktu sore hingga malam hari. “Walaupun intensitas hujan tidak seekstrem kemarin, masyarakat tetap diminta untuk waspada dan siaga, khususnya masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan yang cukup rentan terjadi longsor karena kondisi tanah saat ini sedang jenuh karena terkena air,” tuturnya.

Ia mengingatkan warga masyarakat Kota Sorong tetap waspada, tetap berhati-hati ketika berkendaraan, masyarakat juga jangan membuang sampah sembarangan agar aliran air di dalam drainase lebih baik. Ditanyai apakah air laut menjadi salah satu pemicu banjir, Hary mengatakan pengaruh volume air laut terhadap banjir tidak terlalu signifikan. “Memang ada pengaruh tapi tidak signifikan, dan kemarin juga air laut memang lagi pasang tapi pengaruhnya dengan terjadinya banjir itu tidak signifikan,” ungkapnya.

Hary mengungkapkan masyarakat di daerah pesisir mungkin tidak terlalu berpengaruh dengan curah hujan yang tinggi tetapi, khususnya yang ingin berpergian di wilayah perairan bagian Selatan Sorong agar waspada gelombang tinggi. “Sedangkan untuk masyarakat yang ada di daerah utara Papua Barat cenderung aman,” pungkasnya.

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Sorong pada Kamis malam (16/7) kemarin mengakibatkan 7 korban, dimana 4 orang meninggal dunia dan 3 orang mengalami luka-luka. Hal tersebut diungkapkan Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Sorong, Herlin Sasabone yang ditemui di kantor Walikota Sorong, Jumat (17/7).

Empat korban tewas, 3 diantaranya akibat tertimbun longsor. Ketiganya  yakni Afandi (30), Hataul dan Faris (34), serta satu korban tewas akibat tersengat arus listrik atas nama Isak Wakum (32). Satu korban, David (21) menderita luka berat, jari telunjuknya putus. Sementara itu dua korban lainnya mengalami luka ringan, yakni Jakson mengalami luka robek di tangan dan Fahmi mengalami luka robek di kaki bagian kiri. 

Herlin Sasabone menjelaskan, berdasarkan data yang diterima pihaknya, lokasi longsor ada di 3 titik wilayah Kota Sorong yakni Kelurahan Klademak, Belakang Kantor BRI Cabang Sorong dan Puncak Cendrawasi. Pantauan lapangan sambung Herlin, rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan khususnya ada 2 rumah yang cukup parah dimana salah satu rumah tersebut mengakibatkan korban meninggal dunia. “Ini karena faktor kondisi rumah yang ada di daerah perbukitan kemudian kondisi tanah juga, sehingga ini menjadi perhatian masyarakat dan kami berharap masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan harus waspada sebab selain faktor curah hujan juga posisi rumah di daerah perbukitan itu rentan longsor,” jelasnya kepada wartawan, kemarin.

Selain longsor, terdapat lokasi daerah terdampak banjir di beberapa titik diantaranya Kompleks Rufei, Kelurahan Malaingkedi, Jupiter dan sekitarnya, HBM, Jalan Nuri, Jalan Basuki Rahmat kompleks Mega Mall. “Dan Kompleks RSAL, Depan Saga Supermarket, Diklat Karantina Kampung Salak, Kelurahan Klasuur, Belakang Polres dan Masjid AT-Taqwa. Dimana daerah tersebut termasuk daerah rawan banjir dan juga tempat meluapnya Kali Remu,” ungkapnya.

Daerah yang terdampak banjir ini rata-rata berada di daerah aliran sungai, sehingga masyarakat yang berada di daerah aliran sungai ini diharapkan tetap waspada. Sebab berdasarkan informasi dari BMKG, curah hujan masih akan tetap terjadi dengan intensitas tinggi hingga Sabtu (18/7) nanti.  “Pemerintah Kota Sorong akan melakukan koordinasi bersama TNI/Polri dan bersama dengan tingkat kelurahan terkait dengan pendataan korban baik korban jiwa maupun material yang harus dilaporkan oleh Lurah setempat. Dan tempat evakuasi pun akan kita bicarakan, sementara pada Kamis malam kemarin kami sudah menyiapkan tempat evakuasi yakni Gedung Samu Siret tetapi warga menolak dan tetap dengan keluarga atau mengungsi ke keluarga terdekat,” ungkapnya.

Sementara itu, tim Basarnas Sorong turun melakukan evakuasi di beberapa titik wilayah Kota Sorong yang terendam banjir pada Kamis malam (16/7) sekitar pukul 21.30 WIT.  Evakuasi dilakukan di beberapa titik wilayah Kota Sorong seperti mulai dari Km 10 hingga Kampung Baru. Guna menyisir setiap titik rawan banjir yang akan mengakibatkan adanya korban jiwa.

Ketua Tim Regu 1 Basarnas Sorong, Afrizal menjelaskan, evakuasi ini akan berlangsung hingga kondisi curah hujan di Kota Sorong mulai meredah tetapi jika curah hujan di Kota Sorong masih terus meningkat dan akan membahayakan masyarakat, maka Basarnas akan tetap standby untuk membantu evakuasi. 

Basarnas Sorong membagi 2 tim evakuasi, tim pertama akan melakukan penyisiran di daerah Remu dan HBM sementara itu Tim kedua akan mencoba masuk dari daerah jalan Baru untuk memback up di daerah SD Al-Jihad sampai dengan Kampung Baru. “Berdasarkan informasi yang kami terima, banjir ini cukup merata di sudut Kota Sorong mulai dari Km 10 sampai dengan daerah Kampung Baru dan itu hampir semua Kota Sorong terdampak banjir,” jelasnya kepada Radar Sorong. (nam/juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed