oleh

Banjir, Jangan Salahkan Wali Kota

-Metro-225 views

SORONG-Musibah banjir yang melanda Kota Sorong pada 16 hingga 17 Juli 2020 merendam hampir sebagian wilayah Kota Sorong, bahkan banjir tahun 2020 ini dianggap terparah usai banjir tahun 1999 silam. Wali Kota Sorong, Drs. Ec Lambert Jitmau, MM menganggap musibah banjir terjadi secara alamiah dan merupakan kehendak Tuhan.

“Sebelumnya, saya turut berduka cita karena 5 orang meninggal dunia akibat dari banjir, semoga arwah mereka di terima di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Musibah sudah terjadi dan musibah datang tidak pernah menjanjikan, semua terjadi secara alamiah bedasarkan kehendak Tuhan, kita sebagai umat harus merenungkan musibah yang terjadi,”jelas Wali Kota Sorong kepada awak media usai melaksanakan Rapat, Sabtu (18/7).

Masyarakat diimbau dapat menahan diri dan jangan mudah terprovokasi terhadap orang-orang yang mempunyai kepentingan pribadi dan bisa mengeluarkan hal-hal yang kurang bagus dianggap miring. Lambert mengatakan, dirinya bukan malaikat yang sempurna namun ia hanya manusia biasa, dimana ia membutuhkan saran dan masukan dari masyarakat Kota Sorong terkait penanganan musibah yang terjadi.

 “Jangan salah menyalahkan karena kepala daerah, pimpinan negara juga merupakan manusia biasa bukan malaikat yang sempurna dalam segala hal. Jika ada masyarakat Kota Sorong yang saling membantu dalam segi material terhadap korban banjir, bantulah agar bisa sama-sama menangani musibah yang terjadi di Kota Sorong, khususnya banjir,”terangnya.

Dikatakannya, kebersihan, keamanan jangan berpikir bahwa hanya pemerintah yang tanggung jawab, semua ini  menjadi tanggung jawab warga Kota Sorong. Ada hal kecil yang menjadi tanggung jawab masyarakat seperti masalah sampah. Masyarakat harus buang sampah yang tepat pada tempat yang tepat dan jam yang tepat. Karena, yang menghasilkan sampah dan membuang sampah adalah warga Kota Sorong.

Karena, sambung Lambert masyarakat membuang sampah di drainase yang dibangun pemerintah sehingga menjadi salah satu penyebab banjir. Padahal sudah ada imbauan dari pemerintah terkait larangan membuang sampah disembarangan tempat.

“Masa salahkan wali kota. Sejak mantan Wali Kota Sorong yang pensiun dan saya yang sekarang sudah menjadi wali kota hampir 8 tahun, kami sudah melarang dan mengimbau tidak mengeluarkan izin pengelolaan galian C. Saya khawatir pihak ketiga yang melalukan pengelolaan galian C ini mendapatkan izin dari pihak tertentu dan lembaga tertentu akhirnya mereka merasa diri kuat dan seolah semaunya tidak mempertimbangkan lingkungan maupun warga,”ungkapnya.

Lambert menegaskan izin galian C tidak dikeluarkan oleh Wali Kota Sorong, jika dirinya mengeluarkan izin, maka akan mempertimbangkan dampak keamanan lingkungan, mengingat dirinya mengetahui persis perkembangan Kota Sorong. “Itu bukan kewenangan saya, galian C ini sudah diatur melalui regulasi dan UU,”terangnya.

Namun, dalam 4 tahun terakhir ini, tambah Lambert tiba-tiba izin Galian C keluar dan bukan ditandatangi Wali Kota Sorong tetapi pihak lain. Ia mengimbau kepada pihak terkait yang menandatangani izin Galian C agar terlebih dahulu turun ke lapangan dan membuat study kelayakan. Galian C harus diolah, sehingga sadar atau tidak pembuangan limbah endapan akan terjadi dimana-mana dan menutupi drainase. “Masa salahkan wali kota, jangan kah. Mari bergandengan tangan untuk melihat Kota Sorong. Kota Sorong dalam 10 tahun ke depan akan terjadi lumpur sama seperti di Sidoarjo dan akan terjadi kemacetan lebih parah dari Jakarta,”terangnya.

 “Ini karena ada masalah pribadi. Banjir masalah alamiah terjadi secara alamiah dan pembangunan di negara ini baik di provinsi, kabupaten maupun kota kewenangan dibagi habis, ada yang menjadi tanggung jawab presiden, gubernur, maupun bupati dan wali kota. Balai Air dan Balai Jalan tolong perhatikan drainase dari Km 0 hingga Km 18, karena itu bukan kewenangan wali kota,” tandasnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed